Investasi Masa Depan Itu Bernama Budaya Digital

Thursday, 18 November 21 Venue
Virtual Show Management

Transformasi digital memunculkan budaya baru, yaitu budaya digital. Menurut Okky Alparessi, Model, Dosen dan Pemenang L-Men of The Year 2020, parameter budaya digital menciptakan keterhubungan antara satu dengan yang lain melewati batas wilayah dan budaya hingga terjalin jejaring yang memungkinkan untuk melakukan kolaborasi dalam meningkatkan pengetahuan dan menciptakan inovasi.

“Dalam konsep pendidikan, budaya digital sangat strategis dan menjadi investasi masa depan,” kata Key Opinian Leader itu dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Rabu (17/11/2021). Hal itu, kata dia, dikarenakan dapat menciptakan sumber daya manusia yang berdaya cipta, berjejaring, bekerjasama, dan berdaya tahan terhadap krisis atau perubahan yang terduga.

“Teknologi informasi menjadi sumber pembelajaran pengetahuan yang dapat diakses secara mudah. Media digital menjadi sarana berjejaring dan berkolaborasi, menciptakan kebiasaan berdiskusi bertukar pikiran mengenai bahan pembelajaran agar cara kerja pikiran dan perasaan tidak kalah canggih dari cara kerja komputer dan internet,” ujar Okky.

BACA JUGA:   Agar Data Pribadi Aman, Begini Cara Menjaganya

Budaya digital, lanjut dia, tak luput dengan risiko-risikonya. Ruang digital menjadi tempat perjumpaan dengan banyak manusia, pengetahuan, aliran dan kepentingan. Artinya ada kerentanan perbedaan sehingga harus cakap mengantisipasi dan mengelola risikonya.

“Dalam pendidikan digital, risiko harus dikenali, dipahami, dicegah, dan dikelola baik secara pribadi maupun secara bersama oleh komunitas pendidikan,” kata Okky.

Selain itu, lanjutnya, setiap interaksi itu selalu berlandaskan pada etika baik itu ketika berada di dunia nyata pun di dunia digital, ada aturan yang harus dipedomani agar tercipta lingkungan digital yang nyaman.

Ada etika yang merupakan sistem nilai dan norma moral yang menjadi pegangan dalam mengatur tingkah lakunya baik ketika berinteraksi di dalam kelompok atau antar individu. Ada etiket atau tata cara berinteraksi dengan masyarakat, kita harus selalu menyadari bahwa di ruang digital pun menghadapi karakter manusia nyata.

BACA JUGA:   Hoaks Terkait Covid-19 Lebih ‘Mematikan’ dari Virus

“Kita semua manusia bahkan sekalipun di dunia maya, maka ikutilah aturan seperti halnya di dunia nyata. Jangan seenaknya sendiri karena itu berisiko, ada jejak digital yang tidak bisa hilang. Maka hati-hati dalam bertindak, berkomentar dan menulis,” kata Okky.

Bermacam fasilitas di internet memungkinkan seseorang untuk bertindak etis juga tidak etis. Dalam berkomunikasi di media sosial misalnya jangan sampai menyebar tangkapan layar percakapan privat ke ruang publik atau kepada orang lain. Hal ini selain melanggar etika juga melanggar privasi orang lain, bila diusut hal tersebut masuk ke ranah UU ITE.

“Dalam berkomunikasi di media sosial etiket yang harus dipahami adalah tidak membawa isu SARA, cermat dan bijak memilih stiker dan emoji. Saat berkomunikasi melalui e-mail harus disampaikan dengan bahasa yang sopan, diawali dan diakhiri dengan salam, menggunakan huruf kapital sesuai keperluannya, serta mengisi subjek e-mail dan mengenalkan diri ketika itu dikirim ke orang yang tidak dikenal, atau keperluan formal lainnya,” urainya.

BACA JUGA:   Internet, Kebutuhan Bukan Keharusan

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).