Marak Cyberbullying, Waspadai Amigdala

Tuesday, 14 September 21 Venue

Akhir-akhir ini marak terjadi cyberbullying di dunia digital. Banyak korban yang akhirnya terdampak hingga menurunnya kesehatan mental.

“Sayangnya, masih banyak juga pelaku bullying yang tidak sadar dampak perbuatannya terhadap korban,” kata Ziadatul Hikmia, dosen psikologi di Universitas Brawijaya dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, Senin (13/9/2021).

Cyberbullying, kata Ziadatul, merupakan perundungan yang dilakukan melalui teknologi digital, seperti media sosial, medai pesan, ponsel dengan tujuan untuk menakuti korban, membuat marah, atau mempermalukan.  “Jenis cyberbullying ini pun beragam, mulai dari trolling, doxing, exclusion, harassment, cyberstalking, hingga impersonating.”

Trolling, kayta dia, merupakan komentar yang sengaja dibuat untuk memicu amarah atau memprovokasi. Doxing merupakan penyebaran informasi pribadi sensitif milik orang lain. Exclusion yakni pengucilan terhadap seseorang.

BACA JUGA:   Buat tak Nyaman Orang Lain di Medsos, UU ITE Menanti

Zia melanjutkan, terdapat harassment atau ganguan secara terus menerus yang merugikan korban. Kemudian, cyberstalking atau menguntit seseorang secara online. Lalu, impersonating yakni perilaku meniru atau menjiplak identitas seseorang dengan tujuan merusak reputasi orang tersebut.

Dia mengatakan, dari statistik data, sebagian besar cyberbullying dilakukan di Instagram. “Hal ini karena Instagram merupakan platform yang mengedepankan visual (foto). Jadi, mudah bagi orang untuk berkomentar negatif atau julid. Selain itu, prestasi akademik, ras, seksualitas, status finansial, agama, dan hal lainnya menjadi target bullying di dunia digital,” tuturnya.

Selain menjadi victim atau korban, secara tidak sadar kita juga bisa menjadi pelaku bully. “Seseorang bisa menjadi pelaku bully karena adanya amigdala dalam otak.”

BACA JUGA:   Membangun Budaya Digital Melalui Kecerdasan Masyarakat

Amigdala ini, lanjut Zia, mengatur emosi. “Cara kerja amigdala ini lebih cepat dibandingkan logika manusia. Hanya membutuhkan waktu satu detik bagi seseorang apakah orang tersebut benci atau suka terhadap sesuatu.”

Oleh karena itu, kata Zia, seseorang bisa membenci orang lain di internet karena amigdala yang bekerja lebih dulu tanpa diproses oleh logika. ”Alasan lainnya bisa karena iri, proyeksi untuk menutupi kelemahan diri, dan ketidaktahuan yang menyebabkan kebencian.”

Agar tidak menjadi pelaku bully, Zia meminta untuk selalu mengingat reputasi. Apalagi apa yang di-posting secara online bersifat permanen dan bisa dilacak kapanpun. “Kemudian, gunakan empati kita terhadap seseorang, hindari berdebat di dunia maya, dan berhenti mengikuti seseorang hanya untuk berkomentar negatif,” kata Ziadatul.

BACA JUGA:   Mempertanggungjawabkan Kebebasan di Ruang Digital

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).