Masuk ke Ranah Audio, Rambah Dunia Podcast

Tuesday, 14 September 21 Venue

Selain YouTube, saat ini kebanyakan dari kita mulai menikmati konten-konten Podcast. Hal itu dikatakan Dera Firmansyah, Pemilik Podcast Teman Tidur, dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Senin (13/9/2021).

“Itu dibuktikan dengan tren pendengar Podcast di Indonesia yang telah menanjak meski belum sebanyak viewers video-video para Youtubers,” kata dia.  

Menurut Dera, terjun ke ranah Podcast tidak ada ruginya untuk dicoba. Sebab, ada beberapa hal yang bisa didapatkan saat merambah dunia Podcast. “Meskipun tren Podcast belum bisa mengalahkan YouTube, tapi media kreatif yang satu ini tidak bisa dianggap remeh. Dapat dilihat dari perkembangannya yang semakin hari semakin meroket,” ujarnya.

Dera mengatakan, kalau soal penggemar jangan ditanya lagi. “Pendengar Podcast diprediksi akan semakin meningkat di tahun mendatang,” kata dia.

Menurutnya terdapat beberapa faktor yang bisa dijadikan pertimbangan untuk masuk ke ranah berbasis audio ini, di antaranya:

  • Konten audio dapat dinikmati kapanpun bahkan di saat sibuk.
BACA JUGA:   Jangan Pandang Remeh Kekuatan Media Sosial

Tidak seperti YouTube, konten Podcast sepenuhnya adalah audio. Sudah pasti kekurangan dari media yang satu ini salah satunya tidak adanya tampilan visual yang memanjakan mata. Namun, di balik itu semua Podcast justru memiliki kelebihan. Layaknya radio, Podcast dapat dinikmati saat kita sibuk bekerja atau belajar lewat smartphone atau tablet. Ini karena kita hanya mendengar suara dari Podcaster yang cuap-cuap saja tanpa perlu melihat visual apapun.

  • Tak perlu modal besar untuk membuat Podcast, bisa manfaatkan smartphone.

Selain dapat dinikmati lewat smartphone, bisa menciptakan konten Podcast sendiri dengan perangkat pintar yang dipunya. Buat kamu yang punya modal seadanya tak perlu risau. Kamu bisa memanfaatkan earphone yang dilengkapi mikrofon untuk merekam suara. Untuk kebutuhan rekaman serta edit audio bisa memakai aplikasi bawaan atau mengunduh di toko aplikasi. Jangan lupa unduh aplikasi yang berfungsi mengunggah hasil rekaman.

  • Waktu yang fleksibel dalam menciptakan konten.
BACA JUGA:   Copywriting, ‘Salesman’ di Jual Beli Online

Meski mirip seperti radio, membuat konten Podcast dapat dilakukan kapan saja. Tak seperti radio yang memiliki jadwal tetap, kita dapat melakukan rekaman memanfaatkan waktu senggang. Fleksibilitas menggarap konten memudahkan kita mengatur waktu sehingga aktivitas lain tak sampai terganggu. Namun perlu diingat bahwa meski fleksibel, mengatur kapan waktunya menciptakan konten baru tetap diperlukan agar makin banyak pendengar tertarik pada Podcast.

  • Peluang untuk dikenal banyak orang dan menambah relasi

Meski hanya menyapa lewat suara buka berarti seorang Podcaster tidak punya peluang dikenal banyak orang. Justru, dari suara serta konten-konten menarik yang dibawakan mencuatkan rasa penasaran di benak pendengar. Dari hal tersebut, orang akan mencari tahu siapa di balik konten Podcast. Selain dikenal pendengar, Podcast juga membuka kesempatan untuk bekerja sama dengan berbagai pihak yang bahkan belum pernah ditemui sebelumnya.

  • Kesempatan meraup pundi-pundi uang

Menciptakan konten-konten menarik secara konsisten tak hanya mendatangkan lebih banyak pendengar. Kerjasama yang bernilai uang juga terbuka. Meski belum penerapan iklan layaknya video di YouTube, kamu tetap bisa memperoleh pemasukan dengan mengambil tawaran mengiklankan produk tertentu.

BACA JUGA:   Terapkan ‘Berhenti Sejenak’ Saat Bermedsos

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).