Mengurangi Dampak Buruk Internet Pada Anak

Wednesday, 06 October 21 Venue

Teknologi digital merupakan suatu hal yang mempengaruhi aspek kehidupan manusia di seluruh dunia baik anak-anak maupun dewasa. Namun, keberadaan teknologi ini nyatanya tidak selalu membawa pengaruh baik, tetapi ada juga pengaruh buruknya.

Menurut Anggia Kalista, Ketua Prodi Teknik Industri UNIROW Tuban, dampak positif internet bagi anak-anak, yakni mudah mendapatkan informasi dan pengetahuan baru, bisa belajar keahlian lain, anak bisa belajar dengan cara yang menyenangkan, hingga menstimulasi kemampuan bahasa dan literasi anak.

“Akan tetapi, dampak buruknya anak lebih senang bermain gawai, anak kehilangan kemampuan bersosialisasi, dan mengalami kecanduan,” kata dia dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Selasa (05/10/2021).

Menurut dia, tugas sebagai orangtua atau orang yang lebih dewasa di sini adalah mengurangi dampak buruk atau merugikan bagi anak-anak. “Kita harus bisa memperluas dampak baik teknologi digital pada anak,” ujar dia.

BACA JUGA:   Promosi Pariwisata Melalui Medsos Sasar Milenial Traveler

Anggia mengatakan, mencegah kecanduan digital pada anak hal yang harus dilakukan. Pertama, berkomunikasi dengan anak. Hal ini karena komunikasi merupakan salah satu cara mendidik anak di era digital. Kedua, mendampingi anak saat bermain gawai untuk menghindari anak mengakses konten atau informasi yang tidak sesuai dengan usianya. Ketiga, membuat aturan penggunaan gawai dengan kebiasaan dan gaya pola asuh yang dilakukan di rumah.

Keempat, mengatur batasan screen time atau waktu bermain gawai. Karena semakin lama anak menatap layar gawai semakin besar juga kemungkinan ia terpapar konten yang tidak sesuai usianya. Kelima, menyeimbangkan waktu bermain di dunia nyata dan dunia maya untuk menjaga dan melatih motorik anak. Keenam, memantau aktivitas anak di dunia maya, seperti riwayat akses konten.

BACA JUGA:   Kendalikan Diri, Hindari Gaya Hidup Konsumtif

“Kita bisa menggunakan family link untuk memantau kegiatan anak, membatasi waktu bermain, dan lainnya. Kita bisa lihat apa saja yang anak lakukan dengan aplikasi family link,” ujar Anggia.

Pinjamkan gawai sesuai kebutuhan anak, tetapi bukan berarti orangtua melepasnya begitu saja tanpa pengawasan. Hal terpenting yang perlu orangtua lakukan adalah menjadi contoh yang baik bagi anak. “Orangtua merupakan seorang role model bagi anak, anak akan menirukan apapun yang orangtua lakukan. Oleh karena itu, jangan terlalu sering menggunakan gawai di depan anak.”

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

BACA JUGA:   Memproteksi Perangkat dan Identitas Digital

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).