Ruang Siber, Tempat Istimewa Teroris Temukan Sumber Daya Baru

Thursday, 25 November 21 Venue

Perkembangan dan inovasi dunia teknologi informasi menyediakan kemungkinan baru bagi para teroris. Ruang siber adalah lingkungan yang serba terbuka, menjadi tempat istimewa bagi para teroris untuk menemukan sumber daya baru.

“Juga Memungkinkan mereka menjalankan aktivitas propaganda,” kata Moh. Syauqi Fath, Pegiat Media Sosial, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, Rabu (24/11/2021).

Menurutnya, ada banyak alasan mengapa internet menjadi ruang berskala global yang dinilai aman untuk melakukan serangkaian aksi bahkan perekrutan anggota. Di antaranya karena internet menawarkan akses yang relatif sederhana dan kini jangkauannya sudah sangat luas global.

Anonimitas, menyembunyikan identitas, sangat mungkin untuk dilakukan dan hal itu menjadi keuntungan besar bagi organisaisi teroris untuk melindungi dirinya. “Biaya akses internet yang dari waktu ke waktu semakin murah dan terjangkau membuat para teroris juga bisa bergerak dengan dana terbatas,” kata Moh.Syauqi.

BACA JUGA:   Tantangan Pemuda di Era Digital

Sekelompok teroris, lanjut dia, dapat mengatur kampanye propaganda yang efisien tanpa harus mengeluarkan biaya yang terlampaui besar. Kelompok seperti ISIS adalah representasi dari para militan beringas yang sangat menguasai teknologi informasi dibanding kelompok jihadis pendahulunya, setidaknya untuk saat ini.

“Hampir semua kelompok militan Timur Tengah memiliki media propaganda,” kata Syauqi. Menurut dia,

kelompok ISIS jelas menunjukkan penguasaan teknologi yang hebat dan pengetahuan mendalam tentang teknik komunikasi. Setiap video yang dirilis dengan sengaja memperlihatkan proses eksekusi para musuh.

BACA JUGA:   Mempersiapkan Rekam Jejak Digital

“Mereka dengan rapi membuat muatan-muatan yang berisi ajakan bergabung. Muatan-muatan itu dipersiapkan dengan seksama agar dapat menjangkau jumlah penonton sebanyak-banyaknya,” ujar dia.

Media sosial yang populer seperti Facebook dan Twitter, kata Syauqi, tidak luput dari jangkauan ISIS. Media-media sosial tersebut digunakan untuk menyebarluaskan produksi konten propaganda hingga meraup dana dari para simpatisan. Aspek interaksi yang disediakan media sosial, termasuk aplikasi pesan singkat, memang memudahkan kegiatan para teroris berinteraksi.

“Tersedianya ruang membuat grup-grup di berbagai aplikasi pesan singkat memungkinkan mereka melakukan propaganda untuk merekrut anggota,” kata Syauqi.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

BACA JUGA:   Internet Tempat Menyalurkan Bakat dan Kreativitas

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).