Cara Mengatasi Anak Yang Kecanduan Game

Friday, 06 August 21 Venue

Game online sangat digandrungi anak-anak. Namun, orangtua harus waspada karena kecanduan game dapat memberikan efek negatif untuk tumbuh kembang anak. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), kecanduan game atau bermain game secara kompulsif bisa dikategorikan sebagai gangguan mental. Apabila kondisi ini dibiarkan, maka dapat mengganggu hubungan keluarga dan sosial, pendidikan, serta fungsi normal lainnya.

“Kecanduan game pada anak dapat mengubah perilaku anak, sama seperti kecanduan obat-obatan terlarang atau alcohol,” kata Zulham Mubarak, Ketua Umum Milenial Utas & Komisaris Sangkar Garuda Sakti, dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur, Rabu (4/8/2021).

Zulham mengatakan, terdapat beberapa akibat buruk yang terjadi pada anak yang kecanduan game yaitu munculnya perilaku agresif, mudah marah, berkurangnya jam tidur, tidak bertanggung jawab terhadap tugas, serta tak mau bersosialisasi.

Untuk mengatasi hal itu, kata dia, terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi anak yang kecanduan game, yaitu:

  • Jelaskan bahwa kehidupan nyata lebih penting dibanding game.
BACA JUGA:   Kiat Pelaku Ekonomi Kreatif Beradaptasi di Masa Pandemi

Perlu menjelaskan kepada si Anak, game hanyalah hiburan. Jelaskan pula game bukanlah pusat kehidupannya. Orangtua perlu memaparkan kepadanya, pada usia sekarang ini, kemenangan di kehidupan nyata, lebih penting. Seperti mendapatkan nilai bagus atau mendapatkan uang.

  • Tetapkan waktu bermain yang wajar.

Orangtua juga harus tegas dalam menangani anak yang sudah kecanduan bermain game. Katakan ia boleh bermain setidaknya satu jam pada saat hari sekolah. Perbolehkan ia bermain dua hingga tiga jam total pada saat hari libur. Hal ini masih dianggap wajar sebagai rentang waktu anak dalam bermain.

  • Berikan game sebagai reward.

Orangtua bisa mulai membiasakan anak bermain game saat ia mendapatkan nilai sesuai kesepakatan. Atau bisa juga saat ia sudah selesai melakukan semua tugasnya dalam pekerjaan rumah, atau selesai membantu pekerjaan. Jika hal itu dilanggar, tegaskan ia hanya boleh bermain game pada saat akhir minggu misalnya. Atau kurangi jamnya jika ia melanggar peraturan.

  • Bantu anak mengingat waktu serta membatasinya.
BACA JUGA:   Pemerintah Pantau Akun dan Konten Radikalisme

Game seperti ini biasanya didesain agar pemainnya memang melupakan waktu dan tenggelam di dalamnya. Tuntutannya untuk mengejar level misalnya, bisa jadi membuat pemainnya merasa baru satu jam bermain, padahal ia telah menghabiskan waktu tiga jam. Jadi, bisa saja si Anak memang lupa dengan perjanjian rentang waktu yang telah disepakati bersama. Orang tua bisa mengingatkan si Anak seberapa lama ia telah bermain.

  • Letakkan komputer di tempat yang terlihat.

Jangan biarkan komputer berada di kamarnya. Letakkan komputer di ruang keluarga misalnya. Atau di sudut rumah tempat semua orang bisa melihat komputer tersebut. Dengan demikian anak akan sadar bahwa ia selalu berada dalam pengawasan orang lain. Orangtua juga bisa lebih mudah mengingatkannya jika ia terlalu tenggelam dalam permainannya.

  • Kenalkan anak pada kegiatan yang menyenangkan.
BACA JUGA:   Memanfaatkan Internet Untuk Menjual Produk Ke Luar Negeri

Agar perhatiannya teralih dari game, cobalah mengenalkan anak pada kegiatan lain. Misalnya kegiatan olahraga seperti masuk ke dalam klub renang, bermain bola. Atau ajak ia bermain sepeda dan berlari.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).