Tantangan Kebebasan Berekspresi di Era Digital

Sunday, 05 December 21 Venue
Work From Hotel Holiday Inn Express Jakarta Matraman

Pengguna internet di Indonesia pada awal 2021 ini sudah mencapai 202,6 juta jiwa. Dari data itu, menurut

Darwin Tenironama, Managing Director IMS Hospitality Management Consulting, diketahui pula ada waktu selama 7 jam 59 menit rata-rata untuk penggunaan internet, di mana 3 jam 26 menit rata-rata digunakan bermedia sosial.

“Indonesia selalu masuk peringkat 5 besar pengguna terbanyak media sosial di dunia dan kebanyakan generasi muda yang menggunakan untuk mendapatkan informasi dan menyuarakan pandangan mereka mengenai berbagai isu,” ujarnya dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, Jumat (03/12/2021).

Media sosial, kata dia, ibarat pisau bermata dua karena bisa juga untuk penyebaran kampanye hitam hingga ujaran kebencian. “Dari sinilah kita menghadapi apa yang disebut sebagai tantangan kebebasan berekspresi di era digital karena tingginya pengguna medsos di Indonesia ini akan meningkatkan penyebaran hoaks, konten negatif, pesan provokasi dan ujaran kebencian yang bisa menimbulkan konflik antar anak bangsa,” ujar Darwin.

BACA JUGA:   Data Pribadi Perlu Dilindungi, Ini Alasannya

Di satu sisi, pola komunikasi di Indonesia dalam bersosial media masuk kategori 10-90 yaitu hanya 10 persen pengguna yang memproduksi informasi.  Sedangkan 90 persen cenderung mendistribusikannya. “Dengan tingkat literasi yang seperti ini membuat arus informasi di media sosial cenderung rentan diwarnai konten negatif dan menjadi sumber utama konten negatif,” kata dia.

Darwin mendorong pengguna media sosial dapat menjalankan kebebeasan berekspresi secara bertanggung jawab. Dengan cara menghindari opini provokatif, karena opini sesuatu yang sangat penting dalam ruang informasi.

“Kita tidak tahu apa yang kita sampaikan itu belum tentu bisa diterima semua kalangan, makanya hindari opini provokatif dengan cara sebelum berpendapat ketahui lebih dahulu informasinya secara dalam agar opini jelas dan terarah,” tuturnya.

Selain itu, kebebeasan berekspresi yang bertanggung jawab juga bisa dilakukan dengan memikirkan kembali pendapat yang akan disampaikan. “Sebab terkadang dalam menyampaikan pendapat, kita tidak memikirkan terlebih dahulu dampak yang timbul, jadi sebaiknya dipikirkan matang dan disampaikan dengan bahasa yang baik dan sopan,” ujar Darwin.

BACA JUGA:   Cybercrime, Begini Cara Mencegahnya

Dia pun mendorong dalam membagikan informasi di ruang digital, pikirkan apakah informasi yang dibagikan adalah benar dan fakta. “Pikirkan, apakah postingan kita akan menyakiti perasaan orang lain, pastikan apa postingan kita melanggar hukum, lalu apakah informasi tersebut memang perlu dibagikan, apakah bahasanya sudah santun.”

Indonesia, kata dia, memiliki 17.500 pulau, memiliki 1331 suku etnis, juga 741 bahasa daerah serta 245 aliran kepercayaan dan 6 agama resmi. Keragaman masuk dalam dunia digital yang menyatu dengan keseharian kita, maka perlu kita perhatikan benar interaksi kita di ruang itu.

Darwin mengatakan, hakikat teknologi prinsipnya untuk membantu kehidupan manusia. Jadi pahami karakter warga digital yang tidak menyukai aturan yang mengikat, tidak ragu untuk download dan upload, suka mengekspresikan diri, dan yang model belajarnya bukan atas dasar intruksi melainkan mencari.

BACA JUGA:   Cara Menekan Risiko Penipuan Investasi Online

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).