Agar Turis Tinggal Lebih Lama di Tarakan

Monday, 16 November 20 Harry Purnama
Kalimantan Utara_Pembangunan di Kota Tanjung Selor_1_dok Venue_Erwin Gumilar

Tarakan sebagai ibu kota Kalimantan Utara memiliki tagline “Kota Jasa dan Perdagangan”. Pasalnya, perekonomian di Tarakan mayoritas disokong oleh sektor pertambangan dan perikanan. Karenanya, banyak perusahaan besar beroperasi di Tarakan dibanding kota lain di Kalimantan Utara. Kehadiran perusahaan-perusahaan tersebut juga diikuti dengan bermunculannya hotel-hotel di Tarakan untuk mengakomodir keperluan meeting dan bisnis korporat yang ada di Tarakan.

Hal tersebut diungkapkan oleh dr. Khairul, M.Kes., Wali Kota Tarakan, saat membuka musda (musyawarah daerah) pembentukan BPD PHRI Kalimantan Utara pada 14 November 2020.

“Tarakan sebagai kota jasa dan perdagangan selama ini hotel-hotelnya paling banyak digunakan untuk bisnis dan meeting. Bahkan, hotel-hotel di sini kadang disewa untuk kantor perusahaan tambang yang ada di sini,” ujar Khairul.

Ironisnya, menurut Khairul, hotel-hotel di Tarakan kesulitan untuk menangkap pasar wisatawan leisure. Pasalnya, Tarakan hanya dijadikan destinasi perantara oleh wisatawan untuk menuju ke Pulau Derawan.

“Wisatawan dari Sabah banyak yang terbang ke Tarakan, lalu langsung menuju ke Derawan menggunakan speed boat,” ujar Khairul.

Untuk itu, sejumlah strategi dijalankan Pemkot Tarakan agar kota ini juga ramai oleh wisatawan leisure, salah satunya dengan membuat 56 Calendar of Event di awal tahun 2020 agar kunjungan ke Tarakan meningkat dan berdampak pada sektor hotel dan restoran. Sayangnya, pandemi COVID-19 membuat banyak acara tersebut dibatalkan.

Tak hanya itu, pemkot Tarakan juga akan menata sejumlah kawasan wisata yang ada di Tarakan. “Sejak 2019 kita mulai menggarap Pantai Amal supaya menjadi ikon wisata baru di Tarakan. Diharapkan tahun 2021-2022 pantai ini bisa selesai,” ujar Khairul.

Khairul menambahkan, Tarakan tak hanya memiliki wisata alam, tapi juga wisata sejarah Perang Dunia II dan wisata kuliner. “Tarakan ini kota yang multi-etnis, dan berbagai etnis itu memiliki kuliner tersendiri,” ujar Khairul.

“Dengan program-program yang kita lakukan, kita harapkan mereka akan stay lebih lama di Tarakan, 1-2 hari, baru mereka menuju destinasi lain,” ujar Khairul.

Apalagi, pertumbuhan ekonomi di Tarakan sangat tinggi. Pada tahun 2019, pertumbuhan ekonomi Tarakan mencapai 7,63 persen, jauh di atas pertumbuhan nasional yang 5 persen. Selain itu, tingkat inflasi juga menurun, yakni dari 10 persen pada 2018 menjadi 4,3 persen pada 2019.

“Dengan pertumbuhan yang sangat tinggi dan inflasi yang rendah, kami harapkan daya beli masyarakat menjadi meningkat,” tutup Khairul.