Jakarta, Venuemagz.com – Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) Teuku Riefky Harsya menerima audiensi Aliansi Industri Event Nasional di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, 1 Juli 2026. Pertemuan tersebut membahas penguatan industri event sebagai bagian ekosistem ekonomi kreatif melalui penguatan data industri, kompetensi SDM, serta pengukuran dampak ekonomi penyelenggaraan event.
Teuku menegaskan bahwa masukan dari pelaku industri menjadi bagian penting dalam menjawab berbagai tantangan ekosistem ekonomi kreatif, termasuk sektor event yang berperan menghubungkan berbagai subsektor kreatif.
“Selama ini Kementerian Ekraf berupaya mengurai berbagai permasalahan yang ada di ekosistem ekonomi kreatif. Apa yang disampaikan Aliansi Industri Event Nasional hari ini semakin memperjelas kebutuhan akan pendekatan yang komprehensif dan kolaborasi untuk membangun industri yang berkualitas, berkelanjutan, terukur, dan berdampak,” ujar Teuku.
Teuku menilai industri event memiliki peran strategis karena menjadi ruang kolaborasi berbagai subsektor kreatif sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi secara luas. Karena itu, penguatan data dan instrumen pengukuran dampak diperlukan agar kontribusi industri event dapat terukur secara lebih jelas, tidak hanya dari sisi penyelenggaraan, tetapi juga manfaat ekonominya.
“Setiap program yang menggunakan anggaran negara tentu perlu melihat hasil yang dihasilkan. Karena itu, kita perlu memperkuat cara mengukur kontribusi ekonomi kreatif, termasuk event, agar dampaknya dapat terbaca secara lebih terukur,” tambah Teuku.
Aliansi Industri Event Nasional beranggotakan IVENDO (Dewan Industri Event Indonesia), Forum Backstagers Indonesia, APMI (Asosiasi Promotor Musik Indonesia), AFJI, IMARINDO (Ikatan Manajer Artis Indonesia), Rental Indonesia, serta perwakilan event owner. Pada audiensi tersebut, Aliansi Industri Event Indonesia menyerahkan White Paper Kebijakan Industri Event Indonesia sebagai rekomendasi strategis untuk memperkuat industri event nasional.
Andro Rohmana, Ketua Umum Forum Backstagers Indonesia, mengatakan, industri event berperan penting dalam menggerakkan ekonomi dan kreativitas. Namun, menurutnya, sektor ini masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari pengakuan kelembagaan, klasifikasi usaha, standardisasi profesi, hingga pengukuran dampak ekonomi.
“White Paper ini kami susun dengan semangat dari tidak terlihat menjadi tak tergantikan. Industri event selama ini telah menjadi bagian penting dari ekosistem ekonomi kreatif, namun masih membutuhkan penguatan agar memiliki fondasi kelembagaan yang lebih jelas,” ujar Andro.
Aliansi Industri Event Nasional juga menyampaikan sejumlah isu strategis, antara lain penguatan klasifikasi usaha melalui data industri, pengembangan sertifikasi kompetensi, pendekatan pengadaan berbasis nilai manfaat (best value for money), perizinan berbasis risiko, serta pengembangan instrumen pengukuran dampak ekonomi event.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Ekraf menyatakan bahwa berbagai masukan akan ditindaklanjuti melalui pembahasan teknis bersama unit terkait, mencakup penguatan data industri, peningkatan kompetensi dan sertifikasi SDM, pengembangan instrumen pengukuran dampak ekonomi event, serta peluang kolaborasi dalam rangkaian World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026.





