“Nanti itu trennya orang tidak akan pergi jauh-jauh untuk berwisata. Kalau pun mau ke luar negeri, paling ke negara-negara terdekat saja. Seperti contohnya, usai COVID-19 ini akan banyak orang China yang lebih memilih ke Korea untuk jalan-jalan ketimbang ke negara lainnya,” dia menjelaskan.
Hermawan berharap pemerintah tidak akan menyepelekan kekuatan wisatawan domestik dalam pariwisata Indonesia. Meskipun dianggap tidak menghasilkan devisa terlalu besar, namun kehadiran wisatawan domestik mampu menunjukkan makna quality tourism yang sesungguhnya.
“Untuk mendapatkan quality tourism juga harus memiliki destinasi yang berkualitas. Jika sudah begitu, orang-orang di dalamnya juga akan berkualitas,” ucap pakar marketing dunia ini.
Quality tourism juga berhubungan dengan keamanan, kesehatan, dan wisata yang berkelanjutan. Dalam hal ini, faktor alam, kebudayaan, dan ekonomi lokal harus dipersiapkan semaksimal mungkin karena banyak wisatawan yang menyukai hal tersebut.
“Kita lihat backpacker, walaupun mereka tidak menghasilkan devisa terlalu besar, tetapi mereka itu termasuk turis berkualitas. Kebanyakan dari mereka itu pro terhadap alam dengan tidak membuang sampah sembarangan,” ungkapnya.
Selain itu, mereka juga peduli terhadap kebudayaan dan ekonomi lokal setempat. Misalnya saja dengan menginap di homestay, membeli barang-barang lokal, mengonsumsi makanan khas lokal, hingga mengetahui lebih dalam cara pembuatan makanan dan barang-barang khas daerah tersebut.
Dengan perubahan tren dan perilaku wisatawan ini, Hermawan menyarankan agar pelaku usaha pariwisata menyiapkan faktor-faktor yang dibutuhkan tersebut. Apalagi, di masa krisis seperti ini, sudah saatnya pelaku pariwisata mempersiapkan hal-hal apa saja yang dibutuhkan untuk bertahan usai COVID-19 berlalu.
“Turis yang menuntut hal tersebut tentu sangat potensial karena mereka rela mengeluarkan uang lebih untuk mendapatkan itu semua. Destinasi yang berkualitas, berarti memiliki value lebih di dalamnya. Prinsipnya adalah value apa saja yang akan mereka dapat setelah traveling. Itulah quality tourism,” jelasnya.





