Dua Poin Penting Untuk Membuka Kembali Pariwisata Indonesia

Monday, 03 August 20 Bonita Ningsih

Pemerintah Indonesia telah siap membuka kembali pariwisata yang tersebar di berbagai daerah. Frans Teguh, Plt. Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, mengatakan, pembukaan pariwisata dilakukan secara bertahap dan hati-hati untuk menghindari penyebaran virus COVID-19.

Pembukaan pariwisata di tengah pandemi COVID-19 memang tidaklah mudah. Menurutnya, diperlukan partisipasi oleh semua pihak dalam melaksanakan protokol kebersihan, kesehatan, dan keamanan yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat dan pemerintah setempat. Setiap masyarakat harus memiliki tingkat kesadaran yang tinggi untuk dapat melaksanakan protokol tersebut.

“Saya kira ini menjadi tantangan kita bersama, partisipasi publik dan stakeholder itu menjadi kunci utama. Dengan begitu, turis yang akan datang ke sebuah destinasi wisata pun sudah paham dengan protokol yang ada,” ungkap Frans.

Untuk menumbuhkan kesadaran diri seluruh pelaku pariwisata, Frans menyebutkan ada dua poin penting yang harus dilakukan. Poin pertama ialah dilakukan edukasi dan yang kedua ialah sosialisasi terkait pelaksanaan protokol Cleanliness, Health and Safety (CHS).

“Edukasi menjadi poin penting untuk kesadaran publik terkait pelaksanaan CHS ini. Untuk itu, kami memberikan perhatian sangat serius kepada teman-teman daerah, seperti dinas pariwisata setempat,” ujarnya lagi.

Menurutnya, edukasi ini sudah dilakukan sejak dini sebelum memutuskan pariwisata di suatu daerah akan kembali dibuka. Hal ini dilakukan agar seluruh pelaku wisata di daerah menjalankan aspek-aspek terkait protokol kesehatan, kebersihan, dan keamanan, secara baik dan benar.

“Kita ingin memastikan semua ini dari awal. Bagaimana upaya-upaya yang dilakukan pemerintah daerah dan pengelola destinasi wisata daerah memerhatikan aspek-aspek tersebut dan menjalankan panduan CHS,” katanya.

Sementara itu, poin kedua yang tidak kalah penting dilakukan ialah dengan cara sosialisasi. Menurutnya, dengan dilakukan sosialisasi, pelaku pariwisata di setiap daerah dapat dengan mudah memahami dan menjalankan protokol CHS. Dengan begitu, pariwisata daerah dapat segera tumbuh dan berkembang karena sudah terjamin keamanan dan kenyamanan selama berwisata.

“Pariwisata akan hadir dan tumbuh jika ada pasar, pergerakan, dan kunjungan di dalamnya. Jadinya, kalau semua protokol sudah dijalankan, maka akan memengaruhi kehadiran para visitor atau wisatawan ke daerah-daerah,” ucapnya.

Langkah ini juga dilakukan untuk memberikan rasa percaya yang tinggi bagi para wisatawan yang akan hadir pada sebuah destinasi. “Kita harus gaining confidence dari wisatawan domestik dan mancanegara. Kalau mereka sudah percaya, maka akan terjadi pergerakan pariwisata di dalamnya,” dia menambahkan.