Sentimen Positif Jadi Kunci Utama Pemulihan Pariwisata

Monday, 03 August 20 Bonita Ningsih
Kali Suci
Aktivitas Experiential Learning di obyek wisata Kali Suci,Yogyakarta.

Pemerintah Indonesia telah membuka kembali kegiatan pariwisata secara bertahap dan hati-hati. Hal ini dapat dilihat dengan pembukaan keran pariwisata di Bali bagi wisatawan domestik pada akhir Juli 2020 dan wisatawan internasional pada September 2020.

Haryadi Sukamdani, Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), mengatakan, dibukanya pariwisata domestik dapat membantu kembali bisnis di sektor hotel yang sempat mati suri. Meskipun pembukaan pariwisata masih dilakukan dengan pembatasan, ia optimistis bahwa sektor ini dapat kembali pulih seperti dulu kala.

“Pemulihan pariwisata juga dapat terjadi dengan rasa percaya yang tinggi dari masyarakat Indonesia. Oleh karenanya, tingkat kepercayaan itu harus dimiliki oleh seluruh masyarakat di Indonesia,” kata Hariyadi.

BACA JUGA:   BPPD Jakarta Tinggal Menunggu Pengesahan Gubernur

Dari hasil analisis sosial media, masyarakat Indonesia memiliki sentimen positif terhadap sektor pariwisata, disusul dengan masyarakat dari negara Malaysia. Hal ini berbanding terbalik dengan negara-negara ASEAN lainnya yang mencatatkan sentimen negatif terhadap pariwisata di negaranya.

Berdasarkan hasil posting-an di sosial media tersebut, dapat dianalisis bahwa angka sentimen Indonesia berada di angka tujuh persen, sedangkan untuk negara ASEAN lainnya menghasilkan angka sentimen negatif.

“Hal ini dapat diartikan bahwa jika sebuah negara memiliki sentimen positif terhadap pariwisata, maka industri tersebut akan pulih lebih cepat,” ujar Haryadi yang mengutip data dari sebuah lembaga riset.

BACA JUGA:   Dubai, Pasar Hospitality Terkuat Di Timur Tengah Dan Afrika

Dalam hal ini, peran pemerintah juga diperlukan untuk menciptakan sentimen positif bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Beberapa cara yang dapat dilakukan ialah membuat aman dan nyaman seluruh wisatawan yang berkunjung ke suatu daerah. Secara khusus, memastikan protokol kesehatan dapat berjalan dengan baik di sebuah destinasi wisata.

“Intinya kalau pasar ingin dimaksimalkan, selain kehadiran vaksin, regulasi pemerintah dalam penanganan COVID-19 juga harus baik. Itu dulu yang harus diciptakan agar para turis merasa aman dan mau kembali berwisata,” ujarnya lagi.

BACA JUGA:   Panorama JTB Tour Gelar Private Event bagi Pelanggan Setianya

Apalagi, jika dilihat, potensi wisatawan domestik untuk melakukan perjalanan saat ini cukup besar, yakni berjumlah 174 juta orang. Sementara itu, di ASEAN, potensi jumlah turisnya mencapai 49,7 juta.