Meski kunjungan wisatawan Indonesia ke Dubai terus meningkat, masih ada sejumlah tantangan yang menghambat pertumbuhan signifikan, mulai dari visa hingga harga tiket pesawat. Ini strategi Dubai untuk menarik lebih banyak turis Nusantara.
Dubai dikenal sebagai salah satu destinasi impian di Timur Tengah. Namun, mendatangkan lebih banyak wisatawan Indonesia ternyata bukan hal mudah. Meski trennya meningkat, berbagai kendala masih harus diatasi.
Pada 2024, Dubai mencatat kunjungan wisatawan mancanegara mencapai sekitar 18 juta orang. Dari jumlah itu, sekitar 85.000 berasal dari Indonesia, mengalami kenaikan sekitar 15 persen dibandingkan 2023. Angka ini terbilang menggembirakan jika dibandingkan tahun 2019 yang hanya mencatat 48.000 turis Indonesia, dan jauh melesat dari era stagnan 2016-2018 di angka 37.000.
Namun demikian, pertumbuhan wisatawan dari Indonesia mulai menunjukkan perlambatan pada 2024. Salah satu penyebab utamanya adalah dibukanya kembali akses ke negara-negara lain, seperti China, Jepang, dan Turki, yang menawarkan bebas visa bagi WNI.
Salah satu kendala utama yang dihadapi Dubai untuk menarik lebih banyak wisatawan Indonesia adalah persoalan visa. Saat banyak negara menawarkan bebas visa on arrival atau visa transit gratis, Dubai masih mengenakan visa bagi turis dari Indonesia.
“Orang Indonesia cenderung memilih destinasi yang gampang dan murah, terutama dari segi visa. Dulu waktu Turki dan Jepang bebas visa, langsung booming,” ujar Christian Sidharta, Manager Indonesia Dubai Tourism.
Biaya visa turis ke Dubai berkisar antara 70-100 USD, berlaku untuk 30 hari. Meski proses pengajuannya relatif mudah dan hampir pasti disetujui, ada syarat tambahan untuk kategori tertentu, seperti anak-anak di bawah 18 tahun yang hanya bisa masuk bersama orang tua kandung.
Selain itu, harga tiket pesawat juga menjadi pertimbangan besar. Penerbangan langsung dari Indonesia ke Dubai bisa mencapai lebih dari Rp10 juta, yang membuatnya tidak kompetitif dibandingkan tiket ke Eropa atau negara Asia lainnya. Bahkan, di waktu-waktu tertentu, tiket ke Paris bisa lebih murah dibandingkan ke Dubai.
Melihat tantangan tersebut, otoritas pariwisata Dubai tidak tinggal diam. Mereka menyasar pasar wisatawan umrah Indonesia untuk menjadikan Dubai sebagai destinasi transit dan jalan-jalan sebelum atau sesudah ibadah ke Tanah Suci.
Kini, tersedia visa transit 48 jam seharga 10 USD dan visa 96 jam seharga sekitar Rp700.000. Lebih menarik lagi, kampanye kerja sama dengan Emirates tengah digalakkan untuk memberikan visa transit 48 jam secara gratis sejak 18 Juni hingga akhir September 2025.
“Dubai sudah mulai dilihat sebagai destinasi favorit oleh para jemaah umrah. Hanya dua sampai tiga jam ke Arab Saudi, dan pesawatnya banyak pilihan,” kata Christian.
Meski tantangan masih ada, Dubai tetap optimistis menatap pasar Indonesia. Target kunjungan wisatawan Indonesia pada 2025 ditetapkan mencapai 100.000 orang, atau tumbuh dua digit persentasenya dibandingkan tahun sebelumnya.
Data di awal tahun menunjukkan tren positif: kunjungan turis Indonesia pada Januari 2025 tumbuh 48 persen dibandingkan Januari 2024, lalu Februari 2025 naik sekitar 30 persen.
Namun, Dubai tetap waspada terhadap faktor eksternal seperti konflik geopolitik, yang sempat mengakibatkan pembatalan besar-besaran dari grup-grup wisata holyland Indonesia akibat konflik Iran-Israel beberapa waktu lalu.






KOMENTAR
0