Empati adalah Kunci Branding di Saat Krisis

Thursday, 16 April 20 Herry Drajat
Branding Wonderful Indonesia
Foto: Dok. Kementerian Pariwisata

Sejak pemerintah mengimbau masyarakat untuk melakukan physical distancing, bekerja dari rumah, serta penerapan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), pergerakan orang menjadi berkurang dan mengakibatkan perekonomian menurun.

Untuk itu, Pada 6 Aril 2020 Inventure Knowledge mengadakan webinar dengan judul “Building Brand in The COVID-19 Crisis”. Webinar yang dilaksanakan secara terbatas untuk 100 orang tersebut bertemakan “Every Brand is Empatic Brand”. Bertindak sebagai pembicara adalah Yuswohady, pengamat marketing dan branding.

Menurut Yuswohady, bencana COVID-19 akan mendorong terbentuknya giving society, yaitu masyarakat yang peduli terhadap sesama memerangi wabah tanpa peduli suku, agama, ras, status sosial, golongan, ataupun partai. “Bencana akibat COVID-19 membentuk masyarakat yang peduli, full of love, empathy, dan compassion,” jelas Yuswohadi.

Yuswo menambahkan, ketika kegiatan ekonomi lumpuh oleh wabah COVID-19, maka kini saatnya untuk melakukan transformasi brand, dari awareness ke pemasaran berbasis advocacy, yaitu strategi pemasaran berbasis konsumen, di mana konsumen yang merasa puas terhadap kualitas atau pelayanan sebuah produk dan jasa akan memberikan dukungannya pada sebuah brand dengan berbagai cara.

Adapun lima prinsip untuk melakukan branding saat COVID-19 menurut Yuswohady adalah Empathic, Responsible, Useful, Giving, dan Solution.

Di tengah kedukaan konsumen akibat wabah Covid-19, saat ini senjata branding yang paling ampuh adalah empati. Dan tak hanya selama krisis Covid-19, setelah krisis berlalu diyakini akan menjadi new normal dan untuk selanjutnya empati akan menjadi senjata branding yang paling ampuh.

“Itu sebabnya, mulai saat ini dan setelah musibah usai, setiap brand harus berempati kepada stakeholders-nya dan menjadikan semua brand adalah empathy brand,” ujar Yuswohady.