Berawal dari permainan di komputer maupun ponsel, tak sedikit para pecandu gaming yang beralih menjadi atlet eSport. eSports saat ini masuk dalam ranah olahraga dan sudah berkembang menjadi profesi.
“Main game itu rekreasi, eSports itu profesi. Ini satu perbedaan,” jelas Dedy Irvan, pengamat gaming dan eSports.
Pada perhelatan Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang, eSports dipromosikan menjadi salah satu cabang lomba baru meskipun belum dilombakan secara resmi. Lalu, pada SEA Games yang baru saja diselenggarakan di Filipina pada Desember lalu, status eSports ditingkatkan menjadi cabang olahraga yang dilombakan secara resmi.
Sayangnya, masih sedikit pelaku bisnis wisata yang proaktif menggarap wisatawan eSports meskipun termasuk salah satu turnamen terbesar di dunia.
Raymond Setokusumo, Direktur Galileo Indonesia, mengatakan, “Kelihatannya tidak ada satu pun pihak yang tidak menyadari manfaat komersial dari peluang eSports bernilai jutaan dolar ini, kecuali industri perjalanan wisata.”
Para pengamat industri memprediksi bahwa jumlah gamer PC dan mobile di Asia Tenggara akan mencapai 400 juta pada 2021 dan menghasilkan pendapatan sebesar US$4,4 juta. “Kita juga mengetahui bahwa Indonesia, dan juga Thailand, adalah pasar gaming terbesar di wilayah ini,” ujar Raymond.
Jumlah gamer di Indonesia mencapai sekitar 44 juta orang dan terus meningkat setiap hari. Namun, riset pasar menunjukkan bahwa 42 persen dari penonton eSports bukanlah pemain aktif dari game yang mereka tonton. Artinya, jumlah penonton eSports jauh lebih besar dari jumlah pemainnya. Hal ini tentunya menjadi peluang bagi industri wisata.
Raymond mengatakan, meskipun alasan perusahaan-perusahaan penyedia layanan perjalanan wisata tidak memanfaatkan peluang dari wisatawan eSports tidak diketahui secara pasti, jelas ada peluang yang signifikan di sini.






