Genjot Pariwisata dengan Strategi Storynomics

Friday, 18 October 19 Bonita Ningsih

Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata mulai mempercepat pembangunan lima kawasan destinasi super prioritas, yakni Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang. Bahkan, secara khusus Presiden Joko Widodo membuat tim Quick Win 5 destinasi super prioritas dan menunjuk Irfan Wahid sebagai Ketua Tim Program Quick Win Pengembangan Destinasi Wisata.

Salah satu cara yang dilakukan Irfan ialah melalui strategi storynomics tourism. Irfan menjelaskan, storynomics merupakan sebuah kegiatan ekonomi dalam pariwisata yang berbasis pada narasi, konten kreatif, living culture, dan kekuatan budaya sebagai DNA destinasi.

“Ide ini muncul saat saya bertemu dengan Pak Presiden di Danau Toba. Saat saya disuruh mengisi materi di sana, saya mengangkat tema storynomics untuk pariwisata kita,” ujar Irfan.

Dia mengatakan selama ini banyak tempat wisata yang masih belum diketahui oleh khalayak luas sehingga perlu diperkenalkan melalui pendekatan storynomics. Salah satu contohnya ialah kawasan sekitar Danau Toba yang menurut Irfan masih belum digarap secara optimal.

“Di sana itu banyak sekali sejarah, budaya, dan alam yang belum digali sehingga masyarakat sangat minim informasi maupun konten terkait kawasan yang ada di Danau Toba. Maka dari itu, kita memerlukan strategi storynomics untuk memberikan informasi tersebut,” ungkapnya.

Dalam pendekatan storynomics, Irfan mengatakan ada empat faktor yang memengaruhinya, yakni awareness, experience, memory, dan testimony. Awareness berkaitan dengan kesadaran masyarakat untuk mempromosikan tempat wisata yang mereka datangi sehingga ada segi marketing di dalamnya.

“Misal kita datang ke suatu tempat lalu foto dan videoin tempat tersebut, pasti bikin orang penasaran buat ke sana juga. Apalagi, kalau video yang diambil itu terlihat bagus, pasti banyak yang tertarik buat datang,” dia menjelaskan.

Kemudian experience berkaitan erat dengan aksesibilitas, amenitas, dan atraksi (3A). Menurutnya, faktor 3A sangat penting untuk menunjang pariwisata di Indonesia, dan ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Jika keduanya sudah dilakukan dengan baik, setiap orang memiliki memori tersendiri dengan tempat wisata yang dikunjungi. Banyak pesan yang dapat disampaikan kepada orang sekitarnya tentang pengalamannya saat berwisata ke daerah tertentu.

“Memori saat melakukan bulan madu hingga kemacetan Jakarta, semua akan terekam di pikiran kita. Bagi turis asing pun demikian, saat mereka mencoba atraksi yang ada di sebuah desa, hal itu yang akan mereka ingat di memorinya,” imbuhnya lagi.

Faktor terakhir yang memengaruhi pariwisata ialah testimoni. Menurutnya, setiap orang yang melakukan wisata akan memberikan testimoninya, baik positif maupun negatif. Oleh karenanya, keempat hal ini sangat berpengaruh terhadap storynomics yang akan dilakukan Irfan untuk menggenjot pariwisata Indonesia.

“Sekarang zamannya orang curhat di media sosial, jadi mereka dapat dengan mudah memberikan testimoninya ke khalayak luas. Belum lagi dengan komentar-komentar orang di aplikasi seperti Traveloka atau Zomato,” ucapnya.

Strategi storynomics ternyata sudah dilakukan oleh Gubernur Provinsi Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Dalam acara Rembuk Nasional Pariwisata Indonesia 2019 di Aruba Room The Kasablanka, Jakarta, Ganjar menunjukkan video perjalanannya mengelilingi Jawa Tengah. Melalui video tersebut, Ganjar ingin menunjukkan daerah-daerah wisata yang ada di Jawa Tengah beserta dengan atraksi dan kuliner setiap daerah.

Direktur Pemasaran Pariwisata Badan Otorita Borobudur, Agus Rochiyardi, mengatakan, strategi storynomics dinilai ampuh untuk menggenjot wisatawan datang ke Indonesia karena ada beberapa hal di dalamnya. Ia mengatakan, 90 persen otak manusia akan lebih cepat menangkap informasi berupa visual ketimbang hanya dengan tulisan.

“Otak kita ini dapat memproses 6.000 kali lebih cepat visual ketimbang teks. Jadi, video yang dibuat Pak Ganjar ini sangat cepat diterima oleh otak manusia,” Agus menjelaskan.

Selain itu, cerita yang disampaikan melalui visual dapat 22 kali lebih mudah dihapal ketimbang hanya melihat teks dan data saja. Melalui cerita, penonton atau pendengar berada dalam frekuensi yang sama sehingga mereka dapat merasakan atmosfer di tempat tersebut.