Jakarta, Venuemagz.com – Industri pariwisata di Bali tengah mengalami situasi yang unik. Hal ini terlihat dengan tingginya jumlah wisatawan yang berkunjung ke Bali, namun tak sejalan dengan tingkat hunian (okupansi) hotel di sana.
“Situasinya cukup unik, bisa dibilang paradoks karena jumlah wisatawan ke Bali terus naik tetapi okupansi hotel tidak melonjak,” ujar Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, dalam acara Colliers Virtual Media Briefing Q4 2025 pada 7 Januari 2026.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Bali pada periode Januari-November 2025 mencapai 6.376.086 kunjungan. Jumlah ini meningkat hingga 10,27 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
Sementara itu, tingkat hunian hotel berbintang di Bali terus mengalami penurunan setiap bulannya. Berdasarkan data BPS, okupansi hotel berbintang di Bali pada November 2025 hanya mencapai 57,97 persen atau turun 6,60 persen poin jika dibandingkan Oktober 2025. Secara year on year (y-on-y), okupansi pada November 2025 juga mengalami penurunan sebesar 1,64 persen poin.
Menurut Ferry, penurunan okupansi hotel di Bali disebabkan oleh berbagai faktor salah satunya melemahnya pasar domestik. Hal ini dipengaruhi dengan kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah yang membuat kegiatan MICE menurun.
Data yang dihimpun dari Angkasa Pura Bali dan Gubernur Bali I Wayan Koster, menyebutkan bahwa pergerakan wisatawan nusantara ke Bali pada 2025 berjumlah 9,28 juta kunjungan. Angka ini turun sekitar 700 ribu kunjungan dibanding 2024.
“Sebaliknya, angka wisman sudah melampaui level pandemi. Wisman asal Australia masih mendominasi kemudian disusul China, India, dan Eropa,” ucap Ferry lagi.
Faktor utama lainnya adalah meningkatnya pembangunan villa dan homestay yang menawarkan fasilitas tak kalah menarik dari hotel. Penawaran harga yang lebih murah juga menjadi daya tarik tersendiri bagi tamu untuk memilih menginap di villa ketimbang hotel.
“Apalagi waktu periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) kemarin banyak hotel yang menawarkan harga terlalu tinggi. Sedangkan harga yang ditawarkan villa lebih kompetitif sehingga okupansi hotel di Bali semakin berkurang,” jelasnya lagi.
Infrastruktur yang kurang memadai juga menjadi salah satu faktor turunnya okupansi hotel di Bali. Menurut Ferry, banyak daerah di Bali terkendala dengan jalanan yang sempit sehingga mengakibatkan kepadatan lalu lintas dan macet.
“Kita lihat contohnya saja di Canggu, macet luar biasa sehingga banyak wisatawan yang frustasi datang ke Bali. Mereka butuh waktu lama untuk pindah ke berbagai tempat sehingga menjadi wasting time,” dia menambahkan.
Begitu juga dengan minimnya transportasi publik yang menyebabkan turunnya jumlah wisatawan khususnya domestik ke Bali. Bahkan, banyak turis domestik yang memilih berkunjung ke destinasi selain Bali saat liburan Nataru kemarin.
“Transportasi massal ke beberapa daerah pariwisata itu sangat penting agar banyak wisatawan yang datang ke sana. Tetapi, hal ini masih belum ada di Bali padahal sudah pernah direncanakan namun memang belum ada realisasinya,” katanya lagi.
Oleh sebabnya, pemerintah diminta untuk lebih memerhatikan kondisi Bali agar pariwisata beserta turunnya dapat terus tumbuh ke depannya. Terlebih dengan adanya aturan moratorium pembangunan hotel dan villa akan menjadi titik balik bisnis pariwisata yang lebih terkendali.
“Sehingga nanti Bali tidak lagi diarahkan sebagai pariwisata bersifat massal, tetapi destinasi premium yang lebih berkelanjutan. Namun tantangannya adalah siapa yang mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut,” tutupnya.
KOMENTAR
0