Museum Permanen Seniman Jepang akan Hadir di Bali

Monday, 03 June 24 Bonita Ningsih

Seniman asal Jepang, Eugene Kangawa, akan mendirikan sebuah museum di daerah Nuanu, Tabanan, Bali pada awal tahun 2026. Eugene Museum akan hadir bersama dengan Eugene Kangawa atau Eugene Studio (Eugene) di atas lahan seluas 1 hektar lebih dan bangunan 3.000 meter persegi.

Bali dipilih sebagai tempat berdirinya museum karena dianggap telah menjadi episentrum Asia. Bali memiliki letak geografis yang berada di garis khatulistiwa dan juga pusat dunia. Tak hanya itu, Bali juga dianggap memiliki perpaduan unik antara kekayaan budaya tradisional dan lingkungan alam yang subur. 

Keunikan ini menarik banyak orang dari seluruh dunia sehingga dijadikan salah satu tempat paling tanpa batas di Asia. Semua elemen yang ditawarkan Bali selaras dengan tema simbiosis yang dihadirkan Eugene.

Perancangan arsitektur museum akan dipimpin oleh arsitek ternama Indonesia, Andra Matin, yang telah meraih Aga Khan Award for Architecture 2023. Museum permanen karya Eugene ini hadir dengan tujuan untuk mengintegrasikan gaya hidup, seni, pendidikan, dan kesadaran lingkungan yang diselimuti lanskap laut serta hutan subur.

BACA JUGA:   Epson WorkForce DS-C330 Meredefinisikan Alur Kerja Bisnis Digital

Museum ini didirikan melalui beragam koneksi dan pertemuan yang dihadirkan oleh Eugene. Menampilkan inisiatif kolaboratif yang inovatif, museum, ini akan dijadikan sebagai perwakilan bentuk museum baru yang muncul dari Asia. 

Sebagai permulaan, museum ini akan berkolaborasi dengan Andra yang menafsirkan konsep museum karya Eugene. Kolaborasi ini akan mengintegrasikan sebuah karya yang indah dengan filosofi tradisional desa Bali kuno. 

Arsitektur dan lanskap dirancang dengan minim gangguan seperti membuat kegiatan tanpa merusak pohon-pohon yang ada. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan lingkungan alam yang ada di lokasi sekitar museum.

Mengedepankan konsep perkembangan sosial, pendidikan, dan budaya, museum ini akan menawarkan pengalaman mendalam kepada semua generasi dengan perspektif baru. Oleh sebabnya, Museum Eugene, akan menghadirkan sebuah perpustakaan, program menginap pasca-penutupan, serta kafe di ruang masuk. 

BACA JUGA:   Pelaku Parekraf Sulawesi Utara Terima Vaksinasi

Lebih dari itu, museum ini juga akan menampilkan lebih dari 15 instalasi permanen termasuk karya khas Eugene berupa ‘Sea Garden’, ‘Goldrain’, dan ‘Everything Shines’. Dengan demikian, para pengunjung dapat merasakan pengalaman indah dan menakjubkan saat datang ke museum. 

Eugene Kangawa merupakan seniman kontemporer asal Jepang yang lahir di Amerika pada tahun 1989. Eugene dikenal memiliki pendekatan yang canggih dalam lukisan, instalasi berskala besar, dan berbagai proyek untuk inisiatif anak-anak dan sosial. 

Aktivitas awalnya diprofilkan dalam buku tahun 2017 karya Daisuke Miyatsu, yang diterbitkan oleh Kobunsha Shinsho. Pada buku tersebut ia disorot sebagai salah satu dari empat artis Jepang terkemuka, bersama dengan teamLab dan lainnya.

Namanya mulai terkenal sejak melakukan pameran tunggal  di Museum Seni Kontemporer Tokyo yang menjadi salah satu museum seni kontemporer paling bergengsi di Jepang. Saat itu, ia mencetak rekor sebagai seniman termuda yang mengadakan pameran tunggal di museum tersebut. Pameran ini menjadi fenomena sosial dan menimbulkan antrian panjang.

BACA JUGA:   TAUZIA Move Awards 2018, Penghargaan untuk Kreativitas Karyawan

Dengan prestasinya tersebut, Eugene, mendapatkan dukungan dari sejumlah komunitas dan kolektor internasional termasuk Indonesia. Mereka melihat Eugene sebagai seniman generasi baru dari Asia sehingga berencana mendirikan museum permanen untuk dirinya. 

Sehubungan dengan proyek tersebut, ruang persiapan museum seni sudah didirikan tahun lalu di Jakarta. Bertempat di gedung yang sama dengan kantor pusat Art Jakarta, ruang persiapan ini berfungsi sebagai fasilitas eksperimental museum, menempatkan model skala mini, dan karya seni kecil.