Pariwisata Pulih dalam 10 Bulan

Thursday, 09 April 20 Herry Drajat
Foto: Dok. Panorama

Merebaknya wabah COVID-19 mengakibatkan penurunan perjalanan global pada kuartal pertama tahun 2020, dan negara-negara di Asia adalah yang paling terkena dampak dari kejadian ini. Menurut World Travel and Tourism Council (WTTC), dampak dari pandemi COVID-19 akan mengakibatkan sekitar 50 juta pekerja di sektor travel dan wisata terancam. 

Virginia Messina, Direktur pelaksana WTTC, memproyeksikan, dari 50 juta pekerjaan yang hilang, sekitar 30 juta orang adalah para pekerja di Asia, 7 juta orang di Eropa, 5 juta orang di Amerika, dan sisanya dari benua lain.

BACA JUGA:   Rute Garuda Indonesia ke Eropa Mampir di Medan

Menurut WTTC, hilangnya tiga bulan perjalanan global akan mengakibatkan pengurangan karyawan sebanyak 12 persen-14 persen, sementara pada sektor industri pariwisata yang paling terdampak adalah maskapai, kapal pesiar, dan hotel. Di Indonesia, menurut data PHRI yang dirilis pada 6 April 2020, sebanyak 1.266 hotel ditutup akibat terdampak virus corona, dan hal tersebut mengakibatkan sekitar 150.000 pegawai dirumahkan akibat lesunya bisnis ini.

BACA JUGA:   Kemenparekraf Pastikan Pembukaan PON XX Papua Berjalan Aman

Messina memperkirakan bahwa setelah wabah terkendali, akan memakan waktu hingga 10 bulan bagi sektor pariwisata untuk kembali ke tingkat normal. Salah satu usaha untuk memulihkan sektor pariwisata di antaranya dengan mendorong fleksibilitas pada industri pariwisata sehingga para wisatawan menunda perjalanan dan tidak membatalkan rencana mereka.

WTTC juga menyerukan kepada setiap negara jika memungkinkan untuk melakukan penghapusan  atau menyederhanakan memperoleh visa kunjungan, memotong pajak perjalanan, dan memberikan insentif pada wisatawan begitu epidemi terkendali agar industri pariwisata segera pulih.