Pemerintah dan Stakeholder Siapkan Paket Wisata yang Kompetitif

Monday, 04 May 20 Herry Drajat

Adanya pembatasan pergerakan manusia untuk mencegah penyebaran virus Corona membuat industri pariwisata terganggu sehingga banyak Biro Perjalanan Wisata (BPW) yang bisnisnya tidak berjalan. Dalam acara Bincang-Bincang ASITA pada 2 Mei 2020, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio menyampaikan optimismenya jika pandemi COVID-19 akan berakhir pada Juni 2020.

Untuk itu, pemerintah sedang menyusun kebijakan untuk menghidupkan industri pariwisata pasca-pandemi COVID-19. Usai wabah COVID-19 berlalu, tentunya segala aktivitas masyarakat akan dilakukan dengan penuh kehati-hatian, terutama menyangkut segi keamanan dan kesehatan. Demikian juga dengan industri pariwisata yang akan melahirkan kenormalan baru. Prosedur kesehatan serta higienitas yang ketat akan diterapkan pada akomodasi serta destinasi.

BACA JUGA:   Penerbangan Internasional di Bali Kembali Dibuka Pada 14 Oktober 2021

Menurut Wishnutama, Kemenparekraf sekarang sedang melakukan riset dan bekerja sama dengan negara-negara ASEAN untuk saling memberi masukan menghadapi kenormalan baru.

“Nantinya saya harapkan di Indonesia ada semacam sertifikasi untuk destinasi-destinasi yang dianggap memenuhi kriteria kenormalan baru sehingga membuat rasa aman pengunjung, aman dari sisi keselamatan dan kesehatan. Hal ini ke depan akan menjadi hal yang sangat penting buat wisatawan berkunjung,” jelas Wishnutama.

Langkah lain yang dilakukan oleh pemerintah adalah melakukan komunikasi secara intensif dengan maskapai penerbangan dan hotel untuk membuat paket-paket dengan harga yang kompetitif.

BACA JUGA:   Epson Indonesia Targetkan Bisnis Naik 10 Persen di 2024

Budi Ardiansyah, Ketua DPD ASITA Jawa Barat, mengusulkan langkah pertama yang harus dilakukan adalah penguatan pariwisata domestik dengan cara membuat paket perjalanan wisata yang kompetitif.  Untuk itu, harus ada koordinasi dan sinergi antara stakeholder, yakni tour operator, hotel, transportasi, dan destinasi memberikan harga yang atraktif dan kompetitif. 

Selanjutnya, kegiatan meeting yang biasa dilakukan oleh pemerintah dan BUMN yang jumlahnya sangat besar sebaiknya segera dimulai setelah pandemi COVID-19 berakhir, dan tempat pelaksanaannya juga harus disebar merata ke daerah. Dan yang tak kalah penting menurut Budi kegiatan ini harus dikerjasamakan dengan tour operator, tidak langsung ke hotel atau venue sendiri, agar semua pelaku pariwisata mendapatkan dampaknya.

BACA JUGA:   Jakarta-Tokyo Narita, Rute Terbaru AirAsia X Indonesia

Setelah domestik berjalan, baru pasar inbound digarap, terutama dengan target negara-negara terdekat dahulu, seperti Malaysia dan Singapura.

“Yang paling penting adalah penerapan health quality untuk menjamin higienitas di destinasi agar mereka percaya ke negara kita,” tambah Budi.