Pemerintah Mulai Kembangkan Pariwisata Berbasis Digital

Friday, 02 August 19 Bonita Ningsih
Wisatawan menikmati fasilitas di Mola-Mola Resort, salah satu resor yang sudah beroperasi pascagempa Lombok.

Indonesia masih memiliki 122 daerah tertinggal, salah satu provinsi yang masih memiliki daerah tertinggal ialah Nusa Tenggara Barat (NTB). Untuk itu, dibutuhkan banyak upaya agar daerah tersebut dapat berkembang, salah satunya ialah melalui sektor pariwisata.

Saat ini, potensi pariwisata di daerah tertinggal masih harus mendapatkan perhatian khusus. Oleh karenanya, Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) akan mengupayakan beberapa cara agar pariwisata di NTB dapat berkembang dengan cepat. Salah satu caranya ialah dengan meluncurkan program 100 Desa Wisata dan e-ticketing yang bekerja sama dengan perusahaan startup GOERS.

Program ini menjadi salah satu langkah awal dalam pelaksanaan pengembangan pariwisata berbasis digital di NTB. Sampai saat ini, sudah ada dua desa yang telah terdaftar di aplikasi GOERS sebagai proyek percontohan, yakni Desa Sesaot di Lombok Barat dan Dusun Sasak Ende di Lombok Tengah.

Samsul Widodo, Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal (Dirjen PDT) Kemendes PDTT, mengatakan, program ini dijadikan pendekatan baru dalam pembangunan pariwisata di daerah-daerah tertinggal. Dengan mengikuti zaman yang ada, pengembangan pariwisata berbasis digital dinilai cocok untuk diterapkan di Indonesia.

Usaha rintisan dari Mahaka Group ini berfokus pada promosi dan sistem manajemen tiket elektronik perjalanan wisata, destinasi, dan event. Cara ini sebagai salah satu komitmen mendukung pemerintah dalam upaya membangun pariwisata melalui pemanfaatan potensi digital.

“Kami akan memperkenalkan sistem e-ticketing pada obyek wisata maupun desa wisata yang ada di sana. Ini menjadi solusi praktis yang kami tawarkan untuk membangun pariwisata secara digital,” ujar Niki Tsuraya Yaumi, Direktur Operasional GOERS, dalam siaran pers.

Dengan sistem ini, setiap orang yang ingin mengunjungi desa wisata di NTB dapat melihat informasinya melalui situs atau aplikasi GOERS. Mereka dapat menemukan berbagai informasi seperti paket wisata yang ditawarkan di sana dan dapat dengan mudah memesan tiketnya secara daring.

Sistem e-ticketing ini dapat digunakan untuk mencatat jumlah pengunjung yang ada di lokasi maupun di online, serta pelatihan dan pendampingan kepada pengelola desa wisata untuk penerapan teknologi yang berkelanjutan. Selain itu, beberapa manfaat yang dapat diterima dari sistem e-ticketing ialah kemudahan untuk membeli tiket, pencatatan data yang lebih akurat dan terarsip melalui sistem, hingga bantuan program pemasaran yang sustainable (berkelanjutan), khususnya untuk destinasi pariwisata tertinggal yang mungkin belum banyak dieksplorasi dan dipromosikan sebelumnya. 

“Pengunjung akan diberikan kemudahan untuk mengetahui dan mengenal segala informasi dan keunikan desa wisata sebelum datang langsung ke desa tujuan,” dia menambahkan.

Selain bermanfaat bagi pengunjung, Niki mengatakan sistem ini juga memberikan manfaat bagi pemerintah. Beberapa di antaranya ialah kemudahan dalam mengakses kegiatan dan transaksi yang ada di desa wisata. Semua kegiatan dapat diakses secara real time melalui aplikasi GOERS dan data-data tersebut dapat menjadi laporan komprehensif bagi kepala desa, pemerintah daerah, maupun pemerintah pusat.

“Kami berharap melalui agenda ini, dapat dilakukan percepatan dalam pembangunan Lombok, terutama untuk wilayah Daerah Tertinggal di NTB. Dengan pemanfaatan akses dan sistem digital diharapkan jumlah kunjungan wisatawan di destinasi wilayah ini dapat naik sehingga dapat berpotensi meningkatkan pendapatan asli daerah,” kata Niki.

Hingga saat ini, sudah ada 25 kota di Indonesia yang telah terdaftar di situs dan aplikasi GOERS, lengkap dengan destinasi wisata dan hiburan lainnya. Diharapkan, ke depannya semua desa wisata di NTB dapat terdaftar di aplikasi GOERS agar pariwisatanya cepat berkembang.