JAKARTA, Venuemagz.com – Industri Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions (MICE) tengah berada di pusaran transformasi yang masif. Tidak lagi sekadar mengandalkan skala fisik, efisiensi masa depan kini bertumpu pada penerapan smart economy dan integrasi teknologi terkini.
Untuk membedah tren baru ini, sebuah diskusi panel strategis bertajuk Empowering Jakarta’s Smart Economy through Digital Transformation in the MICE Industry digelar pada 17 Juni 2026 di Arion Suites Hotel Kemang, Jakarta Selatan, dalam acara INAMICE 2026.
Sesi kedua acara ini mengangkat tema “Implementing Smart Economy Practices in the MICE Ecosystem” dengan menghadirkan tiga pakar industri MICE, yakni Maxmilaan Bruinier, Senior Event Manager Pamerindo; Nabil Ramadhana, Digital & Business Development Manager PT Debindomulti Adhiswasti; dan Orachorn Wongpan-ngam, Director of MICE Capabilities Development Department Thailand Convention and Exhibition Bureau (TCEB).
Pamerindo: Mengurai Kompleksitas Mega Event Lewat Integrasi Satu Pintu
Sebagai salah satu pemain utama dalam industri pameran Tanah Air, Pamerindo membagikan potret nyata tantangan mengelola mega-event. Lewat portofolionya, Indonesia Energy & Engineering (IEE) Series, volume operasional yang dihadapi telah mencapai skala yang luar biasa: mencatatkan total 74.704 pengunjung dengan total area pameran mencapai 143.000 m².
“Dan ini adalah tantangan bagi kami, bagaimana kami mengelola jumlah peserta yang hadir dalam jumlah yang begitu banyak dengan ruang pameran yang terbatas,” tutur Maxmilaan Brunier.
“Melalui digitalisasi, yang ingin kami lakukan adalah menciptakan perjalanan yang nyaman dan berkesan bagi peserta pameran kami, mulai dari pendaftaran hingga stan virtual di lokasi dan juga bagaimana kami, klien, peserta pameran, dapat berkumpul ke dalam satu platform yang memberi kami pengalaman tanpa batas melalui platform digital,” tambahnya.
Maxmilaan Bruinier memaparkan bahwa angka impresif tersebut membawa tantangan logistik dan pelaksanaan yang masif. Menjawab kompleksitas ini, Pamerindo meluncurkan Exhibitor Engagement Center (EEC), yaitu sebuah one-stop system yang dirancang khusus untuk memotong birokrasi operasional para exhibitor.
Melalui EEC, exhibitor tidak lagi disibukkan oleh proses manual yang terfragmentasi. Sistem ini mendigitalisasi seluruh rantai persiapan, mulai dari pengisian profil perusahaan, pengunggahan materi pemasaran, pemesanan layanan tambahan seperti sponsorship, iklan, dan slot pembicara, akses panduan resmi, hingga koordinasi logistik krusial seperti instalasi stan dan kebutuhan listrik.
Tak hanya untuk exhibitor, pengalaman pengunjung pun ditingkatkan melalui aplikasi mobile IEE VExpo. Aplikasi ini mengintegrasikan peta lokasi digital untuk kemudahan navigasi, informasi produk, katalog peserta, hingga fitur business matching untuk memfasilitasi pertemuan B2B secara presisi.
Melangkah lebih jauh ke era kecerdasan buatan, Informa Markets, bagian dari perusahaan Pamerindo, memperkenalkan Elysia, yaitu asisten AI generatif yang dikembangkan untuk mengotomatisasi pekerjaan repetitif, membuka akses terhadap pengelolaan big data proyek, serta memberikan ruang lebih bagi tim untuk berpikir strategis dan kreatif.
Selaras dengan itu, aspek keberlanjutan diimplementasikan secara ketat melalui metode Better Stands Assessment serta laporan daily sustainability report di setiap area stan. Integrasi digital ini tidak hanya mendorong efisiensi operasional dan efektivitas pemasaran, tetapi juga menciptakan nilai lintas fungsi bagi ekosistem pameran.
PT Debindomulti Adhiswasti: MICE Sebagai Motor Perekonomian dan Arsitektur Digitalisasi Event
Berdiri sejak tahun 1987 dengan rekam jejak lebih dari 3.000 acara, PT Debindomulti Adhiswasti menegaskan posisi strategis MICE sebagai katalis utama perekonomian makro. Nabil Ramadhana menggarisbawahi tiga alasan fundamental mengapa ekosistem MICE memegang peran krusial bagi sebuah negara:
1. Penggerak Sektor Jasa Multi-Sektor: MICE secara simultan menghubungkan industri pariwisata, perhotelan, transportasi, hingga sektor industri kreatif ke dalam satu rantai bisnis.
2. Kontributor Ekonomi Langsung yang Tinggi: Berdasarkan data lapangan, pengeluaran rata-rata seorang delegasi atau peserta MICE tercatat mencapai 3 hingga 5 kali lipat lebih besar dibandingkan wisatawan biasa.
3. Magnet Investasi Global: Event bisnis internasional berfungsi sebagai platform pertemuan tingkat tinggi bagi pelaku bisnis, investor, dan para pengambil keputusan global.
Dalam ajang bergengsi seperti Trade Expo Indonesia (TEI), Debindo telah mengimplementasikan ekosistem digital terpadu yang mencakup registrasi pengunjung dan pembeli internasional, platform business matching, serta aplikasi Super App untuk mengawal kenyamanan seluruh partisipan.
Meski demikian, Debindo mengingatkan adanya tantangan nyata dalam proses ini, mulai dari kebutuhan investasi modal yang tinggi, keterbatasan kompetensi SDM, kesiapan infrastruktur, integrasi sistem, hingga adaptasi dari pengguna itu sendiri.
Membedah Anatomi Sistem: Business Event vs Special Event
Debindo juga memberikan edukasi penting mengenai diferensiasi pendekatan teknologi berdasarkan karakteristik acara, yang dirangkum dalam empat pilar:
Fokus Utama: Business event berorientasi penuh pada kebutuhan exhibitor dan klien bisnis, sementara special event berorientasi pada pengalaman dan kepuasan pengunjung umum.
Tujuan Sistem: Sistem pada business event dirancang untuk membangun networking, transaksi, dan peluang bisnis baru. Sebaliknya, special event mengejar optimalisasi pendapatan, promosi massal, dan kecepatan proses.
Fitur Andalan: Business event mengandalkan business matching dan manajemen meeting booking, sedangkan special event bertumpu pada sistem ticketing, gerbang pembayaran, dan registrasi instan.
Analisis Data: Analisis pada business event digunakan untuk menakar potensi nilai transaksi dan kurasi profil bisnis, sementara special event memantau data real-time penjualan tiket dan kurva pendapatan.
“Keberhasilan transformasi digital dalam industri MICE tidak melulu soal kecanggihan teknologi, melainkan tentang kesiapan pola pikir mindset untuk mengadopsi perubahan tersebut secara konsisten,” tegas Nabil.
Thailand: Cetak Biru Strategis Destinasi MICE Berdaya Saing Global
Berbagi perspektif regional, Orachorn Wongpan-ngam memaparkan kesuksesan Thailand memosisikan industri MICE sebagai pilar pertumbuhan ekonomi nasional melalui tata kelola Thailand Convention and Exhibition Bureau (TCEB) yang independen dan terstruktur.
Strategi Thailand bertumpu pada penargetan industri-industri bernilai tinggi, seperti ilmu medis, teknologi digital, bioteknologi, dan ekonomi kreatif. Komitmen ini diperkuat dengan penerapan praktik berkelanjutan, termasuk standardisasi penyelenggaraan event carbon-neutral events.
“Kami tidak lagi memasarkan Thailand semata-mata sebagai destinasi yang indah, melainkan sebagai tempat berkumpulnya industri-industri masa depan dunia,” Orachorn Wongpan-ngam dalam paparannya secara daring.
Melihat pencapaian pada 2025, Thailand optimis membidik target kunjungan 1,4 juta wisatawan MICE internasional dengan proyeksi kontribusi ekonomi yang signifikan dengan diperkuat oleh reputasi historis mereka saat sukses menjadi tuan rumah pertemuan International Monetary Fund (IMF) dan World Bank Group (WBG).
Menghadapi periode jangka panjang melalui Strategi Nasional TCEB 2026–2030, terdapat empat pilar utama yang diusung:
1. Pengembangan Industri Bernilai Tinggi: Memfokuskan diri sebagai tuan rumah bagi event sektor unggulan, seperti kesehatan, agritech, teknologi advanced, dan AI.
2. Ekspansi Pasar Internasional: Memperluas penetrasi ke pasar bernilai tinggi, khususnya negara-negara anggota BRICS, kawasan Timur Tengah, dan Asia Pasifik.
3. Daya Saing Destinasi Berbasis Budaya: Mengemas keunikan budaya lokal menjadi produk komersial MICE yang distingtif melalui konsep “Thai Experience“.
4. Inovasi dan Infrastruktur Digital: Memaksimalkan peran MICE Intelligence Center dan layanan One Stop Service berbasis digital demi efisiensi perizinan dan layanan delegasi.






