Tiga Model Komunikasi Saat Krisis

Monday, 20 April 20 Herry Drajat

Meski kegiatan ekonomi lumpuh akibat COVID-19, perusahaan harus tetap menjalankan strategi promosi atau branding. Yuswohady, pengamat marketing dan branding, mengatakan, ini adalah saat yang tepat untuk membangun brand.

Menurut Yuswohady, ada tiga model komunikasi yang bisa dilakukan saat krisis ini, yakni Go Digital, Go Efficient, dan Go Movement.

Mindset make everything goes digital menjadi taktik survival untuk menghadapi krisis saat ini. Marketing campaign apa pun wajib menyasar netizen. “Adanya imbauan untuk physical-distancing mau tidak mau memaksa kita untuk menyelesaikan segala hal di rumah, mulai dari transaksi perbankan, berbelanja kebutuhan pokok, layanan publik, hingga entertainment,” ujar Yuswohady.

Yuswohady mencontohkan, pemerintah Vietnam memanfaatkan kondisi sulit yang terjadi pada bidang pariwisata dengan memperkenalkan destinasi-destinasi wisata menggunakan teknologi virtual reality.

Model yang kedua adalah Go Efficient. Di tengah krisis tentu saja hampir semua brand mengalami kesulitan keuangan. Brand-brand yang menjual non-essential goods kini praktis tak mendapat omzet karena barang tersebut tidak lagi menjadi prioritas konsumen.

Karena itu, brand harus pintar dan kreatif membantu masyarakat yang kesulitan dengan sesedikit mungkin mengeluarkan biaya, seperti yang dilakukan oleh Grab yang memaksimalkan fitur GrabMart dan GrabGroceries untuk membantu konsumen berbelanja dan mengakomodasi mitra yang menganggur akibat kebijakan physical distancing.

Yang ketiga adalah Go Movement. Rasa senasib dan sepenanggungan akibat COVID-19 ini menciptakan tujuan bersama untuk melawannya. Karena itu, kampanye yang paling mempunyai impact adalah dengan membuat kegiatan untuk menggerakkan komunitas melewati krisis.

Create common goal, created common enemy, dan drive customers to move telah dilakukan oleh Najwa Shihab dan Narasi TV dengan membuat gerakan konser musik #dirumahaja untuk menggalang dana membantu penanganan COVID-19.

“Bagi brand builder, bencana COVID-19 bukanlah semata sebuah great disaster, tetapi diubah menjadi great corrector. Demikian juga dengan bencana lain, brand harus selalu peduli dan berusaha menjadi solusi,” tegas Yuswohady.