Tren Reseller Manager di Bisnis UMKM

Thursday, 14 May 20 Bonita Ningsih

Keberadaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia menjadi salah satu penopang perekonomian negara. Pelaku UMKM mampu menciptakan sebuah produk lokal terbaru dan mendatangkan lapangan pekerjaan bagi masyarakat yang membutuhkan.

Pelaku UMKM yang juga menjadi seorang produsen, tentunya memiliki banyak reseller untuk memasarkan produknya ke masyarakat luas. Keberadaan produsen dan reseller saat ini memang tidak dapat dipisahkan. Memiliki satu tujuan yang sama, keduanya sering kali dipertemukan dalam sebuah bisnis yang menghasilkan banyak keuntungan.

Kendati demikian, saat ini masih banyak reseller yang bekerja secara mandiri atau independen. Keadaan tersebut sering kali membuat para reseller kesulitan mendapatkan informasi terkait produk-produk apa saja yang bagus dan yang menjadi incaran pasar. Begitu juga dengan para UMKM yang sering kali merasa kesulitan mendapatkan reseller yang sesuai untuk memasarkan produknya.

Melihat kondisi tersebut, Arto Biantoro, Chief Executive Officer Gambaran Brand, mengatakan, dibutuhkan perantara yang baik antara produsen dan reseller. Melalui model bisnis Reseller Manager, para produsen dan reseller akan mudah dipertemukan sehingga terjalin kerja sama yang baik antar-keduanya.

“Ini masa depan kita, yaitu dengan model bisnis menjadi reseller manager. Posisi ini sangat diperlukan karena banyak sekali reseller, tetapi tidak ada yang mengelola. Padahal, mereka butuh peran manager untuk mengatur semua produknya tersebut,” jelas Arto.

Arto, yang sudah 20 tahun menjadi tim pengembang merek lokal, mengatakan, bisnis ini belum pernah dikembangkan di Indonesia. Oleh karenanya, ke depan, model bisnis ini akan menjadi tren bagi masyarakat Indonesia.

“Kerja mereka itu hanya mengumpulkan ibu-ibu di atas 40 tahun dan dijadikan sebuah kelompok reseller. Nanti, reseller manager ini yang akan mencarikan barang-barang untuk dijual dan dipasarkan,” dia menambahkan.

Menurut Arto, mengelola bisnis reseller manager terbilang cukup mudah karena dapat dilakukan secara manual. Hanya saja, reseller manager harus membuat pelatihan bagaimana caranya melakukan marketing yang baik dan memasarkan produknya ke khalayak luas.

“Mereka harus mengajari reseller-nya yang kebanyakan ibu-ibu itu untuk upload barang di sosial media. Nanti, dari situ tinggal dicari saja pembelinya siapa. Kalau sudah berhasil dijual, akan ada sistem bagi hasil di dalamnya,” jelasnya lagi.

Model bisnis ini kemudian diserap dengan baik oleh PT Ultima Rasa Akselerasi atau yang biasa dikenal Ultra Indonesia. Agung Nugroho, Chief Executive Officer Ultra Indonesia, mengatakan, dalam waktu dekat akan membuat sebuah platform khusus untuk mempertemukan UMKM dan reseller.

“Kita mencoba menghubungkan UMKM yang belum punya channel ke reseller untuk berhubungan langsung dengan reseller melalui platform ini. Tetapi, ini khusus food ya karena kita berkecimpung di bidang ini,” ujar Agung.

Pembuatan platform ini juga dimaksudkan agar para UMKM melek teknologi. Pasalnya, saat ini masih banyak pelaku UMKM yang belum mengandalkan kecanggihan teknologi untuk berjualan secara daring. Menurutnya, kebanyakan dari mereka masih memilih untuk offline dalam memasarkan produknya.

“Istilah katanya itu, saat ini belum UMKM 4.0. Jadi, kita di sini membantu teman-teman yang sudah mulai tertarik di dunia online untuk bergabung. Semuanya ini free,” ucapnya lagi.