Menghadapi Globalisasi dengan Kolaborasi

Wednesday, 14 August 19 Bayu Hari
PT Adhouse Clarion Events

Konstalasi bisnis pameran kian meruncing. Berkolaborasi dengan pemain global pun kerap menjadi pilihan pemain lokal guna memperkuat rentang sayap bisnisnya.

Strategi bisnis yang dipilih PT Adhouse Indonesia Cipta berkolaborasi dengan pemain global guna memperkuat eksistensinya dalam bisnis pameran nasional berada di jalur yang tepat. Pasca pada 2018 bergabung dengan Clarion Events Group, salah satu perusahaan pameran besar di dunia, pertumbuhan bisnisnya mengalami lompatan lebih dari 50 persen.

Menurut Toerangga Putra Soedirman, President Director Adhouse Clarion Events (ACE), dalam peta bisnis pameran saat ini, sangat sulit untuk menciptakan pameran baru karena hampir semua sektor yang potensial sudah digarap oleh para pemain. “Untuk bisa bersaing dengan yang sudah established, ya kita berkolaborasi dengan yang lebih established. Jadi opsinya harus bermitra, sulit kalau bikin baru dari awal,”kata Toerangga.

Toerangga, sosok yang turut menginisasi kolaborasi itu, sebelum ‘menikah’, Clarion Events Group dan Adhouse sudah ‘pacaran’ sejak 2016. Dalam proses ‘pacaran’, keduanya saling menjajaki untuk mengenal lebih dalam perusahaan masing-masing.

Dalam perjalanannya, dari sekadar rencana menciptakan pameran baru, akhirnya Clarion Events Group memutuskan untuk mengakuisisi aset (pameran) Adhouse. “Pameran kami diakuisisi beberapa persen. Meskipun mereka mengakusisi pameran kita, tapi mereka berkomitmen untuk membawa pameran baru ke Indonesia. Jadi ada kombinasi antara akuisisi dan merger,” katanya.

Apa yang dijanjikan Clarion kepada Adhouse pun dipenuhi. Saat ini sudah ada tiga pameran yang diboyong ke Indonesia: Real Estate Investmen Indonesia, Public Safety Indonesia, dan  Global Sources Electronic.

Ketiga pameran yang semuanya berkonsep business to business (B2B) itu berjalan sesuai harapan. Bahkan, Global Sources Electronic yang baru akan digelar pada Desember mendatang telah berhasil mendapatkan 450 brand peserta pameran. “Untuk pameran perdana, ini terbilang besar. Dan, kalau itu dilakukan sendiri, belum tentu hasilnya serupa,” kata Toerangga.

Mitra yang Mengayomi

Beberapa waktu terakhir, Indonesia memang banyak dilirik oleh pemain global. Dengan agresif mereka mengakusisi para pemain lokal. Namun, tak semuanya mendapatkan hasil serupa dengan yang dialami PT ACE. Bahkan, tak jarang perkawinan pemain global dan lokal itu berbuntut pada ‘perceraian’.

Toerangga mengakui bahwa Adhouse terbilang mujur dapat mitra bisnis seperti Clarion. Pasalnya, mereka dan sekadar membeli pameran, melakukan juga melakukan pembimbingan sehingga terjadi transfer knowledge.  Salah satunya perihal tools marketing system yang ditelurkan ke organisasi PT ACE.

Selain itu, tentu jaringan yang dimiliki Clarion Events Group di 14 penjuru dunia juga dapat dimanfaatkan PT ACE guna mempercepat akselerasi bisnisnya.  Mafhum, dalam bisnis pameran, terutama pameran berkonsep B2B, memiliki jaringan global merupakan faktor kunci keberhasilan.

Dari kacamata Toerangga, alasan lain yang turut memicu kolaborasi Adhouse dan Clarion ialah perihal cara pandang melihat esensi bisnis pameran. Menurutnya, bisnis pameran itu tak meluluh terkait dengan yang bersifat operation, terpenting justru bagaimana pameran bisa mendatangkan bisnis bagi klien. 

 “Terpenting dalam pameran itu ialah bagaimana organizer bisa meningkatkan dan meramut potensial visitor/buyer. Kalau itu bisa, exhibitor akan mengikuti,” katanya.  “Exhibitor itu akibat, dan visitor itu adalah sebab. Tapi kebanyakan perusahaan justru mengejar exhibitor dahulu, karena uangnya di situ.”

Nah, untuk meningkatkan kualitas visitor atau buyer – di era globalisasi seperti saat ini – kolaborasi dengan pemain global akan sangat membantu. Pasalnya, pemain global itu dapat dipastikan memiliki jaringan yang luas di berbagai negara.

Sementara itu, menurut Gad Permata, Vice President PT ACE, proses dan budaya kerja yang terapkan oleh Clarion Events Group pun dilakukan secara bertahap. “Clarion juga ingin karyawan tetap nyaman, dan secara bertahap mengajari melakukan sistem yang lebih baik,” katanya.

Setidaknya itu tecermin dari tidak meningkatnya turn over karyawan. Pasca berkolaborasi, jumlah SDM justru bertumbuh. Dari semula hanya 20an, hingga hampir mencapai 50 orang. “Clarion cukup bijak dibandingkan dengan pemain asing lainnya. Clarion mungkin sudah mempelajari itu. Dan mereka sudah memahami budaya yang sudah berjalan di Adhouse,” kata Gad.

Meskipun Clarion Events Group sudah mengakuisisi Adhouse, namun tidak ada orang mereka yang ditempatkan di manajemen PT ACE. “Mereka percaya untuk tetap mempertahankan manajemen yang ada. Tapi kami tetap melakukan report, secara berkala juga melakukan pertemuan. Dan mereka juga membantu kami untuk menyusun strategi bisnis,” kata Toerangga.