Secuil Kisah dari Negeri Istana

Friday, 21 September 18   31 Views   0 Comments   Venue
Istana siak

Kejayaan Kesultanan Siak Sri Indrapura memang telah berakhir lebih dari tujuh dekade silam. Namun, pada abad ke-18, kesultanan yang dibangun oleh Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah pada tahun 1723 itu tersohor sebagai kerajaan bahari nan tangguh. Ia menancapkan pengaruhnya di 12 kawasan, dari Sumatera, Semenanjung Melaya, hingga Sambas-Kalimantan Barat.

Pasca-kemerdekaan Indonesia, Sultan Syarif Kasim II, yang merupakan raja terakhir Kesultanan Siak Sri Indrapura, memutuskan turun takhta dan menyerahkan kerajaannya kepada Pemerintah Indonesia. Komitmen itu, menurut Trip Sukri, Pramuwisata Istana Asherayah Al Kasimiyah, ditandai dengan penyerahan mahkota serta aset kerajaan senilai 13 juta gulden kepada Presiden Soekarno.

Menyatu dengan Indonesia, Siak kemudian berstatus kewedanaan, yang secara administrasi berada di bawah kabupaten dan di atas kecamatan. Sekitar tahun 1999, melalui Undang-Undang Nomor 53 Tahun 1999, status Siak dinaikkan menjadi kabupaten yang menaungi 14 kecamatan di bawah Provinsi Riau.

Meski era kejayaan Kesultanan Siak Sri Indrapura telah lama berakhir, jejaknya masih terselip di sejumlah sudut kota. Istana Asherayah Al Kasimiyah yang pada masa lalu tercatat sebagai istana termegah di Riau merupakan salah satunya. Selain itu, terdapat kawasan Pecinan dan Kelenteng Hock Siu Kiong, yang mencerminkan solidaritas sultan terhadap bangsa pendatang, serta Masjid Syahabuddin, yang menggambarkan penyebaran agama Islam di Siak. Inilah kisah Negeri Istana untuk Anda.

Romantisisme Istana Matahari Timur

Siak merupakan destinasi menarik untuk disambangi. Selain letaknya strategis, sekitar 2,5 jam berkendara dari Pekanbaru (Ibu Kota Riau), kawasan ini juga sarat peninggalan bersejarah. Istana Asherayah Al Kasimiyah atau Istana Siak merupakan satu di antaranya.

Sejarah istana ini bermula dari keinginan Sultan Syarif Kasim Abdul Jalil Syaifuddin membangun istana baru pasca-naik takhta sekitar tahun 1889. Menurut Sukri, desain arsitektur istana dipercayakan kepada arsitek asal Jerman. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila desain istana ini merupakan perpaduan gaya rancang bangun Eropa, Timur Tengah, dan Melayu.

Nuansa Eropa diaplikasikan pada penggunaan jendela raksasa, kaca mozaik, dan langit-langit setinggi enam meter. Sementara gaya Timur Tengah digunakan pada fasad dan rupa bangunan yang menyerupai benteng abad pertengahan. Uniknya, pada puncak istana, terdapat enam patung burung elang yang melambangkan keberanian Kesultanan Siak Sri Indrapura.

Dibutuhkan waktu empat tahun untuk dapat menyelesaikan pengerjaan istana berluas 32.000 meter persegi itu. “Cukup lama memang, mengingat sebagian besar material dan perabotan didatangkan dari luar negeri. Pada zaman itu, moda transportasi antarnegara hanya melalui laut, yang membuat pengiriman barang membutuhkan waktu enam bulan hingga setahun,” kata Sukri.

(Baca juga: Kuliner Khas Melayu Pemanja Lidah di Siak)

Keberadaan istana ini terbagi atas enam ruang utama dengan jumlah koleksi mencapai 2.500 benda. Ruang Adat merupakan bagian pembuka yang memamerkan diorama pertemuan adat yang kerap dilakukan sultan.

Melangkah ke ruang selanjutnya, ada Ruang Gading, yang menyimpan berbagai peninggalan Kesultanan Siak Sri Indrapura yang didatangkan langsung dari sejumlah negara. Sendok makan misalnya, diimpor dari Jerman, sedangkan piring dikirim dari Perancis.

“Marmer yang digunakan pada lantai istana berasal dari China, sedangkan keramik yang ditempelkan di dinding didatangkan dari Swiss,” jelas Sukri.

Dari Ruang Gading, pengunjung dituntun memasuki Ruang Kristal, yang dirancang mewah dan klasik. Ruang yang didominasi warna putih itu memiliki meja sepanjang dua meter dengan 12 kursi berwarna pastel yang kerap digunakan permaisuri untuk menjamu para tamu kerajaan. Penggunaan lampu kristal, guci antik asal China, serta 10 cermin raksasa pada Ruang Kristal memperkuat kesan mewah pada keseluruhan tampilan.

Berdampingan dengan meja jamuan, dipajang patung Ratu Wilhelmina asal Belanda yang merupakan kenang-kenangan Sang Ratu untuk Sultan Syarif Kasim II. Patung itu, menurut cerita Sukri, merupakan perwujudan kisah kasih tak sampai antardua pemimpin kerajaan itu. “Sultan Syarif Kasim II itu rupawan. Penampilan fisik itulah yang memikat hati Ratu Wilhelmina. Sayangnya, perjalanan cinta keduanya harus kandas karena perbedaan keyakinan. Agar dapat saling mengenang, keduanya sepakat untuk saling bertukar patung diri,” papar Sukri.

Masih di Ruang Kristal, tepatnya di sudut kiri ruangan, dipajang cermin antik berbahan kristal dengan ukuran panjang 40 sentimeter dan lebar 30 sentimeter. Cermin tersebut merupakan hadiah Sultan Syarif Kasim II untuk sang permaisuri. “Konon, siapa saja yang becermin di cermin kristal ini dipercaya akan awet muda,” ungkap Sukri.

Dari Ruang Kristal, pengunjung dapat melanjutkan perjalanan ke Ruang Menginap di lantai dua. Untuk menuju ruang ini, pengunjung harus melewati tangga melingkar berwarna kuning menyala setinggi enam meter dengan lebar 80 sentimeter. Tangga ini didatangkan khusus dari Belanda.

Ruang Menginap membentuk lorong dengan empat bilik utama di kedua sisinya, serta ruang pamer di ujung koridor yang menghadap balkon. Keempat kamar berbahan kayu giam itu dibiarkan tanpa perabotan dan kini difungsikan sebagai ruang pamer yang memajang berbagai koleksi pribadi sultan dan keluarga.

Di sana dipajang berbagai foto keluarga kerajaan, foto kegiatan kenegaraan, pedang kerajaan, pakaian dan sepatu permaisuri, rompi yang pernah dikenakan Sultan Siak IX saat masih bayi, peralatan memasak, lonceng penentu waktu, dan foto-foto Ratu Wilhelmina.

Tur di istana ini dapat dilanjutkan ke Ruang Tamu Sultan di lantai satu yang berdampingan dengan Ruang Kristal. Namun, sebelum itu, pengunjung dapat melihat sebuah brankas tua berbahan baja produksi Jerman yang ditempatkan persis di bawah tangga. Berbagai cara dilakukan untuk mengetahui isi brankas setinggi dua meter dan lebar satu meter itu.

“Pernah coba dibor tetapi mata bor malah patah. Mendatangkan orang pintar dari Banten juga sia-sia. Terakhir, sejumlah ahli dari Institut Teknologi Bandung (ITB) mencoba untuk memindai brankas ini menggunakan pencitraan digital yang mampu menangkap gambar hingga kedalaman dua meter. Sayangnya, usaha itu juga sia-sia,” ujar Sukri.

Ruang Tamu Sultan memajang sebuah meja jati dengan panjang tujuh meter dan lebar 1,5 meter. Meja yang memiliki tuas untuk mengatur ukurannya itu, kata Sukri, merupakan produksi lokal yang dirancang oleh desainer lokal pula. Sebagai pelengkap, tersedia 14 kursi mengitari meja, lampu kristal, dan singgasana sultan bersepuh emas 24 karat yang dipamerkan dalam sebuah lemari kaca transparan.

Keistimewaan lain Ruang Tamu Sultan ini terletak pada ornamen simbolis yang disisipkan pada dindingnya. Patung anjing yang menggigit kelinci dan burung misalnya, bermakna penolakan Kesultanan Siak Sri Indrapura terhadap Pemerintahan Kolonial Belanda.

“Anjing menyimbolkan penjajah dan burung serta kelinci melambangkan rakyat Indonesia yang kala itu harus tunduk pada kelicikan VOC. Rakyat mau tidak mau harus menyerah pada praktik monopoli perdagangan yang dilakukan Belanda,” tuturnya.

Ruang Belakang merupakan bagian terakhir dari istana ini. Di sini, tersimpan berbagai peninggalan kerajaan, seperti gromofon antik produksi Jerman tahun 1886 bermerek Komet. Menurut Sukri, gromofon ini diboyong Sultan Syarif Kasim I dari Jerman saat kunjungannya ke Eropa pada tahun 1896.

Gromofon ini disimpan dalam sebuah lemari jati setinggi tiga meter dan lebar satu meter yang terbagi atas dua bagian. Di sisi atas tersimpan fonograf berbahan baja, sedangkan pada bagian bawah diletakkan piringan musik berpelat tembaga. Konon, gromofon merek Komet ini hanya tersisa dua di dunia.

“Selain yang ada di Istana Siak, gromofon Komet lainnya terdapat di Jerman. Namun, tidak seperti di Siak, gromofon Komet yang ada di Jerman sudah tidak berfungsi. Oleh karena usianya sudah 130 tahun, musik Beethoven, Strauss, dan Mozart dari gromofon ini hanya didendangkan saat ada kunjungan tamu penting,” kata Sukri.

Lepas menyusuri tiap-tiap ruang, pengunjung dapat melongok ke halaman istana. Di sisi kanan, sedikit menjorok ke belakang istana, terdapat Kapal Kato. Kapal ini kerap digunakan sultan dalam lawatannya ke luar negeri. Kapal produksi Belanda yang digerakkan tenaga batu bara tersebut terdiri atas dua tingkat. Panjangnya 20 meter, lebar tiga meter, dengan berat mencapai 15 ton.

Berhadapan dengan Kapal Kato, terdapat rumah dinas pejabat kesultanan yang mengusung rumah  panggung khas Melayu. Rumah itu sebenarnya sempat hancur pada tahun 1946 tetapi dibangun kembali menyerupai aslinya pada sekitar tahun 1978.

Sementara di halaman belakang istana terdapat Sumur Larangan. Dahulu, sumur ini kerap digunakan sultan untuk mandi dan mengambil wudu. “Percaya tidak percaya, sumur ini kerap digunakan masyarakat  untuk menyembuhkan penyakit. Biasanya orang yang terkena penyakit akan dimandikan menggunakan air dari sumur ini,” terang Sukri.

Penulis: Siska Maria