Jakarta, Venuemagz.com – Industri grafika mungkin jarang terlihat di panggung utama ekonomi kreatif. Namun, hampir tidak ada produk yang benar-benar bisa lepas dari sentuhan teknologi cetak, mulai dari kemasan, label, buku, materi promosi, hingga berbagai kebutuhan industri kreatif lainnya.
Kini batasnya bahkan semakin melebar. Teknologi cetak tidak lagi hanya berbicara tentang tinta di atas kertas, plastik, kain atau media dua dimensi. Perkembangan 3D printing membawa industri ini masuk ke wilayah yang lebih luas menciptakan benda sekaligus bentuknya.
Perubahan itulah yang menjadi salah satu gambaran perkembangan industri grafika yang akan terlihat dalam AllPrint Indonesia Expo 2026, yang memasuki penyelenggaraan ke-27 pada 7–10 Oktober 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Pameran yang digelar Krista Exhibitions ini akan menggunakan sejumlah hall di JIExpo dengan luas sekitar 23.000 meter persegi. Lebih dari 400 peserta dari 10 negara dijadwalkan ambil bagian, termasuk Indonesia, China, Korea Selatan, Jepang, Malaysia, Singapura, dan Jerman.
Bagi Daud Salim, CEO Krista Exhibitions, perubahan teknologi menjadi salah satu alasan mengapa industri grafika terus menarik untuk diikuti.
“Industri kreatif di bidang grafika sangat dinamis, terutama teknologi cetak digital,” kata Daud di konferensi pers AllPrint Indonesia Expo 2026, Selasa (22/9/2026), di Krista Business Center Gandaria City.
Perubahannya tidak lagi sebatas soal kemampuan mencetak. Teknologi berkembang pada kualitas, kecepatan, presisi, tinta hingga efisiensi biaya produksi.
Namun, menurut Daud, perkembangan teknologi cetak kini juga telah membawa industri grafika ke wilayah yang sebelumnya terasa jauh dari dunia percetakan, salah satunya adalah 3D printing.
Jika teknologi cetak konvensional menghasilkan gambar, tulisan, atau motif pada sebuah permukaan, 3D printing memungkinkan proses manufaktur menghasilkan objek dengan bentuk tiga dimensi. Material yang digunakan pun berkembang sesuai teknologi dan kebutuhan, dari berbagai jenis polimer hingga material lain yang dirancang untuk proses pencetakan tertentu.
Daud melihat perkembangan ini sebagai bagian dari perubahan besar dalam cara manusia memproduksi sesuatu. Ia bahkan mencontohkan perkembangan robot humanoid berbasis kecerdasan artifisial.
Material yang digunakan pada bagian tertentu robot dirancang menyerupai karakteristik kulit manusia, lentur, dan memiliki karakter permukaan tertentu. Perkembangan teknologi pencetakan tiga dimensi ikut membuka kemungkinan untuk menghasilkan komponen dengan bentuk serta karakter material yang semakin kompleks.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa pembicaraan mengenai industri printing hari ini sudah jauh lebih luas daripada sekadar mesin cetak dan tinta.
Teknologi pencetakan mulai bersinggungan dengan desain produk, manufaktur, industri kreatif hingga teknologi robotik. Batas antara industri grafika dan industri manufaktur pun perlahan semakin cair.
Pasar Grafika dan Ekonomi di Balik Cetakan
Di sisi lain, industri grafika konvensional masih memiliki pasar yang besar. Daud menyebut nilai pasar industri cetak grafika mencapai sekitar Rp190 triliun.
Angka tersebut menunjukkan bahwa bisnis grafika bukan sekadar industri pendukung, melainkan bagian dari rantai ekonomi yang bersinggungan dengan banyak sektor. Salah satu yang paling dekat adalah packaging.
Di AllPrint, teknologi percetakan untuk kemasan berbasis kertas dan karton menjadi salah satu bagian yang dapat ditemui. Sementara kebutuhan kemasan berbahan plastik memiliki ruang pamer tersendiri melalui AllPack Indonesia.
Namun, bagi industri grafika, packaging bukan semata soal membuat sebuah wadah produk. Ada satu elemen yang membuat teknologi cetak terus dibutuhkan brand.
“Sekarang ini tidak ada packaging apa pun yang tidak ada nama brand,” kata Daud.
Label, nama produk, informasi penggunaan, petunjuk hingga identitas visual sebuah produk semuanya membutuhkan teknologi cetak.
Karena itu, pertumbuhan merek dan produk di pasar ikut menciptakan kebutuhan terhadap industri grafika. Di titik inilah digital printing menemukan relevansinya.
Teknologi memungkinkan produksi menjadi semakin fleksibel, presisi dan efisien, termasuk untuk kebutuhan yang sebelumnya sulit dilakukan dengan teknologi konvensional.
Perkembangan tinta juga menjadi bagian dari perubahan tersebut. Daud juga berbicara berdasarkan pengalaman 27 tahun menggelar pameran, kualitas tinta kini semakin baik dan lebih ramah lingkungan. Bahkan sebagian kebutuhan tinta cetak mulai diproduksi di dalam negeri.
Perubahan itu ikut mengubah pengalaman di ruang produksi. Menurut Daud, lingkungan kerja industri percetakan yang dahulu identik dengan bau menyengat kini semakin nyaman seiring perkembangan teknologi tinta dan perangkat cetak.
Investasi industri cetak print pun memiliki rentang yang lebar. CEO Krista ini menyatakan pelaku usaha dapat masuk ke bisnis grafika dengan investasi mulai sekitar Rp50 juta–Rp100 juta, sementara untuk skala tertentu kebutuhan investasinya dapat mencapai miliaran rupiah.
Artinya, teknologi cetak bukan hanya menjadi arena pemain industri besar. Pelaku usaha kecil dan industri kreatif skala menengah juga memiliki ruang untuk masuk, menyesuaikan teknologi dengan kebutuhan dan segmen pasar yang dibidik.
Jakarta Menjadi Titik Temu Industri Grafika
AllPrint Indonesia 2026 juga membawa dimensi MICE yang lebih luas. Bukan hanya ratusan perusahaan dari dalam dan luar negeri yang akan bertemu di Jakarta. Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI) juga akan menggelar Munas ke-11 bersamaan dengan rangkaian kegiatan pameran.
Ketua Umum PPGI Ahmad Mughira Nurhani mengatakan, agenda tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus konsolidasi organisasi yang telah berlangsung sejak 1974. Perwakilan pengurus PPGI dari 23 provinsi, dari Aceh hingga Nusa Tenggara Timur, dijadwalkan berkumpul di Jakarta.
Kehadiran mereka membuat AllPrint tidak berhenti sebagai ruang transaksi antara exhibitor dan pengunjung. Jakarta sekaligus menjadi tempat bertemunya pelaku industri grafika dari berbagai daerah untuk membicarakan arah perkembangan sektor tersebut.
Mughi mengatakan, sinergi antara pameran dan munas diharapkan dapat mendorong investasi baru serta memperkuat daya saing industri grafika Indonesia di tingkat global.
Bagi ekosistem MICE Jakarta, pola seperti ini memiliki arti penting. Satu event tidak hanya mendatangkan exhibitor dan pengunjung, tetapi juga membawa agenda organisasi, konsolidasi industri serta pertemuan bisnis dalam waktu dan lokasi yang sama.
Belum lagi kehadiran peserta internasional yang membawa teknologi dan perspektif dari negara-negara dengan perkembangan industri grafika yang berbeda.
Dari Mesin Cetak ke Ekosistem Ekonomi Kreatif
Pemerintah juga melihat industri grafika sebagai bagian dari ekosistem ekonomi kreatif yang perlu terus dikembangkan.
Cecep Rukendi, Deputi Bidang Kreativitas Media Kementerian Ekonomi Kreatif, mengatakan, pemerintah memiliki tugas membangun ekosistem agar subsektor kreatif, termasuk industri cetak grafika dapat tumbuh secara kondusif, sehat, adil dan berkelanjutan.
Menurut Cecep, pengembangan ekonomi kreatif juga tidak cukup berhenti pada aktivitas bisnis. Pemerintah ingin mendorong lahirnya champion, pelaku usaha kreatif yang mampu tumbuh dan memiliki daya saing lebih kuat.
Dalam konteks tersebut, industri penerbitan menjadi salah satu sektor yang berkaitan erat dengan perkembangan industri grafika.
Penyelenggaraan AllPrint pada Oktober ini juga beririsan dengan agenda Oktober Kreasi, yang disiapkan Kementerian Ekonomi Kreatif sebagai momentum perayaan kreativitas selama satu bulan. Momentum tersebut berkaitan dengan Hari Ekonomi Kreatif Nasional pada 24 Oktober.
Dengan demikian, AllPrint Indonesia 2026 berada di persimpangan beberapa kepentingan sekaligus, kebutuhan industri terhadap teknologi baru, peluang investasi, pertemuan bisnis, konsolidasi pelaku usaha daerah serta agenda penguatan ekonomi kreatif nasional.
Empat hari di JIExpo Kemayoran nantinya bukan hanya soal mesin yang mencetak lebih cepat. Di balik suara mesin, tinta, kertas, label dan kemasan, ada industri yang sedang beradaptasi dengan perubahan teknologi.
Dan ketika lebih dari 400 peserta dari 10 negara bertemu dengan pelaku industri dari berbagai daerah Indonesia di Jakarta, AllPrint Indonesia 2026 memperlihatkan wajah industri grafika yang semakin luas.
Dari mencetak identitas sebuah produk hingga membentuk sebuah objek tiga dimensi, teknologi printing terus bergerak mengikuti kebutuhan industri.




