Atraksi Kebo-Keboan jadi Daya Tarik Wisatawan ke Banyuwangi

Monday, 24 September 18 Venue
Atraksi Kebo-Keboan

Penyelenggaraan event menjadi salah satu daya tarik sektor pariwisata Kabupaten Banyuwangi. Wilayah berjuluk Sunrise of Java tersebut sepanjang 2018 memiliki 77 kegiatan. Jika dirata-ratakan dalam satu bulan kabupaten ini menggelar 6-7 event.

Salah satu event budaya yang masuk dalam Calendar of Event Kabupaten Banyuwangi adalah Ritual Budaya Kebo-Keboan yang digelar di Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, Jawa Timur. “Event ini sudah masuk di agenda festival Banyuwangi. Event ini merupakan swadaya masyarakat Desa Alasmalang,” ujar Abdullah Azwar Anas, Bupati Banyuwangi.

Azwar Anas juga mengaku pihaknya terus menjaga kegiatan seperti ini, bahkan event seperti ini sangat terus didorong agar masyarakat bisa menikmati langsung dampaknya.

Event seperti ini sangat mengantre, namun kita melihat kesiapan masyarakat menjadi hal utama. Ini dalam rangka mendorong kebudayaan mendapat dampak dari kegiatan Banyuwangi Festival sehingga bisa membawa dampak besar buat pariwisata di Indonesia, khususnya Banyuwangi,” ujarnya.

Event Kebo-Keboan sendiri dimulai dari persiapan para peserta yang bertubuh tambun berdandan layaknya kerbau. Mereka memakai aksesori lengkap dengan tanduk buatan dan lonceng di lehernya. Tidak hanya itu, agar terlihat mirip kerbau, mereka melumuri tubuhnya dengan cairan hitam yang terbuat dari campuran minyak goreng dan arang.

Sebelum pawai Kebo-keboan dimulai, para sesepuh di desa Alasmalang menggelar upacara selamatan hingga pembacaan doa. Hal itu untuk meminta berkah keselamatan selama acara berlangsung. Tampak hadir Kepala Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata Guntur Sakti serta Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid juga ikut dalam ritual budaya yang digelar pada penanggalan jawa 1-10 Muharam atau Suro.

Usai upacara selamatan, dimulailah arak-arakan kerbau manusia. Mereka diarak layaknya kerbau yang sedang membajak sawah, lengkap dengan tali untuk mengikat kerbau. Para kerbau manusia didampingi petani di belakangnya. Petani sendiri tidak bisa memaksa ke mana Kebo-keboan itu berjalan, hanya sebatas mengarahkan.

Mereka jalan ke segala arah untuk mencari kubangan lumpur. Menyeruduk warga yang melihat. Tak jarang penonton wanita yang menjadi sasarannya. Setelahnya, mereka mencemplungkan diri di kubangan yang dekat dengan balai desa.

Setelah kebo-keboan berkumpul di kubangan, munculah peran Dewi Sri (Simbol Kesuburan dan Kemakmuran) untuk menebar benih. Hal itu sebagai pertanda bila pertanian segera dimulai dan para kerbau sibuk berebut benih yang dilemparkan Dewi Sri itu.

“Ritual serta budaya menjadi satu kesatuan yang tak dipisahkan sehingga semua bisa menikmati. Banyuwangi memberi penghargaan kepada masyarakat melalui tradisi budaya dengan dihormati. Hal itu yang membuat masyarakat akan berkembang dengan sendirinya,” ujar Anas.

Di kesempatan yang sama, Guntur Sakti mengatakan, ritual budaya Kebo-Keboan menjadi wisata atraktif yang mengeksplorasi seni budaya dab keindahan alam hingga potensi daerah yang bisa jadi pilihan menarik untuk wisatawan.

“Atraksi ini sebagai cara ampuh untuk meningkatkan awareness orang masyarakat Banyuwangi. Dan sudah terbukti, banyak wisatawan baik domestik maupun mancanegara menikmati aneka atraksi wisata di Banyuwangi. Direct impact-nya juga langsung terasa oleh masyarakat,” ungkap Guntur.