Venuemagz.com – Brand fashion dan lifestyle, Buttonscarves, kembali menunjukkan kiprahnya di panggung mode internasional melalui Dubai Fashion Week S/S 26. Acara ini merupakan penampilan kedua Buttonscarves dalam panggung mode Dubai yang sebelumnya telah sukses pada tahun 2024.
Pada kesempatan ini, Buttonscarves, mempersembahkan sejumlah koleksi terbarunya dengan palet warna lebih berani, detail tegas, hingga sentuhan craftsmanship yang semakin istimewa. Seluruh koleksinya ini bukan sekadar untuk dikenakan, melainkan untuk menyampaikan pernyataan.
Koleksi ini didominasi warna emas, hitam, dan silver, yang seluruhnya membentuk narasi kuat tentang kekuatan, keanggunan, dan visi. Narasi tersebut menjadikan koleksi ini bukan hanya sebagai busana, tetapi juga sebuah pernyataan identitas.Â
Setiap koleksinya merefleksikan semangat perempuan modern yang dinamis, percaya diri, dan unapologetic dalam mengekspresikan dirinya. Potongan arsitektural, siluet tegas, dan DNA monogram khas Buttonscarves menegaskan bagaimana fashion dari Global South dapat berdiri sejajar di panggung internasional.
“Kami datang dari Asia Tenggara, membawa cerita, warisan, dan keyakinan bahwa modest fashion bisa menjadi kuat sekaligus mendunia,” ujar Linda Anggrea, CEO Buttonscarves & Modinity Group dalam rilis berita yang diterima Venuemagz.com.

Buttonscarves terlahir dengan ambisi besar dan kini dikenal sebagai nama yang identik dengan elegansi, kebanggaan budaya, dan inovasi. Oleh sebabnya, Dubai Fashion Week dijadikan salah satu panggung untuk memenuhi ambisi tersebut yang disatukan dengan sebuah karya.
“Sekarang kita lihat, Buttonscarves is here to show the world what we stand for,” Linda menambahkan.
Kehadiran Buttonscarves di Dubai Fashion Week juga menegaskan misi brand untuk terus berekspansi secara global. Sebelumnya, brand ini telah melakukan berbagai aktivitas internasional dan membuka flagship store di Singapura.
“Dengan dukungan komunitas yang setia dan audiens internasional yang terus berkembang, Buttonscarves tidak hanya mempersembahkan koleksi, tetapi juga membangun sebuah gerakan budaya,” tutupnya.





