Catatan Akhir Tahun 2020, Menjawab Tantangan 2021

Thursday, 03 December 20 Harry

Indonesia Professional Organizer Society (IPOS) menggelar kegiatan IPOS Summit pada 3-4 Desember 2020 secara daring. IPOS edisi ketujuh ini mengangkat tema “Membangun Pariwisata yang Berkualitas & Berkelanjutan”

Untuk membuka kegiatan ini, diselenggarakan forum diskusi dan pemaparan dari para tokoh yang kompeten mewakili enam kelompok hexahelix, yakni dari pemerintah, komunitas, media, akademisi, bisnis, dan pengamat.

Mengangkat tema “Catatan Akhir Tahun 2020, Menjawab Tantangan 2021”, diskusi ini mengangkat topik utama mengenai penerapan CHSE dan keterkaitannya pada keberlangsungan industri MICE dan event Indonesia, serta langkah-langkah terobosan solutif untuk menjawab tantangan industri pariwisata pada tahun 2021.

Harry Nugraha, pendiri IPOS, mengatakan, “CHSE adalah kebutuhan semuanya. Penerapan CHSE saat ini adalah pilihan yang paling waras di tengah pandemi ini karena kita harus bergerak dan keluar untuk mencari makan.”

BACA JUGA:   Survei IVENDO: 85 Persen Perusahaan Event Belum Memiliki Sertifikasi CHSE

Herbin Saragi, Direktorat Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, mengatakan, “CHSE juga menjadi pedoman bagi wisatawan untuk melakukan perjalanan wisata. Ke depannya, wisatawan itu lebih cenderung memprioritaskan keamanan dibandingkan harga. Wisatawan juga lebih fokus pada tempat yang ramah lingkungan dan ada physical distancing-nya.”

Oleh karena itu, pemerintah melalui Kemenparekraf mengeluarkan protokol kesehatan CHSE yang harus diterapkan di seluruh pelaku pariwisata. Untuk memastikannya, Kemenparekraf akan memberikan sertifikasi Indonesia Care (I Do Care) kepada pelaku pariwisata yang telah menjalankan protokol kesehatan sesuai dengan standar.

“Sertifikasi ini telah dimulai sejak Oktober 2020, dan sudah ada sekitar 10.000 yang mendaftar. Adapun yang akan diaudit berjumlah 6.626 pelaku wisata. Artinya, antusias orang-orang sangat tinggi, padahal target kita hanya sekitar 6.000 pelaku. Makanya, ini akan dilanjutkan pada tahun 2021,” ujar Herbin.

BACA JUGA:   Indonesia Bersiap Rayakan Hari Pekerja Event Nasional

Ada tiga manfaat utama dari memiliki sertifikasi I Do Care. Pertama, meningkatkan percaya diri bagi calon wisatawan untuk mengunjungi destinasi dan usaha pariwisata. Kedua, meningkatkan percaya diri bagi calon wisatawan bahwa industri pariwisata Indonesia menerapkan protokol kesehatan COVID-19. Ketiga, menyatakan kepada calon wisatawan bahwa tempat kita sangat peduli tentang kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan.

Pada tahun 2021, wisata domestik akan menjadi primadona. Agus W. Soehadi, Wakil Rektor Universitas Prasetiya Mulya, mengatakan, akan ada perilaku yang berbeda saat ini dibanding sebelum terjadinya pandemi. “Ada banyak ketakutan bertemu orang tidak dikenal, takut bersentuhan, takut terinfeksi COVID-19 dan menularkannya ke keluarga, takut membawa virus dari luar negeri, dan takut jauh dari fasilitas kesehatan,” ujar Agus.

BACA JUGA:   Ini Tema-Tema Menarik ITB Berlin 2016

Agus menambahkan, pariwisata domestik berpotensi menyumbang pemasukan sebesar US$10,4 miliar atau sekitar Rp150 triliun. Di tahun depan, tren pariwisata akan berubah, antara lain orang-orang lebih banyak melakukan road trip menggunakan kendaraan sendiri dibandingkan menggunakan transportasi umum, destinasi wisata alam akan semakin populer, serta protokol kesehatan akan menjadi pertimbangan utama dalam memilih produk wisata.