Berlin, Venuemagz.com – Di tengah ketatnya persaingan destinasi global, Indonesia kembali tampil di panggung pariwisata dunia. Pada ajang ITB Berlin 2026, pameran pariwisata business-to-business (B2B) terbesar dan paling bergengsi di dunia, Indonesia mengusung kampanye #GoBeyondOrdinary sebagai pesan utama promosi Wonderful Indonesia.
ITB Berlin yang berlangsung pada 2–5 Maret 2026 di Berlin ExpoCenter, Messe Berlin, menjadi etalase penting bagi negara-negara yang ingin mengamankan pasar wisatawan Eropa dan global. Paviliun Indonesia berdiri di Hall 26, Booth 111, dengan luas 441 meter persegi, salah satu partisipasi terbesar dalam lima tahun terakhir.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana saat membuka Paviliun Indonesia pada Selasa (3/3/2026) menegaskan bahwa tema #GoBeyondOrdinary dipilih untuk menempatkan Indonesia bukan sekadar sebagai destinasi dengan panorama indah, melainkan sebagai negara yang menawarkan pengalaman wisata berkualitas dan bernilai tambah.
Menurutnya, kampanye ini merupakan turunan dari program unggulan “Quality Tourism”, yang menekankan prinsip keberlanjutan dan inklusivitas. Narasi yang dibangun adalah pergeseran dari pariwisata berbasis kuantitas menuju kualitas (lebih sedikit), tetapi belanja lebih tinggi dan berdampak langsung bagi masyarakat lokal.
Namun, di balik jargon yang terdengar ambisius, pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana konsep quality tourism benar-benar terimplementasi di lapangan. Isu kepadatan destinasi, tata kelola sampah, konektivitas antar-wilayah, hingga disparitas kualitas SDM pariwisata masih menjadi pekerjaan rumah yang kerap disorot wisatawan mancanegara.
Di ITB Berlin tahun ini, Indonesia mempromosikan lima paket wisata minat khusus: pariwisata bahari, gastronomi, kebugaran (wellness), wastra Nusantara, serta pariwisata ramah Muslim. Selain itu, Kementerian Pariwisata juga menampilkan Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP) dan Destinasi Pariwisata Regeneratif (DPR), yang dikemas melalui konsep immersive experiences untuk menarik minat buyers internasional.
Sebanyak lebih dari 91 pelaku industri dari 11 provinsi ikut ambil bagian, mulai dari penyedia akomodasi, Destination Management Company (DMC), agen perjalanan, desa wisata, hingga pelaku jasa pariwisata lainnya. Angka ini menunjukkan upaya kolaboratif yang cukup besar, sekaligus mencerminkan keseriusan pemerintah menjaga eksistensi Indonesia di pasar global yang semakin kompetitif.
Pasar Eropa sendiri masih menjadi salah satu kontributor penting wisatawan jarak jauh (long-haul market) bagi Indonesia. ITB Berlin menjadi momentum strategis karena mempertemukan buyers dari Eropa, Timur Tengah, Asia hingga Afrika. Dalam konteks ini, promosi wisata ramah Muslim juga dinilai memiliki potensi pertumbuhan, seiring meningkatnya kebutuhan layanan halal tourism secara global.
Kementerian Pariwisata menargetkan potensi transaksi sebesar 498.000–541.000 pax atau setara dengan Rp12,9 – Rp14,3 triliun potensi devisa. Target tersebut mencerminkan optimisme bahwa tren pemulihan perjalanan internasional akan terus berlanjut pada 2026.
Meski demikian, realisasi angka transaksi di pameran B2B kerap bergantung pada tindak lanjut konkret pasca-event. Kontrak awal yang diteken di ajang seperti ITB Berlin membutuhkan kesinambungan promosi, stabilitas harga tiket penerbangan, serta kepastian keamanan dan kenyamanan destinasi agar benar-benar terkonversi menjadi kunjungan riil.
Dalam rangkaian kunjungannya di Berlin, Menteri Pariwisata juga menyempatkan diri mengunjungi Rumah Budaya Indonesia (RBI) Berlin, yang dikelola Kedutaan Besar RI. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari diplomasi budaya, memperkuat citra Indonesia tidak hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai bangsa dengan kekayaan tradisi dan seni.
Partisipasi Indonesia di ITB Berlin 2026 menunjukkan bahwa sektor pariwisata masih diposisikan sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, kampanye #GoBeyondOrdinary pada akhirnya tidak hanya diuji di panggung pameran internasional, melainkan di destinasi-destinasi itu sendiri seperti di desa wisata, di pelabuhan, di bandara, dan di ruang interaksi antara wisatawan dan masyarakat lokal.
Karena melampaui yang biasa bukan sekadar slogan, melainkan komitmen yang harus dirasakan langsung oleh wisatawan ketika mereka benar-benar menjejakkan kaki di Indonesia.





