Konferensi ICA-IUMRS untuk Pembangunan Ramah Lingkungan

Monday, 05 November 18   9 Views   0 Comments   Nila Sofianty
Bali & Beyond Travel Fair 2018
Foto: Venuemagz/Erwin

Indonesia diberi kepercayaan menjadi tuan rumah 19th International Conference in Asia-International Union of Materials Research Societies (ICA-IUMRS). Konferensi internasional yang dihadiri 200 partisipan dan 40 pembicara dari 20 negara itu berlangsung pada 31 Oktober 2018 di Hotel Anvaya Kuta Bali.

Sri Adiningsih, Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), mengatakan, konferensi ICA-IUMRS ini akan sangat membantu merealisasikan pembangunan berkesinambungan yang ramah lingkungan. Ia mengatakan, Indonesia memiliki komitmen di dalam Kesepakatan Iklim Paris 2015 untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen pada 2030, dan tentunya hal itu perlu didukung oleh semua pihak. Untuk itu, pemerintah Indonesia ingin mewujudkan pembangunan berkesinambungan yang ramah lingkungan, salah satunya melalui penciptaan kota hijau.

“Perusahaan-perusahaan diaudit pemenuhannya terhadap lingkungan, dan kota-kota juga mulai banyak yang hijau, penggunaan energi baru terbarukan, serta mengurangi kebakaran di pulau Sumatera dan Kalimantan,” ujar Sri.

Sri berharap, konferensi internasional ini akan menghasilkan pencapaian signifikan, di antaranya soal realisasi green technology. Masyarakat material sains pun diminta merumuskan road map dari implementasi green technology dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.

“Tentu saja masyarakat material sains ini penting sekali. Sekarang juga mulai muncul plastik yang degradable yang bersahabat dengan lingkungan, dan saya berharap banyak material-material lain yang mereka ciptakan yang tentunya bersahabat terhadap lingkungan,” ujar Sri.

Prof. Evvy Kartini, Peneliti BATAN sekaligus Presiden MRS (Materials Research Society) Indonesia, mengatakan pertemuan ini dihadiri oleh para ahli dari berbagai latar belakang bidang ilmu. “Para peserta konferensi dari 20 negara ini berasal dari berbagai bidang ilmu, di antaranya yang memiliki keahlian di bidang energi, kesehatan, lingkungan, dan aplikasi nuklir,” ujar Prof. Evvy Kartini.

Menurutnya, dunia, khususnya Indonesia, dapat memanfaatkan komponen material sains untuk mendukung terwujudnya program pembangunan berkelanjutan, semisal energi kendaraan listrik berbasis energi baru terbarukan dan materi baterai lithium.

Untuk itu, ia berharap nanti para peserta konferensi ini bisa mencari rencana kerja dan juga aksi konkret, bagaimana green technology itu bisa dihasilkan yang bisa menjadi komitmen masyarakat material sains, agar ikut mendukung pembangunan berkelanjutan dan yang tentunya mengurangi emisi gas rumah kaca dan mengurangi perusakan lingkungan.