R.E.D Tampilkan Furnitur dari Bahan Daur Ulang

Thursday, 14 March 19 Bonita Ningsih
red

Pameran Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2019 yang menghadirkan lebih dari 600 peserta ternyata memiliki keunikan masing-masing. Salah satu peserta pameran dari Yogyakarta, R.E.D (Reclaimed Exotic Desirables), menghasilkan banyak furnitur dari bahan daur ulang.

Rahardhaniek, Sales dan Marketing R.E.D, mengatakan, bahan yang digunakan untuk membuat produknya berasal dari kayu-kayu rumah tua yang sudah tidak terpakai lagi. Berbahan dasar kayu jati dan kayu jawa, pihaknya membuat banyak furnitur di dalam ruangan, seperti meja, kursi, lemari, kabinet televisi, lampu, vas bunga, dan beberapa interior indoor lainnya.

“Semuanya dari recycle wood. Jadi, tidak menebang buat mendapatkan kayunya. Kalau kayu jawa dari Palembang, dan kayu jati dari Pulau Jawa,” kata Dian.

Selain untuk menjaga alam, pemilihan bahan daur ulang dilakukan agar produk yang dihasilkan kuat dan tahan lama. Setiap furnitur yang diciptakan juga memiliki pesona menarik karena kayu-kayu yang digunakan memiliki karakter unik tersendiri.

“Barang-barang yang dihasilkan itu seperti natural dan alami. Makanya kita memilih daur ulang dari kayu-kayu rumah tua. Jadi, pengrajin kita itu memanfaatkan karakteristik dari kayu-kayu tua itu. Jadi noda asli pada kayu dan retakan-retakan kayu itu masih dapat kita lihat,” katanya lagi.

Keunikan yang dihasilkan itu membuat R.E.D berani menampilkan produk-produknya di pameran IFEX. Bahkan, tahun ini merupakan kali keempat pihaknya membuka stan di pameran IFEX 2019.

“Kita lihat ada peluang di sini. Apalagi yang datang kebanyakan orang dari luar negeri ya karena memang target pemasaran kita itu orang luar, seperti dari Eropa, Amerika, Cina, dan Australia,” ujar Dani.

Menurutnya, orang Indonesia masih belum tertarik dengan barang-barang natural atau alami seperti yang dihasilkan R.E.D. Pasalnya, harga yang ditawarkan untuk barang tersebut memang lebih mahal dari barang yang biasa dipasarkan di Indonesia.

“Orang lokal maunya pakai barang ekonomis dari Jepara, dan mereka itu enggak terlalu concern dengan barang interior seperti ini. Jadi, wajar saja kebanyakan pembeli di sini itu asing,” ucapnya.

Bahkan, menurutnya, transaksi di IFEX 2019 ini mengalami kenaikan yang signifikan dari tahun-tahun sebelumnya. Dian menjelaskan, hingga hari ketiga ini transaksinya sudah naik 30 hingga 50 persen dari tahun sebelumnya.

“Dulu kan para buyer pada ke Singapura buat pameran, tapi sekarang pindah ke sini semua karena di sana pamerannya sudah mati. Jadi, tahun ini memang lebih banyak buyer-nya,” ungkapnya.

Harga yang ditawarkan mulai dari US$8 hingga US$400. Menurutnya, barang yang paling diminati pembeli adalah meja makan dari kayu jati dengan kisaran harga US$280.