Andhy Irawan: Mengubah yang Tidak Tepat Menjadi Tepat

Monday, 19 October 20 Harry Purnama
Teraskita Hotel Jakarta managed by Dafam

Beberapa waktu lalu ramai pemberitaan mengenai hotel yang dijadikan tempat karantina pasien COVID-19 yang tanpa gejala (OTG). Pengalihfungsian hotel menjadi tempat karantina ini untuk mengantisipasi Wisma Atlet yang kapasitasnya hampir penuh.

Andhy Irawan, CEO Dafam Hotel Management (DHM), mengatakan, proses penunjukan hotel menjadi tempat isolasi OTG adalah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang mendata hotel mana saja yang standar kesehatannya sudah sesuai dengan protokol penanganan COVID-19.

“Kalau soal protokol kesehatan, hotel sudah punya SOP sendiri, begitu juga dari asosiasi. Tapi, begitu appointed jadi tempat OTG, protokol kesehatannya ditingkatkan lagi karena berbeda dengan protokol kesehatan untuk tamu biasa,” ujar Andhy. “Kalau ada sertifikasi dan standar, itu akan lebih baik lagi. Tapi saya yakin sudah ada minimum standar dari masing-masing hotel, tinggal memperketat dan mempertajam protokol kesehatan yang ada.”

Andhy menambahkan, kebanyakan dari hotel-hotel yang mengambil tawaran menjadi tempat isolasi pasien OTG adalah karena operasional. Mafhum, di masa pandemi ini tingkat hunian hotel terjun drastis karena kegiatan bisnis dan leisure juga nyaris berhenti.

Di sisi lain, hotel yang menjadi tempat isolasi pasien COVID-19 juga akan memberikan persepsi negatif kepada para tamu nantinya. “Saya juga harus mikir customer after COVID, persepsinya terhadap hotel kita,” ujar Andhy.

Andhy menambahkan, penunjukan hotel menjadi tempat isolasi pasien OTG menimbulkan polemik, antara tepat atau tidak tepat. “Namun, Saya punya pandangan lain. Saya ingin mengubah paradigma yang tidak tepat tadi karena kita sedang susah semua,” ujar Andhy.

Meski condong ke pihak yang menentang hotel dijadikan lokasi isolasi pasien OTG, Andhy mengatakan ada empat hal yang harus diluruskan agar hotel memang tepat dijadikan tempat isolasi pasien OTG. Pertama, harus ada kejelasan, apakah setengah dari jumlah kamar atau semua yang digunakan.

Kedua, protokol kesehatannya. “Kalau ditunjuk jadi tempat OTG, harusnya protokol kesehatannya sudah jelas. Keluarga tidak boleh berkumpul di lobi,” ujar Andhy.

Ketiga, recovery. “Ini jujur menjadi beban karena market umum khawatir kalau menginap di hotel bekas OTG,” tambah Andhy.

Yang terakhir dan terpenting adalah transparansi pembayarannya. “Ada salah satu hotel saya yang ditunjuk menjadi tempat isolasi OTG, sampai hari ini saya belum dibayar sekitar Rp1 miliar,” ujar Andhy. “Kami juga butuh makan untuk karyawan. Kita butuh kerja sama yang baik. Yang dimaksud transparansi adalah bayarnya kapan.”

“Jadi, keempat poin itu harus diselesaikan oleh pemerintah, supaya tidak tepat menjadi tepat. Grand design-nya harus dibuat dulu supaya jelas, baru disosialisasikan,” tutup Andhy.