Jakarta, Venuemagz.com – Pemerintah menyebut pariwisata Indonesia terus tumbuh. Target wisatawan mancanegara 2025 disebut tercapai. Perjalanan wisatawan nusantara menembus miliaran.
Namun di lapangan, sebagian pelaku industri hotel justru merasakan hal sebaliknya: kamar kosong dan margin yang menipis.
“City okupansi 30 persen. Benchmark sehat industri itu di atas 60 persen. Jadi mau bilang pertumbuhan itu dirasakan siapa?” kata Andhy Irawan Kristyanto, Founder dan CEO MORA Group, dalam diskusi bersama Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (FORWARPAREKRAF), yang dihadiri sejumlah jurnalis secara terbuka.
Andhy bukan pemain kecil. MORA Group mengelola dan mengembangkan sejumlah properti hotel di berbagai kota. Ia juga pernah terlibat dalam badan promosi pariwisata dan aktif mengikuti pameran internasional seperti ITB Berlin dan MATTA Fair. Dari posisi itu, ia melihat ada yang tak sinkron antara angka makro dan realitas bisnis.
Angka Naik, Hotel Sepi
Pemerintah mencatat kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) 2025 berada di kisaran target 14-16 juta. Perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) bahkan menembus lebih dari satu miliar perjalanan. Di atas kertas, itu terlihat impresif.
“Tapi 2019 kita sudah 16 juta wisman. Kalau sekarang 15 juta lalu dibilang berhasil, berhasilnya di mana? Industri merasakan tidak? Itu pertanyaan dasarnya,” ujar Andhy.
Ia menegaskan, indikator utama bagi pelaku hotel sesungguhnya sederhana: okupansi dan margin laba.
“Selama hotel itu ramai dan ada profit margin, investor akan terus bangun. Tapi kalau okupansi city cuma 30 persen, ya tinggal kuat-kuatan saja. Yang punya orang kaya mungkin bangga, tapi itu bukan ukuran sehat,” ucapnya.
Menurut Andhy, menjadikan angka kunjungan sebagai KPI utama membuat pemerintah berpotensi terjebak dalam zona nyaman. “Kunjungan wisata itu one of ten, bukan everything. Jangan dijadikan satu-satunya alat ukur,” katanya.
Nonton Video Sumber: https://youtu.be/_HAbkPyiDj8?si=maUVwlNcTPCK4QCv
Tata Kelola yang Tersendat
Dalam forum tersebut, para wartawan FORWARPAREKRAF bergantian mencecar Andhy soal akar persoalan. Ia menyebut masalah utama bukan pada destinasi, melainkan tata kelola.
“Destinasi kita tidak kalah. Gunung ada, laut ada, budaya ada. Missing link-nya di tata kelola. Cara mengaturnya kurang pas,” ujar Andhy.
Ia mengibaratkan ekosistem pariwisata seperti orkestra. Negara seharusnya menjadi dirigen, bukan ikut bermain alat musik.
“Negara tidak perlu jualan. Negara mengatur. Jangan overlapping. Sekarang kesannya negara ikut jualan, padahal asosiasi dan pelaku industri yang seharusnya closing,” katanya.
Ia mencontohkan keikutsertaan Indonesia dalam berbagai pameran internasional. Menurutnya, kehadiran Indonesia sering kali berhenti pada promosi, bukan transaksi.
“ITB Berlin, MATTA Fair, ITB Asia, tiap tahun ikut. Tapi targetnya apa? KPI-nya detail tidak? Jangan cuma habis brosur lalu pulang. Itu bukan close deal,” ujar Andhy.
Ia bahkan menceritakan pengalaman ketika mengikuti ITB Berlin. Setelah melakukan penjajakan bisnis jangka panjang dengan agen luar negeri, ia justru mendapat respons birokratis yang menurutnya menunjukkan cara pandang jangka pendek.
“Orang Eropa itu planning dua tahun ke depan. Tapi yang ditanya, ‘Mana duitnya sekarang?’ Kalau mindset-nya seperti itu, sulit bicara strategi,” katanya.
Anomali Kebijakan dan Hotel yang Kolaps
Kritik Andhy juga menyasar inkonsistensi kebijakan, khususnya pada segmen MICE dan government market. Ia menyebut ada hotel-hotel daerah yang sangat bergantung pada kegiatan pemerintah.
“Begitu ada kebijakan pembatasan, hotel yang 80 – 90 persen government langsung kolaps. Unpaid leave, meeting room kosong. Itu real,” ujarnya.
Menurut dia, kebijakan yang berubah mendadak tanpa transisi membuat perencanaan bisnis yang disusun tahunan menjadi berantakan.
“Budget itu disusun setahun. Kalau hari ini boleh, besok tidak boleh, ya pusing. Dampaknya bukan cuma ke pemilik, tapi ke karyawan,” katanya.
Ia menilai pemerintah perlu memiliki helikopter view dan konsisten dalam regulasi. “Jangan hari ini bilang dorong pariwisata, besok MICE dibatasi. Itu anomali,” ucapnya.
Belajar dari Singapura dan Vietnam
Dalam diskusi tersebut, Andhy juga membandingkan tata kelola Indonesia dengan negara lain. Ia menyebut Singapore Tourism Board (STB) sebagai contoh konsistensi dan kolaborasi lintas sektor.
“STB itu engage stakeholder, jelas targetnya, commit. Put the money for all. Itu 15–20 tahun lalu saya sudah lihat,” katanya.
Ia juga menyinggung Vietnam yang dinilainya agresif dalam menarik investasi. “Government-nya siapin infrastruktur. Mereka bilang, mau invest di mana? Kita siapkan. Sampai sedetail itu,” ujarnya.
Sebaliknya, Indonesia dinilainya masih berputar pada angka global tanpa detail dampak ke industri. “Kita terlalu nyaman dengan angka makro. Padahal city occupancy tidak naik,” kata Andhy.
Indonesia ‘Seksi’, Tapi…
Ironisnya, di tengah kritik tersebut, Andhy mengakui Indonesia sangat menarik bagi investor asing. Ia mengaku telah menjalin komunikasi dengan investor dari Jepang, Timur Tengah, hingga Tiongkok.
“Indonesia itu seksi. Populasi besar. Ambil sedikit saja sudah besar. Mereka lihat potensi itu,” ujarnya.
Namun ia menekankan pentingnya selektivitas dan komitmen jangka panjang. “Bukan cuma bawa uang lalu main masuk. Ini negara saya. Harus sefrekuensi, harus ada komitmen,” katanya.
Meski begitu, ia mengakui investasi yang lebih mudah terealisasi masih terpusat di kota besar seperti Jakarta, Bali, dan Surabaya. Destinasi lain belum tentu menarik jika okupansi rendah.
Duduk Bareng, Putuskan, Eksekusi
Di akhir diskusi bersama, Andhy menyerukan perombakan pola pikir dan indikator kinerja.
“Ubah KPI. Jangan melulu kunjungan wisata. Duduk bareng, tapi yang datang decision maker. FGD jangan 10 kali. Sekali dua kali, putuskan, eksekusi,” ujarnya.
Bagi Andhy, pertumbuhan pariwisata bukan soal klaim angka, melainkan dampak nyata di industri.
“Kalau hotel ramai dan untung, itu artinya ekosistem jalan. Kalau tidak, ya berarti ada yang salah di tata kelolanya,” kata dia.
Di tengah optimisme resmi pemerintah, suara dari pelaku industri seperti Andhy menjadi pengingat: pertumbuhan tidak selalu identik dengan kesehatan. Angka bisa naik, tetapi jika kamar tetap kosong, mungkin yang tumbuh hanya statistik, bukan industrinya.





