Jakarta, Venuemagz.com — Ada yang berubah dari cara profesional dunia bepergian. Mereka tidak lagi sekadar terbang, rapat, lalu pulang. Kini, perjalanan bisnis sering kali berakhir di restoran terbaik dengan makan malam, tur budaya singkat, atau sekadar duduk di tepi pantai sebelum penerbangan pulang. Fenomena itulah yang oleh industri perjalanan disebut bleisure travel, gabungan dari kata business dan leisure.
Bukan sekadar tren sesaat, bleisure kini sudah menjadi segmen tersendiri dalam peta industri pariwisata global dan Indonesia.
Istilah bleisure pertama kali muncul dalam percakapan industri perjalanan sekitar awal 2000-an, tapi popularitasnya meledak setelah pandemi Covid-19. Ketika batas antara kantor dan rumah mulai kabur, batas antara perjalanan bisnis dan liburan pun ikut memudar.
Definisinya sederhana: seorang profesional yang bepergian untuk urusan pekerjaan baik itu konferensi, pameran, rapat, ataupun incentive trip, memilih untuk memperpanjang masa tinggalnya di destinasi tersebut demi menikmati sisi leisure-nya. Bisa satu hari tambahan, bisa seminggu. Bisa sendiri, bisa mengajak keluarga.
Yang menjadikan bleisure menarik bukan sekadar definisinya, melainkan skala dan kecepatannya tumbuh di industri MICE ini.
Angka-Angka yang Tidak Bisa Diabaikan
Data dari Precedence Research menempatkan nilai pasar bleisure travel global di angka US$816 miliar pada 2025 dan diperkirakan menembus US$3,5 triliun pada 2034, dengan laju pertumbuhan tahunan (CAGR) sekitar 17,4 persen. Ini bukan pertumbuhan biasa. Ini percepatan.
Riset Navan dan Skift yang diterbitkan awal 2026 menemukan bahwa 55 persen pelancong bisnis global sudah melakukan setidaknya dua perjalanan bleisure sepanjang 2024. Lebih dari separuh, mereka menggunakan waktu luang di destinasi untuk menjelajahi area sekitar. Dan hampir 40 persen menyempatkan diri mengejar hobi pribadi.
Angka lain yang mencolok datang dari Global Business Travel Association (GBTA) menyebut 89 persen karyawan mengaku ingin menambahkan waktu leisure pada perjalanan bisnis berikutnya. Sementara survei IHG pada 2023 mencatat bahwa 42 persen pelancong bisnis asal Inggris sudah benar-benar melakukannya.
Di Asia-Pasifik gambarannya bahkan lebih dramatis. Laporan Agoda 2026 Travel Outlook menyebut 76 persen profesional di kawasan ini berencana memadukan perjalanan kerja dengan waktu leisure. Di Indonesia sendiri, angkanya terus mendaki meskipun budaya perjalanan bisnis di Tanah Air dinilai lebih konservatif dibanding negara-negara tetangga.
Mengapa Sekarang?
Pertanyaan yang lebih menarik bukan seberapa besar bleisure, melainkan mengapa tren ini meledak justru sekarang? Jawabannya terletak pada pergeseran besar dalam cara manusia bekerja dan menghargai waktu.
Pertama, era kerja fleksibel. Riset Crowne Plaza tahun 2025 menemukan bahwa 79 persen karyawan di Amerika Serikat dan Inggris bekerja di perusahaan yang mendukung model kerja jarak jauh atau hibrida. Ketika seseorang bisa bekerja dari mana saja, memperpanjang perjalanan bisnis tidak lagi berarti mengorbankan produktivitas.
Di Indonesia, pergeseran ini berjalan dengan dinamika yang khas. Pandemi Covid-19 menjadi katalisator pertama di mana perusahaan-perusahaan teknologi dan startup mulai mengadopsi WFA (Work from Anywhere) secara permanen, bukan sebagai respons darurat melainkan sebagai keputusan strategis.
Flip, Stockbit, Bibit.id, Amartha, Ajaib, hingga Blibli adalah sebagian dari deretan nama yang secara resmi mengumumkan kebijakan WFA permanen sejak 2021–2022. Mereka tidak sekadar mengizinkan karyawan bekerja dari rumah, tetapi dari mana saja: Bali, Yogyakarta, Malang, kota-kota kecil, bahkan luar negeri, selama koneksi internet tersedia dan target terpenuhi.
Yang menarik, pemerintah Indonesia sendiri kemudian mengikuti dan bahkan melegitimasi tren ini di level kebijakan nasional. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menerbitkan dua Surat Edaran WFA dalam rentang empat bulan.
Pertama pada Desember 2025 untuk periode libur Natal dan Tahun Baru, lalu pada Februari 2026 menjelang Idul Fitri yang mengimbau seluruh perusahaan swasta, BUMN, dan BUMD untuk memberi ruang kerja fleksibel bagi karyawan. Bahkan, pada Maret 2026, terbit Surat Edaran baru yang mendorong perusahaan menerapkan WFH satu hari per minggu secara reguler, kali ini dengan alasan efisiensi energi nasional.
Kebijakan itu bukan sekadar formalitas. Ia mencerminkan pengakuan resmi bahwa model kerja fleksibel sudah cukup matang untuk dijadikan norma, bukan pengecualian. Dan ketika norma itu bergeser, kebiasaan bepergian pun ikut berubah.
Karyawan yang tidak harus duduk di meja kantor pada Senin pagi memiliki alasan lebih kuat untuk menambah satu atau dua hari di kota tujuan konferensi mereka. Bleisure, dalam konteks ini, bukan sekadar kemewahan, ia menjadi perpanjangan logis dari cara kerja baru.
Kedua, generasi baru mendominasi angkatan kerja. Milenial dan Generasi Z kini menjadi kelompok pelancong bisnis terbesar. Bagi mereka, perjalanan bukan sekadar kewajiban kerja, tapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Survei demi survei konsisten menunjukkan bahwa kedua generasi ini memprioritaskan pengalaman di atas materi, dan bleisure menjadi titik temu sempurna antara tuntutan kerja dan kebutuhan eksplorasi.
Ketiga, perusahaan mulai melihat bleisure sebagai investasi, bukan pemborosan. Ketika 73 persen karyawan, menurut data yang dikompilasi Navan, menganggap kebijakan bleisure sebagai faktor penting dalam memilih tempat kerja, perusahaan yang mendukung tren ini secara tidak langsung berinvestasi pada loyalitas dan kepuasan tim mereka.
Bleisure dan MICE: Dua Dunia yang Kini Satu
Bagi industri MICE, bleisure bukan sekadar tren perjalanan individual. Ia adalah peluang strategis yang mengubah cara pameran, konferensi, dan incentive trip dirancang.
IBTM World, salah satu platform paling berpengaruh dalam industri business events global, secara eksplisit menyebut bleisure sebagai tren yang wajib diadopsi oleh penyelenggara MICE. Dalam 2025 World Trends Report-nya, IBTM mencatat meningkatnya keinginan peserta event untuk berinteraksi lebih dalam dengan destinasi, bukan hanya duduk di ballroom hotel.
Peserta konferensi kini datang dengan ekspektasi berbeda. Mereka ingin agenda yang menyisakan ruang untuk city tour, wisata kuliner, sesi wellness, atau pengalaman budaya lokal. Event yang mampu menjawab ekspektasi ini tidak hanya lebih berkesan, tapi juga lebih mudah menarik peserta internasional yang harus mempertimbangkan apakah biaya perjalanan jauh sebanding dengan pengalaman yang didapat.
Kenyataan ini sudah mulai tecermin dalam desain event MICE modern. Konferensi yang dulu berakhir dengan gala dinner formal kini sering kali diakhiri dengan program post-event ke destinasi wisata sekitar. Pre-conference tour menjadi elemen standar. Bahkan, struktur jadwal pun mulai disesuaikan agar peserta punya waktu bebas yang cukup untuk menjelajah.
Indonesia di Persimpangan Peluang
Indonesia sedang berada di posisi yang sangat strategis dalam peta bleisure global. Di satu sisi, industri MICE nasional diproyeksikan tumbuh hingga 15 persen pada 2026, jadi salah satu angka tertinggi di kawasan. Di sisi lain, pemerintah menargetkan 1,5 juta wisatawan MICE internasional, dan lebih dari 50 pusat konvensi berstandar internasional tersebar di seluruh kepulauan.
Modal itu besar. Tapi tantangannya juga nyata, bagaimana mengubah peserta event yang datang untuk rapat menjadi wisatawan yang tinggal lebih lama dan membelanjakan lebih banyak uang mereka?
Bali sudah membuktikan bahwa formula ini bisa berhasil. Dinobatkan sebagai destinasi incentive travel nomor satu di Asia Tenggara, Bali telah lama memahami bahwa peserta event yang pulang dengan kenangan liburan indah adalah aset promosi paling efektif.
Hotel-hotel besar di Jimbaran, Nusa Dua, dan Ubud kini berlomba membangun fasilitas yang mengakomodasi kebutuhan bleisure, di mana ruang konferensi berdampingan dengan spa, kolam renang, dan akses langsung ke atraksi alam.
Mövenpick Resort & Spa Jimbaran Bali misalnya, dijadwalkan meresmikan The Suwarga Garden pada Juli 2026, venue outdoor multifungsi berkapasitas 1.250 tamu yang dirancang sekaligus sebagai ruang event dan lifestyle space. Ini bukan kebetulan. Ini adalah respons langsung terhadap permintaan pasar bleisure yang terus membesar.
Yogyakarta, Denpasar, dan Bandung juga berkembang sebagai workation hub dengan ekosistem coworking space dan resor yang ramah bagi pekerja jarak jauh. Di Jakarta, agenda MICE mulai diintegrasikan dengan tur kota, wisata kuliner, dan sesi wellness.
Dampaknya bukan hanya pada kepuasan peserta, tapi juga perpanjangan length of stay, metrik krusial yang langsung berdampak pada pendapatan hotel, restoran, dan ekonomi lokal secara keseluruhan.
Pelajaran pahit dari studi LPEM-FEB UI yang membandingkan dampak ekonomi konser Coldplay di Jakarta dan Singapura masih relevan di sini. Indonesia unggul dalam skala penonton, tapi Singapura jauh lebih efisien mengonversi setiap kursi yang terisi menjadi nilai ekonomi. Kuncinya integrasi yang kuat antara event, pariwisata, dan mobilitas. Persis itulah yang ditawarkan bleisure jika dikelola dengan benar.
IBEM 2026: Sinyal Resmi dari Industri
Bahwa bleisure kini dianggap serius oleh industri MICE Indonesia bisa dibaca dari satu penanda konkret, topik ini menjadi salah satu agenda utama IBEM (Indonesia Business Event Mart) 2026, sebuah platform business events pertama yang digagas bersama oleh Kementerian Pariwisata RI, E&C Productions, dan TTG Events.
IBEM akan berlangsung bersamaan dengan Southeast Asia Business Events Forum (SEABEF) pada 28–31 Juli 2026 di Jakarta International Convention Centre, mengumpulkan sekitar 250 buyer dan 200 seller dari seluruh kawasan.
Yang menarik, panitia IBEM sendiri sudah merancang program post-show island-hopping bagi hosted buyer dan media mengunjungi Pulau Onrust dan Pulau Macan di perairan Jakarta. Program ini bukan sekadar pemanis agenda. Ia adalah demonstrasi langsung dari filosofi bleisure, bahwa event bisnis dan eksplorasi destinasi bisa, dan seharusnya, berjalan berdampingan.
Apa Artinya Bagi Event Planner?
Bagi para event organizer dan venue manager di Indonesia, bleisure membawa implikasi praktis yang tidak bisa diabaikan.
Pertama, desain program harus berubah. Agenda yang padat dari pagi hingga malam hari, tanpa ruang bernapas, akan semakin sulit menarik peserta internasional. Menyisakan setengah hari atau satu hari penuh untuk eksplorasi mandiri bukan tanda program yang kurang serius, tapi bisa jadi justru sebaliknya.
Kedua, pilihan venue menjadi lebih strategis. Hotel atau venue yang berdiri di kawasan wisata, dekat dengan atraksi budaya atau alam, akan punya keunggulan kompetitif nyata. Venue yang bisa menawarkan paket konferensi sekaligus program leisure terkurasi akan lebih mudah memenangkan tender.
Ketiga, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci. Event planner yang berhasil di era bleisure adalah mereka yang bisa membangun ekosistem, menghubungkan penyelenggara event dengan pemandu wisata lokal, restoran autentik, operator wellness, dan pemerintah daerah yang aktif mempromosikan destinasinya.
Lebih dari Sekadar Tren
Bleisure travel bukan kilatan tren yang akan pudar begitu musim berganti. Ia adalah cerminan dari perubahan mendasar dalam cara manusia modern mendefinisikan ulang hubungan antara kerja, perjalanan, dan kehidupan itu sendiri.
Bagi Indonesia dengan 17.000 pulau, ratusan budaya, dan ekosistem alam yang tak tertandingi, ini adalah undangan sekaligus tantangan. Undangan untuk menjadi destinasi di mana setiap konferensi berakhir dengan cerita yang layak dibawa pulang.
Tantangan untuk memastikan infrastruktur, kebijakan, dan kreativitas industri event-nya cukup kuat untuk mengonversi setiap peserta rapat menjadi wisatawan yang jatuh cinta.
Yang sudah pasti, mereka yang lebih cepat memahami pergeseran ini akan lebih siap merebut pasar yang sedang tumbuh dengan laju 17 persen per tahun itu.






