Meski diproyeksikan tumbuh, sektor pariwisata di Asia Pasifik masih dibayangi ketidakpastian global akibat adanya perang di Timur Tengah. Karenanya, setiap negara diimbau untuk memperluas marketnya.
Pacific Asia Travel Association (PATA) baru saja mengeluarkan laporan PATA Asia Pacific Visitor Forecasts 2026-2028. Laporan tersebut menunjukkan bahwa kunjungan wisatawan internasional ke wilayah Asia Pasifik pada 2026 dan seterusnya diproyeksikan melebihi jumlah sebelum pandemi.
Pada 2026, diperkirakan jumlah kunjungan wisatawan internasional ke Asia Pasifik mencapai batas atas 710,2 juta orang, dan batas bawah sekitar 560,9 juta. Kemudian, pada 2027, batas atasnya adalah 741,2 juta wisatawan internasional, dengan batas bawah 585,7 juta turis. Lalu, pada 2028, jumlah batas atasnya adalah 761,1 juta.
Akan tetapi, dengan adanya situasi geopolitik dan ketidakpastian makroekonomi, laporan tersebut juga memastikan adanya kemungkinan pertumbuhan yang minim, dengan jumlah kunjungan wisatawan internasional hanya 599,7 juta pada 2028. Jumlah tersebut menunjukkan rata-rata hanya terjadi pemulihan sekitar 88 persen dibandingkan level sebelum pandemi.
“Sektor pariwisata internasional memasuki fase yang lebih kompleks, di mana pertumbuhan tetap terjadi, tapi berada di bawah tekanan yang juga ikut meningkat,” ujar Noor Ahmad Hamid, CEO PATA. “Di PATA, kami mempertimbangkan kedua faktor—momentum positif yang didorong oleh permintaan yang meningkat, serta meningkatnya risiko bepergian akibat ketegangan geopolitik, ketidakpastian ekonomi, dan lain sebagainya.”
“Dalam keadaan seperti ini, pertumbuhan pariwisata tidak dapat dipastikan. Setiap destinasi dan organisasi harus bersiap untuk berbagai skenario yang mungkin saja terjadi, dengan kemampuan untuk terus beradaptasi secara cepat, mengatur ulang strategi yang dijalankan, dan meresponsnya dengan kuat. Setiap keputusan yang diambil harus berdasarkan data yang aktual,” ujar Noor.
Dengan adanya ketidakpastian ekonomi dan ketegangan geopolitik, setiap negara diimbau untuk memperluas target market masing-masing serta memperkuat kolaborasi pemerintah-swasta untuk menghasilkan ketahanan pariwisata yang lebih baik.
China, Hong Kong SAR, Amerika Serikat, Meksiko, Rusia, dan Korea masih menjadi sumber pasar utama bagi Asia Pasifik, meskipun masih ada hambatan berupa jumlah penerbangan udara dan biaya yang relatif mahal.
Selain itu, China, Amerika Serikat, Turkiye, Hong Kong SAR, Meksiko, dan Jepang menjadi destinasi favorit di Asia Pasifik bagi wisatawan internasional.
Berdasarkan laporan tersebut, Mongolia, Jepang, Chile, Maldives, dan Sri Lanka menjadi yang teratas dalam hal pemulihan sektor pariwisata, masing-masing sebesar 150 persen dibandingkan level sebelum pandemi.
Laporan PATA Asia Pacific Visitor Forecasts 2026-2028 dikeluarkan oleh PATA bekerja sama dengan Hospitality and Tourism Research Centre di School of Hotel and Tourism Management, The Hong Kong Polytechnic University, serta kontribusi dari seluruh anggota PATA.
Laporan tersebut juga menunjukkan perkiraan jumlah kunjungan wisatawan internasional di 39 negara di Asia Pasifik, serta analisis yang detail mengenai potensi yang masih bisa digarap oleh setiap negara atau wilayah.





