Jakarta, VenueMagz.com – Presentasi tim Exposure dari Dongduk Women’s University, Korea, menjadi salah satu momen paling mencolok di Asia MICE Youth Challenge (AMYC) 2025 di Jakarta beberapa waktu lalu.
Mereka membawa konsep DIPE (Defense Information Protection Expo) Korea, pameran yang menggabungkan industri pertahanan dan keamanan siber dalam satu platform. Ide ini langsung menangkap perhatian juri karena relevansinya terhadap konteks keamanan modern Asia.
Dalam pemaparannya, tim menyoroti fakta bahwa medan perang kini telah melebar ke ranah digital. Sementara industri pertahanan semakin maju, ancaman siber tumbuh lebih cepat daripada respons global. Ketiadaan pameran gabungan di dua sektor ini mereka nilai sebagai celah yang tidak boleh dibiarkan terbuka.
Korea dipilih sebagai lokasi ideal untuk penyelenggaraan event perdana DIPE Korea. Negara tersebut memiliki reputasi kuat sebagai pusat inovasi teknologi dan pertahanan di Asia Timur. Selain itu, lingkungan industrinya dinilai paling siap untuk mempertemukan aktor-aktor pertahanan dengan perusahaan keamanan digital.
Dari seluruh kota di Korea, Changwon ditunjuk sebagai rumah pertama DIPE Korea. Kawasan ini memang dikenal sebagai jantung industri pertahanan Korea, dengan jejak perusahaan besar yang bergerak di manufaktur sistem dan teknologi pertahanan. Changwon Convention Center pun dianggap cukup matang menampung skala event yang mereka bayangkan.
Tim Exposure memetakan struktur peserta menggunakan model tiga tingkat. Di lapisan atas adalah pemerintah dan militer sebagai pembeli utama, disusul kontraktor utama yang memproduksi sistem pertahanan. Lapisan terakhir adalah pemasok komponen yang menopang rantai teknologi dari darat hingga ruang angkasa.
Nonton video presentasi lengkap di https://youtu.be/Uiy31K62wHY
DIPE Korea sendiri dirancang dengan pembagian zona yang ketat dan fungsional. Penataan mulai dari teknologi komunikasi, sistem drone, hingga infrastruktur siber dipresentasikan dalam layout yang mudah dipahami. Pendekatan ini menunjukkan bagaimana mereka ingin membuat pameran yang bukan hanya besar, tetapi juga rapi dan efektif secara pengalaman pengunjung.
Program bisnis menjadi salah satu kekuatan presentasi mereka. Reverse pitching diperkenalkan sebagai metode penghubung baru antara permintaan buyer dan inovasi perusahaan peserta. Format ini dianggap mampu mempercepat transaksi sekaligus memperjelas kebutuhan industri sebelum pameran berlangsung.
Strategi pemasaran DIPE Korea memanfaatkan jaringan kedutaan asing di Asia sebagai jalur rekrutmen buyer. Mereka juga menargetkan kemitraan dengan pemerintah Korea untuk memastikan legitimasi dan akses pada pelaku industri pertahanan. Bagi mereka, pameran ini hanya dapat berjalan jika negara ikut hadir sebagai fondasi pendukung.
Dari sisi bisnis, tim memproyeksikan potensi pendapatan mencapai US$455.000 pada penyelenggaraan pertama. Estimasi ini dianggap realistis karena ditopang potensi transaksi industri pertahanan yang terus tumbuh di kawasan Asia. Juri menilai perhitungan tersebut cukup matang bagi sebuah konsep yang masih berada di tahap awal.
Dalam sesi tanya jawab, sebagian juri menyinggung isu sensitif terkait perizinan dan relasi dengan pemerintah. Tim menanggapi bahwa dukungan pemerintah Korea dan ekosistem industri Changwon membuat konsep ini memiliki peluang besar untuk dieksekusi. Mereka juga menekankan bahwa stabilitas negara dan kesiapan infrastruktur menjadi poin utama pemilihan lokasi.
Beberapa juri yang berpengalaman menjalankan pameran pertahanan global bahkan menyebut sektor ini sebagai area yang “sangat panas”. Karena itu, kolaborasi dengan pemerintah dianggap bukan sekadar kebutuhan, tetapi syarat keberhasilan. Tim Exposure menerima pandangan tersebut sebagai masukan penting dalam pengembangan konsep.
Pada akhirnya, DIPE Korea diusulkan sebagai platform Pan-Asian yang mempertemukan isu pertahanan dan keamanan digital secara lebih strategis. Di tengah dinamika geopolitik Asia yang cepat berubah, konsep ini menawarkan ruang kolaborasi yang belum pernah tersedia sebelumnya. Bagi tim Exposure, perpaduan dua industri ini bukan pilihan, tetapi keharusan yang dituntut oleh era informasi.





