Jakarta, VenueMagz.com – Ajang Asia MICE Youth Challenge 2025 di JIEXPO Convention Center & Theatre Jakarta kembali menghadirkan kejutan. Pada sesi ke-12, tim dari Lyceum of the Philippines University (LPU) Manila, yang menamai diri mereka tim Salinlahi Events & Co., menghadirkan presentasi yang bukan hanya rapi secara konsep, tetapi juga meledak penuh energi.
Di antara puluhan peserta dari berbagai negara Asia, tim Filipina ini menjadi salah satu yang paling mencuri perhatian. Bukan semata karena teriakan penyemangat yang memenuhi ruangan, tetapi karena gagasan besar yang mereka bawa: “DISCOVERY 2027 — ASEAN Summit of Culinary Heritage & Innovation.”
Gagasannya sederhana namun kuat yang menjadikan kuliner bukan hanya ikon budaya, tetapi juga medium inovasi, kolaborasi regional, dan perekat identitas ASEAN.
Kuliner sebagai Masa Depan Pariwisata ASEAN
Dalam pemaparannya, tim ini memotret realitas yang jarang disorot: di balik keragaman kuliner Asia Tenggara, terdapat fragmentasi cerita dan kurangnya platform yang menyatukan inovasi makanan antarnegara.
Mereka menawarkan pendekatan yang modern menggabungkan warisan kuliner dengan teknologi, VR, pengalaman multi-sensori, dan kompetisi startup berbasis food-tech.
Gagasannya sejalan dengan tren global di mana wisata kuliner menjadi salah satu sektor yang pertumbuhannya paling cepat. Data WTTC beberapa tahun terakhir juga menunjukkan bahwa wisata berbasis pengalaman (experience-based tourism) mendominasi minat generasi muda.
Discovery 2027: Pusat Kuliner ASEAN Berbasis Inovasi
Acara yang mereka bayangkan adalah sebuah perhelatan tiga hari di Iloilo Convention Center (ICON), gedung modern yang sudah masuk nominasi World MICE Awards 2025. Kota Iloilo sendiri dikenal sebagai UNESCO Creative City of Gastronomy sehingga menjadi latar yang kuat secara naratif maupun strategis.
Tiga hari acara tersebut dibagi menjadi:
Hari Pertama -Digital Passport & Culinary Labs
Peserta menjelajahi area acara menggunakan paspor digital, mengikuti workshop, seminar, dan sesi mentoring bersama chef ternama, seperti Claudine Tayag dan William Monso.
Hari Kedua -ASEAN TasteTech Start-Up Challenge
Kompetisi bagi teknopreneur muda dari seluruh Asia Tenggara untuk menghadirkan inovasi makanan masa depan. Pengunjung juga diajak menikmati tur kuliner digital raksasa—mulai dari Nasi Lemak Malaysia, Nasi Goreng Indonesia, hingga ikon-ikon lainnya.
Hari Ketiga -Heritage Food Tour
Focus day yang menampilkan kekayaan kuliner Iloilo, sekaligus diskusi peta jalan masa depan Discovery 2027 sebagai event dua tahunan yang berpindah negara.
Konsepnya tidak hanya menarik bagi pencinta kuliner, tetapi juga menyentuh kebutuhan jangka panjang sektor MICE, kolaborasi lintas negara, kesinambungan agenda, serta nilai ekonomi bagi UMKM makanan.
Strategi Pemasaran dari Energi Anak Muda + Ketepatan Data
Tim Salinlahi memaparkan strategi pemasaran yang cukup modern, yaitu:
- Kampanye digital lintas platform dan website resmi
- Guerilla marketing untuk menjangkau pekerja muda
- Konten influencer & UGC campaign
- Direct marketing ke kementerian pariwisata ASEAN
- Merchandise ramah lingkungan sebagai penguat brand identity
Seluruhnya dikaitkan dengan Master Plan for Sustained Culinary Growth, ASEAN Gastronomy Tourism Initiative, dan UN SDGs. Pendekatan akademis yang rapi, namun tetap terasa relevan.
Di titik ini terlihat bahwa tim Filipina tidak hanya membawa kreativitas, tetapi juga riset mendalam yang mencerminkan karakter pendidikan event management di negaranya.
Energi Panggung yang Menular
Yang membuat presentasi ini menonjol adalah para pembicaranya. Billie Jo dan ketiga rekannya bukan sekadar bicara—mereka menghidupkan panggung. Beberapa juri bahkan tertawa ketika mengatakan bahwa setelah teriakan “Discovery 2027!” bergema di ruangan, mereka jadi lupa apa yang ingin ditanyakan.
Energi tersebut menghadirkan dinamika jarang terlihat di kompetisi formal MICE. Dan bagi sebagian pengamat, energi inilah yang menjadi modal penting bagi generasi baru MICE Asia: berani tampil, berani memimpin, dan berani menciptakan pengalaman yang menggerakkan audien.
Dalam sesi tanya jawab, salah satu juri menanyakan absennya biaya venue dalam paparan awal. Tim kemudian menjelaskan bahwa biaya venue mencapai US$24.000, dengan sumber pemasukan dari penjualan tiket, sponsorship, penyewaan booth, serta penjualan merchandise. Koreksi cepat ini menunjukkan kesiapan mereka, meskipun masih ada ruang untuk penyempurnaan.
Filipina Tawarkan Masa Depan Kuliner ASEAN yang Lebih Ambisius
Dengan visi lintas tahun hingga 2027, agenda berkelanjutan, serta konsep yang menggabungkan tradisi dan inovasi, tim Salinlahi menjadikan dirinya salah satu peserta yang paling diperhitungkan di Asia MICE Youth Challenge 2025.
Di tengah dinamika industri MICE Asia yang makin kompetitif, ide seperti Discovery 2027 menghadirkan gambaran masa depan: kuliner bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang identitas, kreativitas, ekonomi, dan kolaborasi lintas batas.
Dan sore itu, di panggung JIEXPO Jakarta, tim Filipina berhasil membuat semua orang percaya pada masa depan itu.





