Jakarta, Venuemagz.com — Kenaikan harga avtur global mulai menekan industri pariwisata nasional. Dampak paling cepat terasa adalah harga tiket pesawat yang ikut merangkak naik, memicu kekhawatiran bahwa Bali bisa kehilangan wisatawan, terutama turis mancanegara yang sangat sensitif terhadap biaya perjalanan.
Di tengah situasi itu, pelaku usaha pariwisata di Bali melalui PHRI menyuarakan kekhawatiran mengenai mahalnya tiket akan membuat wisatawan menunda, mengurangi durasi tinggal, bahkan membatalkan perjalanan ke Pulau Dewata.
Kondisi ini seharusnya menjadi alarm nasional. Sebab Bali bukan hanya destinasi utama, tetapi wajah pariwisata Indonesia di mata dunia.
Ketika harga tiket pesawat merangsek naik, wisatawan mulai berhitung. Sejumlah rute utama menunjukkan kenaikan signifikan. Misalnya rute Jakarta – Denpasar kini berada di kisaran Rp1,3 juta hingga Rp1,8 juta sekali jalan pada beberapa maskapai.
Sementara rute Jakarta – Medan bahkan menyentuh Rp1,6 juta hingga Rp2,8 juta, tergantung maskapai dan waktu keberangkatan. Angka ini cukup tinggi untuk pasar domestik, terutama bagi wisatawan keluarga atau rombongan.
Ketika biaya transportasi udara naik, wisatawan biasanya langsung menyesuaikan perilaku. Mereka memilih destinasi yang lebih dekat, menunda liburan, atau beralih ke negara lain yang menawarkan akses lebih murah.
Bagi Bali, situasi ini berisiko menggerus daya saing di tengah ketatnya kompetisi regional dengan Thailand, Vietnam, dan Malaysia.
Di Saat Industri Gelisah, Agenda Kemenpar Masih Seremonial?
Yang menarik, di tengah kekhawatiran soal tiket mahal dan ancaman penurunan wisatawan, agenda Kementerian Pariwisata justru masih didominasi kunjungan lapangan dan rapat koordinasi rutin.
Pada 19 April, Menteri Pariwisata tercatat berada di Bali untuk meninjau Bali Spirit Festival, agenda positif dari sisi promosi event dan wellness tourism.
Dua hari sebelumnya, 17 April, Menteri Pariwisata juga memimpin rapat koordinasi bersama Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) di Kabupaten Toba, Sumatera Utara.
Kedua agenda tersebut tentu penting. Namun publik bisa bertanya di tengah tekanan biaya perjalanan nasional, di mana langkah konkret kementerian untuk menyelamatkan demand wisata?
Industri Butuh Solusi, Bukan Hanya Aktivitas
Masalah utama saat ini bukan kurangnya acara, melainkan mahalnya akses menuju destinasi. Pariwisata hidup dari mobilitas. Jika wisatawan kesulitan menjangkau destinasi karena tiket mahal, maka promosi sebesar apa pun akan sulit efektif.
Karena itu, Kementerian Pariwisata seharusnya mengambil peran strategis yang lebih terasa melalui kebijakan-kebijakan yang memihak, antara lain:
Pertama, mendorong koordinasi lintas kementerian dengan Kementerian Perhubungan, maskapai, dan BUMN terkait agar harga tiket ke destinasi prioritas lebih kompetitif.
Kedua, menyiapkan stimulus promosi bersama maskapai penerbangan dan travel platform untuk menjaga minat perjalanan ke Bali, Danau Toba, Labuan Bajo, dan destinasi unggulan lain.
Ketiga, memperkuat konektivitas internasional langsung agar wisatawan tidak terlalu bergantung pada transit di hub luar negeri seperti Dubai, Doha, atau Abu Dhabi.
Keempat, menghadirkan narasi kebijakan yang menenangkan pasar, bukan sekadar agenda kunjungan.
Jangan Sampai Daerah Berjuang Sendiri
Saat PHRI Bali sibuk menyusun strategi harga hotel dan promosi agar okupansi tetap terjaga, pemerintah pusat tidak bisa hanya menjadi penonton. Bali terlalu penting untuk dibiarkan menghadapi tekanan sendirian.
Danau Toba, Labuan Bajo, Mandalika, hingga destinasi lain juga membutuhkan hal serupa, akses yang masuk akal dan kebijakan yang cepat. Jika kementerian hanya aktif di panggung seremoni sementara biaya menuju destinasi terus naik, Indonesia berisiko kehilangan momentum pemulihan wisata.
Pariwisata bukan sekadar festival, rapat koordinasi, atau dokumentasi kunjungan menteri. Industri ini bergerak dari kursi pesawat yang terisi, hotel yang ramai, UMKM yang berjualan, dan tenaga kerja yang tetap terserap. Ketika tiket mahal dan wisatawan mulai berpikir ulang, negara seharusnya hadir lewat solusi yang konkret. Bukan hanya hadir di foto kegiatan.





