Mampukah Terorisme Memengaruhi MICE?

Wednesday, 04 July 18   17 Views   0 Comments   Venue
Iqbal Alan Abdullah

Penulis: IQBAL ALAN ABDULLAH, Ketua Umum Indonesia Congress and Convention Association (INCCA)

Banyak hal yang membuat pemerintah dan stakeholder pariwisata harus meyakini MICE, terutama konferensi dapat dikatakan imun terhadap berbagai kondisi yang membahayakan pariwisata. Ambil permisalan, KTT G20 digelar di Hamburg, Jerman pada tanggal 7-8 Juli 2017 lalu, mengalami ancaman teror dari puluhan ribu demonstran. Mereka bukan hanya berunjuk rasa, namun juga melakukan pembakaran. KTT ini juga menjadi target dari ancaman dari kelompok teroris.

Selama KTT G20 berlangsung, hampir 500 petugas terluka selama aksi protes, 186 orang ditangkap dan 225 ditahan. KTT G-20 itu tetap berlangsung dengan aman. Semua pemimpin negara-negara G-20 mulai dari Presiden AS Donald Trump, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden China Xi Jinping, PM Inggris Theresa May, Presiden RI Joko Widodo dan pemimpin negara dari Argentina, Australia, Brazil, Kanada, Perancis, Italia, India, Jepang, Meksiko, Korea Selatan, Arab Saudi, Afrika Selatan, Turki, dan Uni Eropa hadir. Teror tidak mempan untuk menghalangi langkah mereka berangkat ke Hamburg.

Hal serupa juga terjadi di Turki, pada KTT G20 di Belek, Antalya, Turki pada 15–16 November 2015. Hanya sebulan sebelum kegiatan itu, terjadi serangan teroris di Ankara dan pergolakan di wilayah perbatasan, terutama dari kelompok ISIS. Apalagi sebelumnya, pada Jumat, 13 November 2015 terjadi serangan teroris di Paris, Perancis, yang menyebabkan 129 orang meninggal dunia dan lebih dari 350 orang luka-luka. Lagi-lagi, KTT itu berjalan mulus, dan teror selalu kalah dan tidak mampu mencegah 20 pemimpin negara terbesar di dunia beserta rombongan delegasinya untuk hadir di KTT ini.

Dalam peristiwa lain di Indonesia, ketika digelarnya Konferensi Anggota DPR se-dunia, 104th Conference and Related Meetings of The Inter-Parliamentary Union (IPU) di Jakarta pada 12-21 Oktober 2002. Suasana politik di Jakarta sedang memanas, akibat aksi demonstrasi yang pro maupun kontra Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) saat itu. Apalagi, kerusuhan bersifat SARA juga terjadi di Maluku. Kondisi itu diprediksi bakal mengurangi minat delegasi untuk datang ke Jakarta. Tapi, fakta berkata lain: konferensi berjalan mulus dan delegasi dari 108 negara hadir dalam pertemuan itu. Mengapa? Karena mereka percaya aparat keamanan di Indonesia mampu menjaga keamanan.

Maka saya ingin mengatakan satu hal: inilah perbedaan yang sangat jelas antara Meeting, Incentive, Conference, Exhibition (MICE) dengan pariwisata yang umumnya leisure. Pariwisata leisure itu sangat fragile. Sedikit dihantam isu ancaman teror, ancaman kerusuhan, langsung stop untuk berkunjung. Akibatnya memang sangat tragis: hotel kosong, penerbangan merugi, pedagang gigit jari dan seterusnya. Bahkan dampaknya tidak singkat juga. Namun, MICE berbeda. Karena MICE memiliki unsur bisnis maupun politik yang digelar oleh para pemimpin negara-negara (IGO’s) ataupun oleh asosiasi internasional, lembaga swadaya masyarakat (NGO’s) maupun korporasi multinasional. Pengorganisasiannya disiapkan sangat lama, substansi pembahasannya pun sudah dibahas berkali-kali di setiap tingkat, begitu juga dengan pembiayaannya, skenario acara, skenario keamanan, dan seterusnya.

Bahkan MICE telah menjadi alat atau tools untuk membangun citra destinasi yang aman untuk dikunjungi. Misalnya, teror Paris yang menyebabkan ratusan orang tewas itu telah menjadi landasan yang kuat bagi negara-negara G20 untuk melawan aksi teror secara bersama-sama dengan lahirnya kesepakatan mengenai perlawanan terhadap teroris melalui “G20 Statement on the Fight Against Terrorism”. Jadi MICE adalah bagian penting dari upaya perlawanan terhadap teror itu sendiri diawali dengan berawalnya pertemuan itu yang menunjukkan destinasi itu memang aman.

Jadi seperti telah sering kali saya katakan, MICE memberikan dampak ekonomi yang kuat sebagai lokomotif pertumbuhan bisnis di destinasi, mampu mendatangkan pengunjung dengan jumlah besar dalam satu kali pertemuan internasional, setiap delegasi memiliki spending yang jauh lebih besar daripada wisatawan leisure. Lama kunjungan rata-rata minimal lima malam. Jika wisatawan biasa rata-rata pengeluarannya hanya US$120 per hari, maka peserta kegiatan MICE mencapai US$840 per hari yang jika tinggal 5 hari maka untuk satu orang delegasi akan mengeluarkan US$4.200 per hari. Belum lagi dengan dampak publisitas dari kegiatan pertemuan internasional itu, karena setiap delegasi negara, biasanya membawa wartawan untuk meliput kegiatan pertemuan tersebut. Apabila publikasi tersebut dinilai sebagai iklan di luar negeri, tentu kita tidak akan mampu. Betul, memang untuk mempersiapkan sebuah pertemuan internasional membutuhkan dana yang tidak kecil, namun jangan lupa dampaknya juga besar baik langsung maupun tidak langsung.

Nah, pertanyaannya kemudian adalah bagaimanakah kita harus menyikapi aksi-aksi teror yang terjadi belakangan di Markas Komando Brimob Kelapa Dua, Depok dan serangan bom bunuh diri di Surabaya, terutama jika dikaitkan dengan persiapan penyelenggaraan kegiatan internasional seperti Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang, serta pertemuan IMF-World Bank di Bali pada tahun ini? Apakah ada yang perlu kita khawatirkan?

Menurut saya tidak. Aksi-aksi itu sama sekali tidak akan berpengaruh pada berbagai kegiatan pertemuan internasional itu. Seperti yang terjadi di Hamburg, Antalya maupun Jakarta di tahun 2002, Asian Games 2018, pertemuan IMF-World Bank maupun konferensi-konferensi lainnya yang serangkai dengan kegiatan itu, akan berjalan dengan baik.

Ada beberapa alasannya. Pertama, reputasi Indonesia yang sangat baik dalam memberikan pengamanan atau keamanan dan kenyamanan dalam berbagai kegiatan internasional yang pernah diadakan di Indonesia. Kerja sama yang baik antara Polri dan TNI membuat tamu-tamu dari mancanegara merasa aman. Kedua, adanya pemahaman dari para delegasi luar negeri bahwa yang namanya bahaya bisa terjadi di mana saja, bahkan di negara mereka sendiri, sehingga yang terpenting adalah keyakinan akan kemampuan tuan rumah memberikan jaminan keamanan. Ketiga, adanya dukungan yang sangat besar dan luas dari masyarakat Indonesia dalam setiap kali digelarnya pertemuan internasional. Mereka memiliki rasa bangga sebagai tuan rumah dan menjadi perhatian dunia, sehingga ikut membantu aparat keamanan dalam menjalankan tugasnya.

Sukseskan Asian Games 2018, Pertemuan tahunan International Monetary Fund dan Bank Dunia 2018 dan pertemuan internasional lainnya di Indonesia sepanjang 2018!