Kriteria Dalam Pengembangan Geowisata di Indonesia

Monday, 13 January 20 Herry Drajat

Salah satu jenis wisata minat khusus yang layak dikembangkan di Indonesia adalah geowisata karena Indonesia mempunyai potensi wisata geologi yang sangat melimpah. Namun, tidak semua daya tarik wisata alam cocok dengan pola pengembangan pariwisata massal, yaitu pariwisata yang berusaha mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya.

Wisatawan minat khusus tidak akan puas berkunjung ke destinasi wisata alam hanya untuk melihat-lihat panorama alam atau sekadar berfoto selfie, mereka menginginkan lebih dari itu, di antaranya adalah memuaskan hasrat bertualang serta menambah wawasan serta pengalaman.

Menurut Andi Mappi Sammeng dalam buku Cakrawala Pariwisata (2001), berdasarkan waktu pemanfaatannya, daya tarik wisata alam dalam kegiatan geowisata dibagi menjadi dua, yaitu berupa atraksi alam yang tidak bergerak di mana wisatawan dapat secara langsung memanfaatkannya tanpa harus menunggu, contohnya adalah pantai, gunung, bukit, goa alami dan lain sebagainya. Sedangkan, yang dimaksud atraksi alam yang bergerak adalah wisatawan harus menunggu atau tidak langsung memanfaatkan, contohnya adalah fenomena lava pijar dan lain-lain.

Wisata geologi (geowisata) dapat dijadikan media bagi sosialisasi ilmu pengetahuan alam, pendidikan lingkungan, serta pelestarian alam yang pada akhirnya diharapkan akan terwujud pembangunan pariwisata geologi yang berkelanjutan.

Prinsip yang harus diperhatikan dalam mengembangkan geowisata di antaranya Geologically Based, Berkelanjutan, Bersifat Informasi Geologi, Bermanfaat Secara Lokal, Kepuasan Wisatawan.

Halaman : 123

Salah satu jenis wisata minat khusus yang layak dikembangkan di Indonesia adalah geowisata karena Indonesia mempunyai potensi wisata geologi yang sangat melimpah. Namun, tidak semua daya tarik wisata alam cocok dengan pola pengembangan pariwisata massal, yaitu pariwisata yang berusaha mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya.

Wisatawan minat khusus tidak akan puas berkunjung ke destinasi wisata alam hanya untuk melihat-lihat panorama alam atau sekadar berfoto selfie, mereka menginginkan lebih dari itu, di antaranya adalah memuaskan hasrat bertualang serta menambah wawasan serta pengalaman.

Menurut Andi Mappi Sammeng dalam buku Cakrawala Pariwisata (2001), berdasarkan waktu pemanfaatannya, daya tarik wisata alam dalam kegiatan geowisata dibagi menjadi dua, yaitu berupa atraksi alam yang tidak bergerak di mana wisatawan dapat secara langsung memanfaatkannya tanpa harus menunggu, contohnya adalah pantai, gunung, bukit, goa alami dan lain sebagainya. Sedangkan, yang dimaksud atraksi alam yang bergerak adalah wisatawan harus menunggu atau tidak langsung memanfaatkan, contohnya adalah fenomena lava pijar dan lain-lain.

Wisata geologi (geowisata) dapat dijadikan media bagi sosialisasi ilmu pengetahuan alam, pendidikan lingkungan, serta pelestarian alam yang pada akhirnya diharapkan akan terwujud pembangunan pariwisata geologi yang berkelanjutan.

Prinsip yang harus diperhatikan dalam mengembangkan geowisata di antaranya Geologically Based, Berkelanjutan, Bersifat Informasi Geologi, Bermanfaat Secara Lokal, Kepuasan Wisatawan.