Jakarta, VenueMagz.com – Di balik viralnya kritik wisata Bali, inilah cerita panjang tentang surga tropis yang mulai rapuh. Pada Selasa pagi, 18 November 2025, linimasa Instagram tiba-tiba dipenuhi satu video yang sama.
Seorang solo traveler asing, Sofia, pemilik akun @world.of.sofiab, berbicara dengan latar pantai tropis dalam videonya. Kalimat pertamanya terdengar lembut, tetapi isinya menyentil: “You might say you’re supporting the local economy by spending your money here.”
Kemudian, video itu di-repost oleh akun @balinesia_idn, dan dalam hitungan hari menembus 71.924 suka, 1.868 komentar, dan 6.619 kali dibagikan pada saat tulisan ini dibuat.
Reaksinya bukan sekadar antusiasme, tetapi gelombang kejut bagi yang tersinggung. Bahkan, ada pula yang mengaku sejak lama menunggu ada orang yang berkata sejujur itu.
Narasi Wisata: Indah di Permukaan, Rumit di Dalam
Sofia mengakui apa yang sudah kita tahu selama ini. Bali dan Lombok adalah salah satu lanskap tropis paling memesona di dunia. Pantai putih, sawah bertingkat, ritual budaya yang terjaga, dan keramahan masyarakat lokal telah menjadi pintu masuk jutaan wisatawan.
Namun, ia juga menambahkan sesuatu yang membuat banyak orang berhenti menggulir layar. Ada bagian dari Bali yang tidak banyak diceritakan. Bagian yang “cantik” hanya di brosur, tetapi tidak di kehidupan sehari-hari.
Dalam videonya, Sofia mengungkapkan kekhawatirannya bahwa banyak bisnis wisata yang ramai dikunjungi turis bukan lagi milik warga lokal, melainkan dijalankan pihak luar. Persoalan kepemilikan bisnis pariwisata memang telah lama menjadi topik yang dibahas dalam berbagai liputan media dan forum kebijakan.
Pernyataan Sofia ini memang bukan laporan ilmiah, tetapi kritik sosial yang dirasakannya di lapangan.
Penelitian Menguatkan: Pariwisata Berjalan, Ketimpangan Menganga
Beberapa bagian dari kritik Sofia sejalan dengan riset akademik. Salah satunya dipublikasikan oleh Universitas Indonesia melalui jurnal ilmiah Makara Journal of Science berjudul “Tourist Development in Bali“.
Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa pengembangan pariwisata Bali cenderung menguntungkan investor dan pengembang, sementara masyarakat lokal menghadapi beban lingkungan dan perubahan budaya.
Tidak semua kritik Sofia memiliki data formal, tetapi pada bagian ini pandangannya beririsan dengan temuan ilmiah. Itulah sebabnya videonya terasa “mengena” bagi banyak orang di Instagram.

Pembangunan yang Berlari Lebih Cepat dari Kebijakan
Di banyak titik Bali, seperti Canggu, Uluwatu, Kuta Selatan, Amed, hingga Ubud, pertumbuhan vila dan resor berlangsung tanpa henti. Laporan akademisi lintas kampus, termasuk Universitas Udayana, telah berulang kali menyoroti persoalan:
- Meningkatnya tekanan terhadap air tanah.
- Persoalan pengelolaan limbah.
- Tata ruang yang sering tak sejalan dengan daya dukung lingkungan.
- Konflik lahan yang muncul ketika nilai tanah melonjak.
Tidak ada angka tunggal yang bisa merangkum seluruh Bali, tetapi gambaran besarnya jelas: beban yang ditanggung alam dan warga meningkat jauh lebih cepat dibanding pengaturan kebijakannya.
Hasil akhirnya adalah ruang hidup yang berubah. Sawah berubah menjadi kluster vila. Pantai yang dulu sepi kini padat kafe dan beach club. Desa wisata berubah menjadi area investasi.
Gelombang Digital Nomad dan Warga Global
Dalam videonya, Sofia pun ada menyinggung keberadaan digital nomad dan influencer asing yang bekerja dari Bali dengan visa wisata. Kritikan ini merupakan isu global, bukan hanya Indonesia. Banyak negara menghadapi problem yang sama, dari Thailand, Portugal, hingga Meksiko.
Regulasi pajak dan izin kerja bagi pekerja jarak jauh internasional memang berada di wilayah abu-abu di seluruh dunia. Sofia melihat ini sebagai bagian dari ketimpangan pariwisata di Bali, dan ia menyampaikan opininya secara terbuka.
Bagi masyarakat lokal, kehadiran warga global tidak selalu penuh masalah. Banyak juga yang memberi dampak positif. Namun, ketika laju pembangunan tidak diimbangi pengaturan, ketegangan sosial bisa muncul seperti yang ditunjukkan dalam berbagai laporan media nasional mengenai sengketa tanah, hak pemanfaatan lahan, dan melonjaknya harga properti.
Ketika Kritik Datang dari Orang Luar
Ada alasan mengapa video Sofia menyebar begitu cepat. Kritiknya datang sebagai orang luar, dan itu membuat terasa lebih tajam. Bukan karena orang luar lebih benar, tetapi karena pandangan mereka kadang melihat hal yang sudah lama diabaikan.
Keresahan tentang masa depan Bali bukan hal baru. Akademisi lokal sudah mengingatkan, banyak komunitas adat juga sudah menyuarakan. Dan sejumlah jurnalis nasional sudah seringkali menulis investigasi tentang tekanan pembangunan dan ketimpangan kepemilikan lahan.
Namun, suara-suara itu sering kalah oleh narasi “Bali sebagai surga wisata yang tak lagi tersembunyi” sehingga lebih mudah dijual.
Pertanyaan Lama yang Kembali Menggema
Di akhir videonya Sofia menantang para penontonnya, “Don’t say travel isn’t political.”
Pernyataan itu adalah opini, tetapi konteksnya sangat relevan. Pariwisata memang menyangkut ruang hidup, ekonomi, budaya, dan kebijakan.
Dan kini, setelah videonya viral, percakapan tentang masa depan Bali kembali muncul ke permukaan. Pertanyaannya sederhana, tetapi berat: untuk siapa sebenarnya Bali hari ini dibangun?
Untuk masyarakatnya?
Untuk wisatawan?
Atau untuk mereka yang memiliki modal paling besar?
Jurnalisme, penelitian, dan suara komunitas telah lama mencoba menjawabnya. Viralnya video ini hanya membuat kita kembali mengingat bahwa masa depan Bali harus dibicarakan tidak hanya di ruang rapat atau forum pariwisata, tetapi juga di ruang publik.
Karena jika arah pembangunan tidak dipertimbangkan ulang, Bali memang tetap akan menjadi surga, tapi mungkin bukan lagi bagi mereka yang lahir dan tumbuh di tanah itu.





