Jakarta, Venuemagz.com – Pemerintah Indonesia terus melakukan efisiensi anggaran pada tahun ini guna menjaga stabilitas keuangan negara di tengah berbagai dinamika global. Dengan adanya kebijakan ini, pemerintah mulai mengurangi sejumlah aktivitas MICE (meeting, incentive, conference, and exhibiton) yang dianggap tidak memiliki urgensi besar untuk dilakukan di tahun ini.
Penurunan aktivitas MICE yang dilakukan pemerintah tentu berdampak terhadap kinerja perhotelan dan beberapa sektor terkait lainnya. Hal ini terlihat dari menurunnya jumlah tingkat hunian (okupansi) hotel baik dari sisi kamar maupun penggunaan ruang meeting sejak tahun 2025 silam.
Berdasarkan data dari Colliers Indonesia, rata-rata okupansi hotel yang berada di Jakarta pada tahun 2025 hanya mencapai 57,4 persen dan 65,3 persen untuk Bali. Bahkan, pada Januari 2026, rata-rata okupansi hotel di Jakarta hanya mencapai 52,5 persen dan 56,7 persen untuk hotel Bali.
“Kemungkinan besar MICE tidak akan terlalu booming lagi bagi bisnis hotel karena pasar pemerintah mulai turun. Hal ini terjadi karena kegiatan pemerintah yang paling banyak mendorong MICE di hotel,” kata Ferry Salanto, Head of Research Colliers Indonesia dalam Colliers Virtual Media Briefing Q1 2026.
Selain pemerintah, melemahnya pasar ini juga didorong oleh berkurangnya kegiatan MICE yang dilakukan korporasi atau pihak swasta. Ferry memprediksi, banyak korporasi yang melakukan efisiensi anggaran untuk melakukan meeting atau event lainnya di hotel pada tahun ini. Hal ini dilakukan untuk menjaga cash flow perusahaan di tengah dinamika dan kondisi geopolitik global saat ini.
Di tengah kondisi tersebut, hotelier mulai mengubah strateginya dalam mendapatkan bisnis untuk menggantikan pasar MICE. Hotel mulai beralih atau fokus kepada paket staycation yang mengandalkan wisatawan domestik dan regional sebagai sumber permintaan baru.
“Fokusnya sekarang akan bergeser ke domestik karena saat ini pasar internasional sedang terganggu dengan kondisi geopolitik. Semua ini saling berhubungan karena geopolitik menyebabkan krisis energi dan membuat biaya operasional pesawat naik. Imbasnya harga tiket pesawat naik dan berdampak juga dengan kinerja hotel,” jelasnya lagi.
Tak hanya mengalihkan pasar, sejumlah hotel juga mulai menerapkan strategi efisiensi untuk menjaga kinerja. Hal ini dilakukan untuk menekan biaya operasional yang meningkat di tengah melemahnya permintaan.
“Tekanan seperti ini diprediksi dapat berlanjut hingga pertengahan 2026 sehingga hotel harus memperketat efisiensi. Kondisi seperti ini memang mengharuskan hotel untuk adaptif,” Ferry menambahkan.
Ferry menjelaskan, beberapa hal yang bisa diadaptasi hotel dalam kondisi seperti ini adalah dengan menyesuaikan jumlah kamar yang harus beroperasi. Selanjutnya, pihak hotel harus mengoptimalkan kerja staf baik yang tetap maupun kontrak agar terjadi efisiensi operasional.
“Mereka juga harus menerapkan langkah-langkah pengendalian biaya agar dapat menekan pengeluaran. Apalagi, kalau kita lihat pasar pemerintah yang menjadi penopang bisnis hotel diperkirakan tidak akan kembali lagi seperti sebelum pandemi Covid-19,” tutupnya.





