“Batas maksimal tamu dan staf hotel yang boleh masuk ke area hotel yaitu 37,5 derajat Celsius,” ujar Nurhayati.
Upaya pencegahan lainnya ialah dengan menyediakan hand sanitizer dan masker untuk staf dan tamu hotel. Kedua barang tersebut tersedia di area lobi, ruang pertemuan, restoran, koridor, hingga area kerja staf.
Selain itu, pengolahan makanan dan minuman juga dilakukan dengan pengawasan yang lebih ketat. Vendor bahan pangan dilakukan secara selektif untuk menyajikan kualitas makanan yang terbaik. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa seluruh produk yang disajikan layak untuk dikonsumsi seluruh tamu hotelnya.
“Ini juga sebagai upaya kami untuk menjaga kesehatan dan meningkatkan imunitas tubuh agar terhindar dari virus tersebut,” dia menambahkan.
Selama pandemi ini berlangsung, Nurhayati membatasi kegiatan berkumpul di beberapa titik area, seperti restoran. Saat ini, area restoran hotel hanya dibuka pada pukul 07.00 hingga 22.00, dengan pemesanan terakhir pukul 21.00 WIB.
Bahkan, pihak hotel menawarkan dua opsi pilihan terkait penyediaan sarapan di Swiss-Cafe Restaurant. Pilihan pertama makanan diantarkan langsung ke kamar masing-masing tamu dan pilihan kedua tetap makan di restoran tetapi dengan jarak yang ditentukan.
“Saat ini buffet breakfast sudah kita tiadakan, jadi para tamu bisa pilih makanan a la carte. Tapi, buat tamu yang mau makan di restoran langsung masih boleh, dengan syarat jaga jarak satu sama lainnya,” ucapnya lagi.
Untuk terus berupaya membatasi kegiatan berkumpul di area hotel, Nurhayati juga memberlakukan sistem Work From Home (WFH) bagi para stafnya. Beberapa karyawan diminta secara bergantian untuk melakukan WFH agar terhindar dari COVID-19 yang terbawa saat berada di luar area hotel, misalnya saja saat menggunakan alat transportasi umum atau fasilitas publik lainnya.
“Tidak bisa kita lakukan sekaligus WFH-nya karena harus ada yang in-charge di area hotel dan sistem ini hanya berlaku untuk karyawan yang bekerja di back office saja,” ungkapnya.





