Antisipasi Berita Hoaks, Literasi Media Diperlukan

Tuesday, 27 July 21 Venue

Banyaknya informasi yang tersebar di internet membuat masyarakat semakin sulit membedakan mana informasi dari media yang terpercaya dan mana yang abal-abal. Menurut Tasaro GK, Penulis dan Pendiri Kampoeng Boekoe, hal itu menjadikan niat yang tadinya ingin memberikan informasi yang dipercaya benar, malah menjadi penyebar berita salah.

“Zaman sekarang, masyarakat kebingungan untuk menentukan berita yang benar-benar fakta atau hoaks,” kata dia dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Senin (26/7/2021). Jika sudah demikian, lanjut dia, bersiaplah dengan gangguan informasi seperti hoaks yang merajalela.

Menurut Tasaro, masyarakat Indonesia harus memahami betapa pentingnya literasi media agar tidak termakan kabar hoaks. Apalagi, masyarakat menjadi sasaran media massa untuk menyebarluaskan kabar berita.

BACA JUGA:   Manfaat Membuat Konten di Dunia Maya

Melalui literasi media, lanjut dia, masyarakat menjadi kritis, peka terhadap informasi media massa, serta mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas intelektual. “Intinya, literasi media adalah aktivitas yang menekankan aspek edukasi di kalangan masyarakat agar mereka tahu bagaimana mengakses, memilih program yang bermanfaat dan sesuai kebutuhan yang ada,” tuturnya.

Dia mengatakan, agar tidak termakan berita hoaks, masyarakat diminta untuk skeptis terhadap sebuah informasi. Pemahaman tentang literasi digital pun sangat penting untuk menangkal hoaks dari media abal-abal.

“Karena literasi digital merupakan sekumpulan kompetensi fungsional dan kritis mulai dari mengakses hingga melakukan aksi secara kolaboratif, positif dan masif di ekosistem digital. Sehingga kita harus melakukan perlawanan (terhadap hoaks) dengan cara menyunting itu dengan sikap skeptis, buat daftar periksa akurasi, jangan berasumsi cepat, hingga berhati-hati dengan sumber anonim,” ujar Tasaro.

BACA JUGA:   Berita Hoaks Bertebaran, Begini Mengidentifikasinya

Informasi hoaks, kata dia, sesungguhnya cukup mudah dikenali melalui ciri-cirinya. “Berita hoaks biasanya dari media abal-abal yang tidak/belum terverifikasi Dewan Pers, judulnya heboh dan provokatif, foto yang dipakai tidak baik kualitasnya, kerap catut nama tokoh atau lembaga tertentu yang bisa saja fiktif, dan biasanya tidak diberitakan di media kredibel,” katanya.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

BACA JUGA:   Kemampuan Digital Plus Norma, Kunci Berinteraksi Di Dunia Siber

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).