Garap Promosi Wisata dan Budaya Melalui Go Digital

Saturday, 04 December 21 Venue

Saat ini, era digital bisa menjadi pendorong semua sektor untuk go digital, tak terkecuali bidang kebudayaan. Hal itu dikatakan Adestya Ayu Armielia, Hotel Operations Deputy Head di Universitas Multimedia Nusantara dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat (03/12/2021).

“Dunia digital yang telah menyediakan apa saja untuk dapat diinformasikan ke khalayak luas penjuru dunia itu dapat dimanfaatkan menggarap promosi sektor budaya,” kata dia. Sehingga, lanjut Adestya, setiap orang yang terakses internet di dunia bisa melihat dan mempelajari serta mengapresiasinya.

“Syaratnya, setiap pengguna digital juga melek budaya dan produktif dalam berkarya serta menyebarkannya,” ujarnya.

Adestya mengatakan, kita bisa mempromosikan budaya melalui media digital untuk bidang apa pun seperti kuliner, situs sejarah, tradisi, hingga fashion. Untuk kuliner misalnya, bisa diangkat secara menarik tentang lumpia khas Semarang. Mulai dari produksinya, bahan-bahan yang digunakan, hingga pengemasan, cara penyajian dan cita rasanya.

“Promosi budaya juga bisa mengambil satu konsentrasi ke soal tradisi. Hal ini paling sering diangkat namun masih relevan digarap dengan pengemasan konten yang semakin menarik,” kata dia.

BACA JUGA:   Membentuk Budaya Digital yang Baik

Misalnya, lanjut Adestya, terdapat tradisi Subak yang sampai saat ini dipertahankan masyarakat Bali, juga tradisi Sekaten yang khas Jawa Tengah dan Yogyakarta. Subak, kata dia, menunjuk ke sistem infrastuktur irigasi dan manajemen pengairan sawah secara tradisional yang telah berlangsung sejak zaman dahulu.

Menurut Adestya, sebagian besar produk budaya Indonesia sudah terdaftar sebagai kekayaan bangsa. Namun dari jumlah budaya yang beragam itu masih relatif sedikit promosinya ke luar, khususnya melalui media digital.

“Ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama sebagai generasi digital yang juga pemilik kebudayaan-kebudayaan warisan leluhur itu. Mesti dipikirkan apa yang bisa kita lakukan sekarang dengan kemajuan digital itu untuk mempromosikan, menjaga, dan melestarikan produk budaya tersebut,” ujarnya.

Menurutnya, meskipun banyak situs budaya telah terdokumentasi namun tetap perlu dilestarikan dan dipromosikan. Ambil contoh Candi Borobudur yang merupakan satu keajaiban dunia, yang berlokasi di Magelang, Jawa Tengah.

“Bangunan Borobudur yang sangat besar dan megah telah dinobatkan sebagai candi Buddha terbesar yang ada di dunia oleh UNESCO. Juga, Candi Prambanan yang merupakan candi Hindu dan sering dikaitkan dengan legenda Roro Jonggrang-nya,” tuturnya.

BACA JUGA:   Gunakan Media Digital Untuk Promosikan Budaya Indonesia

Tak hanya itu, Adestya juga menyebutkan, situs lain seperti situs Sangiran, yang merupakan salah satu situs manusia purba yang terletak di dua wilayah: Kabupaten Sragen dan Kabupaten Karanganyar – Jawa Tengah, juga masih perlu sentuhan promosi media digital.

“UNESCO pun telah menetapkan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto sebagai warisan dunia pada 2019, karena cukup unik dan disebut-sebut mirip tambang batubara Belgia. Hal-hal seperti ini perlu digarap lagi promosinya oleh kita bersama,” katanya.

Menurut dia, pengguna digital tak akan kehabisan bahan dalam mempromosikan budaya Indonesia, karena terberkahi dengan keberadaan Indonesia sebagai negara multikulturalisme. Artinya, Indonesia memiliki keberagaman budaya sangat melimpah yang tersebar di 34 provinsi.

Adestya mengatakan, sebelum menggali dan mempromosikan kebudayaan melalui media digital, perlu memahami pula apa kebudayaan itu dan mengapa Indonesia disebut kaya soal ini. Dari satu unsur saja, misalnya kesenian, Indonesia sudah sangat kaya karena setiap daerah memiliki kesenian yang berbeda-beda dengan jumlah ribuan.

BACA JUGA:   Hoaks Bertebaran di Ruang Digital, Literasi Bisa Jadi Solusi

“Kebudayaan itu terdiri dari tujuh unsur, yakni: sistem bahasa, sistem pengetahuan, sistem organisasi kemasyarakatan, sistem teknologi, sistem ekonomi, sistem religi, dan sistem kesenian,” kata Adestya.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).