Kabar Bohong Marak Mewarnai Ruang Digital

Tuesday, 12 October 21 Venue

Terdapat satu kasus kabar bohong atau hoaks yang menginformasikan subsidi pulsa dan kuota internet untuk pembelajaran jarak jauh dari Kementerian Pendidikan dan Kebudyaan yang beredar di masyarakat belum lama ini. Informasi tersebut sempat heboh beredar melalui aplikasi percakapan WhatsApp.

“Hoaks yang beredar saat pandemi ini beragam, terutama terkait bantuan pemerintah dalam bentuk apa pun,” kata Eka Rini Widya Astuti, Ketua Program Studi S1 Desain Komunikasi Visual ITSNU Pasuruan, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Senin (11/10/2021).

Publik yang tak paham pun tak sedikit yang terkecoh, bahkan mengikuti anjuran berita palsu yang mengandung informasi yang sengaja menyesatkan orang dan tidak memiliki landasan faktual namun disajikan seolah-olah sebagai serangkaian fakta itu.

BACA JUGA:   Membentuk Ruang Digital Aman Untuk Anak

Menurut Eka, selama masa Pandemi Covid-19 sebaran hoaks atau informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya alias kabar bohong masih marak mewarnai ruang digital berbagai platform.

Oleh karena itu, Eka mengatakan, kebenaran dan keaslian berita sangat penting diteliti karena berita palsu dapat memberi kerugian serius bagi masyarakat. “Hoaks itu juga bisa mencemarkan nama baik, alat adu domba untuk memecah persatuan, bahkan memicu terjadinya peperangan,” tutur dia.

Untuk mengantisipasi agar tak menjadi korban hoaks, kata Eka, penting mengamankan diri dan sesama di ruang digital. “Untuk itu, masyarakat pengguna digital bersama-sama mulai belajar mengenali ciri ciri berita hoaks itu,” ujar dia.

Eka menuturkan, berita hoaks itu biasanya dibuat untuk menciptakan kecemasan, kebencian, permusuhan dengan sumber tak jelas dan tidak ada yang bisa dimintai tanggung jawab atau klarifikasinya. Tak hanya itu, berita hoaks juga biasanya berisi pesan sepihak, menyerang, dan tidak netral atau berat sebelah serta mencatut nama tokoh berpengaruh atau menggunakan nama mirip media terkenal.

BACA JUGA:   Tak Perlu Khawatir dengan Jejak Digital

“Berita hoaks kadang pula memanfaatkan fanatisme atas nama ideologi, agama, suara rakyat lewat judul dan pengantarnya provokatif dan tidak cocok dengan isinya,” kata Eka. Berita bohong itu, lanjut dia, juga memberi penjulukan serta dari pembuat minta supaya di-share atau diviralkan seolah didukung argumen dan data yang sangat teknis agar terlihat ilmiah dan dipercaya.

“Artikel yang ditulis biasanya menyembunyikan fakta dan data serta memelintir pernyataan narasumbernya, disertai manipulasi foto,” kata Eka.

BACA JUGA:   Masalah Bisnis Yang Umum Terjadi

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).