Kejahatan Terhadap Anak di Ranah Online

Friday, 02 July 21 Venue

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pernah mengungkap data tahun 2017-2019 di mana terdapat 1940 anak menjadi korban kejahatan online. Terdapat bahaya kejahatan di ranah online seperti predator anak di internet hingga child grooming.

Menurut CEO The F People, Rachel Octavia, kejahatan terhadap anak di ranah online bisa terjadi karena kurangnya pendidikan mengenai seksual sejak dini. “Sebagai orang Indonesia kita jarang diajarkan pendidikan seksual sejak dini karena ngomongin seksual itu hanya ketika akan menikah saja,” ujarnya saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat I, Selasa (29/6/2021).

Padahal menurutnya bila sudah mengajarkan pendidikan seksual sejak dini, maka anak tahu bahwa ada yang tidak boleh. Namun karena anak tidak tahu jadi anak diam aja. Membantu untuk menghentikan agar tidak terjadi berbagai kekerasan seksual di ranah online, maka pendidikan seksual sejak dini bisa jadi salah satu pencegahan.

BACA JUGA:   Rawan Kejahatan Digital, Ini Tips Aman Belanja Online

Pendidikan seksual sejak dini ini akan memberikan pemahaman tentang pendidikan seksual yang tepat, mengenai konsep tubuh bahwa anak punya otoritas atas tubuhnya dan orang lain. Bahkan orangtua sekalipun tidak boleh menyentuh apalagi meraba badan mereka tanpa izin. Anak-anak juga selalu punya hak untuk menolak hal-hal yang membuat mereka tidak nyaman.

Termasuk yang terjadi saat ini ada tindakan child grooming, yaitu sebuah upaya orang dewasa untuk membangun hubungan, kepercayaan, dan ikatan emosional dengan seorang anak atau remaja sehingga mereka dapat memanipulasi atau mengekspploitasi bahkan melecehkan korban.

BACA JUGA:   Gejala Kecanduan Internet Yang Harus Dihindari

“Di ranah digital ini termasuk juga memperhatikan anggota tubuh dan mendokumentasikan serta mendistribusikannya,” kata Rachel.

Berkaitan dengan itu, kekerasan seksual digital menurut Komnas Perempuan ada banyak jenisnya. Di antaranya cyber hacking melakukan peretasan dengan tujuan mendapatkan informasi, bahkan stalking atau menguntit, hingga cyber harassement yang berkaitan dengan perundungan sosial dengan komentar negatif, dan banyak jenis lainnya.

“Hati-hati mengunggah foto, menurut saya apapun yang kita unggah bisa di screen capture jadi yang namanya digital profile disalah gunakan. Bahkan google pun tahu aktivitas kita, akhirnya orang bisa berlaku jahat dengan kita,” kata Rachel.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

BACA JUGA:   Menghindari Kesalahan Saat Berpromosi di Medsos

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).