Kejamnya Cyberbullying

Friday, 30 July 21 Venue

Cyberbullying menjadi fenomena baru, terutama di kalangan anak-anak berusia remaja. Hal itu dikatakan

Muhammad Ridhol Mujikb, Tenaga Ahli Media Intelejensi Consultan Surabaya dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, Kamis (29/7/2021).

Cyberbullying lebih kejam dibandingkan bullying karena meninggalkan jejak digital seperti foto, video, dan tulisan,” kata dia. Dampak cyberbullying, kata dia, juga tergolong dahsyat karena mampu mengguncang psikologis seseorang.

Ridhol mengatakan, menurut survei yang dilakukan Microsoft tahun 2020 terhadap 58 ribu orang dari 32 negara, menempatkan Indonesia pada posisi paling rendah, yang artinya tingkat ketidaksopanan netizen Indonesia paling tinggi di kawasan Asia Tenggara. Banyaknya ujaran kebencian, cyberbullying, dan hoaks membuat netizen berperilaku tidak sopan di ruang digital.

BACA JUGA:   Tingkatkan Produktivitas, Ini Ragam Aktivitas di ‘Rumah Saja’

Hal ini diperjelas oleh data dari Kemendikbud tahun 2019 yang menyebutkankan 41 persen peserta didik melaporkan telah mengalami perundungan dengan berbagai jenis. Aksi perundungan melalui dunia digital diperkirakan semakin meningkat di tengah masa pandemi COVID-19 yang mengharuskan berbagai aktivitas harus dilakukan secara daring. Hal ini disebabkan kemudahan akses terhadap sosial media yang tidak mudah dikontrol sehingga menyulitkan pemantauan interaksi yang terjadi secara luring.

“Melalui berbagai platform media digital, setiap orang bisa melakukan interaksi dalam bentuk permintaan pertemanan, mem-follow, folback, say hello, menggunggah status, kepo terhadap status orang lain, nge-like, share, berkomentar, dan lain-lain,” tuturnya.

BACA JUGA:   Media Sosial Sebagai Sarana Menjangkau Pelanggan

Ridhol mengatakan, setiap orang juga dapat memiliki lebih dari satu akun di media sosial yang memungkinnya membuat akun samaran yang nantinya digunakan untuk melakukan tindakan-tindakan yang mengarah pada cyberbullying. Untuk menangani hal tersebut, dia memberikan tips bagaimana mencegah terjadinya cyberbullying.

Cyberbullying, kata dia, dapat dicegah melalui diet sosial media, yakni membatasi postingan atau tidak memposting hal-hal yang aneh; menggunakan nama asli bukan samaran; membatasi pertemanan dengan teman yang dikenal; mengunggah hal-hal yang positif dan bermanfaat; baca sebelum nge-like, baca komentar sebelumya sebelum berkomentar; pilih grup sesuai kebutuhan; saring sebelum sharing; dan tidak menyebar hoaks.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

BACA JUGA:   Jejak Digital Kejam, Hati-hati Bermedia Sosial

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).